Sebuah iven ibadah raya GMIM di Minahasa Utara (Minut). (‘Courtessy’ Stevi Christian/rp)
Sebuah iven ibadah raya GMIM di Minahasa Utara (Minut). (‘Courtessy’ Stevi Christian/rp)
PRIORITAS, 29/10/25 (Manado): Kerinduan banyak warga Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) agar Gereja Kristen terbesar di Indonesia Timur ini kembali pada konsep pelayanan dan tidak dipengaruhi unsur-unsur lain (utamanya politik dan ‘mamon’), terus bergulir di media sosial (Medsos). Kondisi obyektif lewat fakta nyata terjadinya ‘pergumulan’ luar biasa di level Sinode (yakni ‘diadilinya’ sang ketua serta sejumlah pentolan gereja akibat terjerat masalah ‘uang’), sangat memukul perasaan banyak anggota jemaatnya, juga warga Kristiani di negeri ‘beradab’ RI ini.
Mayoritas jemaat bahkan tak hanya berkerinduan menyangkut dikembalikannya Tata Gereja pada koridor pelayanan, orang-orang yang di Medsos itu menyebut dirinya jemaat dan cinta GMIM, pun mengusulkan beberapa nama yang dinilai pantas menakhodai sinode gereja terbesar kedua di Indonesia ini, jelang ‘suksesi’ Sinode GMIM.
Lantas, mencuatlah sejumlah ‘hamba TUHAN’ nama yang disebut-sebut layak tampil sebagai kandidat Ketua BPMS GMIM masa pelayanan selanjutnya. antara lain Pdt Janny Rende dan Pdt David Tular. Juga terselip nama-nama Pdt Hendry Runtuwene, Pdt Adolf Wenas, dan Pdt Joice Sondakh.
Kalem dan rendah hati
Pdt Janny yang sempat dipercayakan sebagai Plt Ketua Sinode GMIM (karena ketuanya, H Arina sedang ditahan aparat hukum), merupakan figur pelayan yang kalem, ketika menanggapi mulai munculnya dukungan jemaat terhadapnya.

Sosok Pdt Janny yang sederhana dan kalem. (Beritaprioritas/fr)
Sikap tak banyak berkomentar, bahkan kalem saat dihubungi Beritaprioritas via WA, menunjukkan kematangannya dalam meneduhkan suasana GMIM jelang suksesi Sinode.

Pdt Janny dalam sebuah iven ibadah syukur GMIM. (Beritaprioritas/rp)
Namun, ini bukan berarti dirinya tak siap jika dimandati. Karena prinsipnya, ‘hamba TUHAN’ itu harus siap melayani di medan dan situasi apa pun.
Karenanya, menanggapi suara-suara jemaat mendukungnya lewat Medsos, Pdt Janny yang terbilang senior memilih untuk bersikap tidak grusa-grusu.

Pdt Janny bersama jemaatNYA. (Beritaprioritas/rp)
Titik penting perjalanan sejarah GMIM
Sementara itu, ketika menanggapi banyaknya dukungan baginya (terutama via Medsos), Pdt David memang cukup kaget.
Kader GMIM yang sedang di Offenberg, distrik Deggendorf, Bayern, Jerman, lewat sebuah unggan video di akun Facebook miliknya pun menyampaikan “Salam Sejahtera bagi semua, terlebih di lingkungan Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM).”
Melalui video berdurasi 14 menit itu, Pdt David merespon suara-suara di Medsos, dengan menyatakan, titik baru GMIM bukan sekadar proses pergantian Ketua BPMS. “Bukan semata-mata mengganti ‘nahkoda kapal’, namun tidak (dibarengi) melakukan evaluasi tentang kebocoran-kebocoran dan kerusakan-kerusakannya”.

Pdt David Tulaar ketika sedang berkhotbah. (Dok/Ist-FB)
Bagi dirinya, akan lebih penting melakukan beberapa hal dari pada pergantian kepemimpinan.
Disebutnya, GMIM saat ini terpecah-pecah, polarisasi di tengah kehidupan para pendeta dan jemaat, yang sudah dimulai sejak konflik UKIT tahun 2006.
Malah, lanjutnya, polarisasi itu telah berkembang. “Antara lain oleh mereka yang dekat dengan kekuasaan dan orang yang jauh dari kekuasaan. Juga tentang pengelompokan pendeta dan diklasifikasi berdasarkan status dan kedudukannya.”
Belum lagi residu dari pertarungan politik yang masih mengakar dan menjadi kontradiksi di dalam gereja. Pertikaian politik itu juga meninggalkan bekas dalam citra pendeta.
“Pendeta dituduh materialistik, tak lagi mengutamakan pelayanan, hanya memperhatikan orang yang dekat dengan pemimpin Gereja. Yang hanya mementingkan kepentingan pribadi dan dirinya, mengorbankan orang yang tidak setuju dan sependapat dengan dirinya,” katanya tegas.
“Ada banyak korban yang posisinya di tengah pergumulan dan persoalan gereja itu. Ini tidak boleh ditutupi dan dihindari. Harus dibicarakan dan menjadi topik saat ini,” sambungnya, seperti dikutip dari manadopost.jawapos.com.
‘Merestorasi kapal’
,Karena itu menurut Pdt David, GMIM bukan membutuhkan pergantian nahkoda, tapi butuh untuk merestorasi kapalnya. “Saya menggunakan kata restorasi, karena GMIM dalam sejarahnya adalah gereja yang baik. Gereja Tuhan yang banyak sekali keberhasilan yang bermuara pada kemuliaan Tuhan,” ungkap dalam tayangan yang dikutip itu.

Pdt David yang gemar menulis dan membaca buku. (Dok/Ist-FB)
Namun, dia juga tak menampik jika GMIM gagal dalam mempertahankan nilai-nilai yang selama ini dipegang dan dihormati, sebagai nilai utama yang merupakan karakter maupun akar dari kehidupan Kristiani itu sendiri.
“Sehingga orang mulai meragukan apakah kesaksian Kristiani yang dipancarkan GMIM, benar-benar masih bersumber dan terinspirasi dari Tuhan Allah atau tidak?”
Sehingga, restorasi ini sangat penting. “Nilai-nilai identitas, prinsip-prinsip dasar dari apa yang kita sebut Gereja Masehi Injili di Minahasa harus kembali ditegakkan dulu. Tapi jalan ke arah itu, baru bisa dilakukan kalau terjadi rekonsiliasi di gereja ini,” tegasnya.
Harus diperdamaikan
Dirinya juga menegaskan, polarisasi didamaikan, pertikaian dan perbedaan di antara pendeta itu harus diperdamaiankan satu dengan yang lain.
“Sehingga semua dalam bahasa Paulus, berada dalam sehati sepikir. Artinya kita melihat tujuan yang sama dalam kehidupan Gerejawi yang harus bermuara pada kemuliaan Tuhan,” harap Pdt Tulaar.

Suasana pesta Paduan Suara ‘Big Choir’ GMIM di Minut. (Beritaprioritas/rp)
Terkini, kendati masih dalam proses peradilan karena dijadikan tersangka dugaan kasus dana hibah GMIM, ketua ‘non aktif’ Pdt Hein Arina ternyata masih menyatakan belum (‘mau’) mundur (dari posisinya sebagai Ketua Sinode. Ini sesuai dengan keterangan persnya seusai sidang di Pengadilan Negeri (PN) Manado, awal pekan ini.
Sementara itu, posisi Pdt Janny Rende sebagai Plt Ketua BPMS, terkini diteruskan Pdt Wenas selaku Pjs. (P*r/dg/rp/fr/jr)
No Comments