
Broer Max Wilar dalam kenangan. (Istimewa)PRIORITAS, 6/2/2026 (Jakarta): Duka mendalam menyelimuti keluarga besar Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK) atas berpulangnya Broer Max Wilar, salah satu tokoh panutan dan pemikir yang selama ini dikenal berperan besar dalam perjalanan organisasi dan pemberdayaan Tou Kawanua.

Bagi dr. Roy G.A. Massie, MPH, PhD, fungsionaris DPP KKK Pusat dan juga Wakil Ketua Umum Gerakan Penerus Perjuangan Merah Putih (GPPMP), kepergian Broer Max meninggalkan jejak mendalam.
Ia mengenang pertama kali bertemu almarhum pada tahun 2007, saat awal dirinya bergabung di DPP KKK.
“Waktu itu saya masih pendatang baru, belum masuk kepengurusan. Saya melihat ekspresi wajahnya seperti sedang mengamati dan mengenali saya. Tapi, seperti biasanya torang orang Kawanua, suasana cepat cair dan langsung terasa kekeluargaan,” ujar Roy, ditemui saat melayat di rumah duka, Kamis (5/2/2026).

Sejak pertemuan itu, Broer Max menunjukkan karakter ramah, terbuka, dan penuh rasa ingin tahu. Ia berdialog panjang, bertanya banyak hal, dan memperlakukan siapa pun sebagai saudara. Salah satu momen paling diingat Roy adalah ketika Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) 2007 digelar. Roy yang ditunjuk memimpin sidang mendapat dukungan luar biasa dari Broer Max.
“Beliau menyiapkan seluruh administrasi sidang, termasuk surat keputusan yang saya tahu sudah ia susun berhari-hari. Bahkan ia membimbing saya bagaimana membaca keputusan dengan intonasi yang tepat saat di podium. Beliau bukan hanya memberi berkas, tetapi memberi kepercayaan diri,” kenangnya.
Sejak itu, interaksi keduanya semakin intens. Hampir setiap kesempatan, Broer Max mengajak berdiskusi dan berdebat mengenai banyak hal—mulai dari budaya Minahasa hingga penguatan SDM Tou Kawanua, termasuk bagaimana pengalaman belajar di luar negeri dapat diterjemahkan untuk kemajuan komunitas.
Bagi Roy, Broer Max bukan sekadar senior, tetapi sparring partner intelektual yang sulit dicari tandingannya.
“Beliau mengajarkan cara mempertahankan gagasan dengan argumen kuat tanpa kehilangan rasa hormat kepada lawan bicara. Teguh dalam prinsip, tetapi sangat humanis dan sederhana,” tutur Roy.
Ia menambahkan, perdebatan panjang yang kerap mereka lakukan selalu berkesan—dengan bahasa Manado, Indonesia, dan Inggris yang bercampur menjadi satu dalam dialektika yang hidup.
Kehilangan Broer Max, kata Roy, adalah kehilangan besar bagi keluarga besar KKK dan bagi dirinya secara pribadi. Ia menutup kesannya dengan doa dan penghormatan terakhir.
“Istirahatlah dengan tenang, Broer Max. Terima kasih atas setiap pelajaran, setiap diskusi, dan setiap dialektika—baik yang halus maupun yang kekeh. Selamat jalan kembali ke Rumah Bapa di Surga.” (P-bwl)

