Tonton Youtube BP

Nyaris disuntik formalin dan dikremasi, wanita lansia malah hidup lagi

Jeffry Wuisan
28 Nov 2025 10:39
4 minutes reading

PRIORITAS, 28/11/25 (Bangkok):  Seorang wanita Thailand berusia lanjut usia (lansia) 65 tahun tiba-tiba hidup lagi, tepat ketika ritual kremasi (pembakaran mayat) dirinya akan dimulai di sebuah kuil di Nonthaburi di pinggiran Bangkok.

Wanita bernama Chonthirat Sakulkoo dari keluarga miskin itu, mengetuk pelan dari dalam peti matinya beberapa saat sebelum dibawa ke dalam ruang pembakaran.

Keluarganya harus menempuh perjalanan sejauh 500 km dengan membawa peti mati dan dokumennya, yang menyatakan dia telah meninggal,  sebelum staf kuil mendengar adanya ketukan dari dalam peti mati.

Pekerja kuil di Wat Rat Prakongtham, yang menyiarkan langsung video kremasi sebagai bagian dari layanan masyarakat, sedang mempersiapkan proses memindahkan jenazah,  ketika mereka mendengar ketukan tersebut.

Mereka lebih kaget lagi, saat melihat adanya pergerakan dari tubuh wanita yang sebelumnya sudah terbujur kaku.

Para pekerja langsung cepat-cepat membuka peti mati dan mendapati perempuan itu masih bernapas.

Ia  terlihat mengetuk-ngetuk pelan bagian dalam peti kayu.

Kepala biara tempat kremasi, memerintahkan agar perempuan itu segera dibawa ke rumah sakit terdekat.

Dua tahun terbaring

Dari informasi yang diperoleh Beritaprioritas.com, hari Jumat (28/11/25), perempuan tersebut ternyata telah terbaring di tempat tidur selama sekitar dua tahun dan kesehatannya terus menurun selama itu.

“Saya telah merawat adik perempuan saya selama tiga tahun. Petugas memberi tahu kami bahwa dia telah meninggal,” ujar saudara laki-lakinya, Mongkol Sakulkoo kepada The Bangkok Post.

“Semua dokumen telah dikeluarkan, jadi kami menempatkannya di dalam peti mati dan membawanya ke kuil untuk dikremasi”, jelasnya.

Mongkol mengatakan ia menemukan adik perempuannya tidak sadarkan diri di rumah mereka di provinsi Phitsanulok Sabtu lalu, yang menyebabkan kerabat dan pejabat desa percaya adiknya telah meninggal.

Kepala desa setempat juga sudah menandatangani dokumen standar untuk donasi peti mati – sebuah praktik lokal yang memungkinkan keluarga untuk mengambil peti mati dari yayasan amal.

Tubuh wanita Chonthirat Sakulkoo di dalam peti mati yang hanya diangkut dengan mobil pick up untuk dikremasi, namun ternyata ia hidup lagi. (theindependent)

Nyaris disuntik formalin

Mongkol juga sudah membawa jenazah adiknya ke rumahsakit untuk dijadikan donor organ sesuai pesan adiknya sebelum meninggal.

Untuk menghormati keinginan saudara perempuannya menyumbangkan organnya, Mongkol meninggalkan rumahnya sekitar pukul 3 pagi dan berkendara sekitar 500 km ke Bangkok, tiba di Rumah Sakit Universitas Chulalongkorn pada pagi hari.

Namun, petugas rumah sakit justru menolak menerima jenazah adiknya sebagai donor organ, karena dokumen-dokumen tidak sama dengan surat keterangan kematian resmi, yang diwajibkan hukum Thailand.

Karena tidak ada dokter yang menyatakan kematiannya, rumah sakit menolak menerima jenazah dan memerintahkannya untuk mendapatkan laporan otopsi.

Polisi di kantor polisi Yannawa kemudian mengarahkannya ke lokasi lain, untuk membuat laporan, sehingga proses selanjutnya tertunda.

Tubuh adiknya yang terbaring dalam peti juga nyaris disuntik dengan formalin, cairan bahan pengawet yang digunakan untuk memperlambat pembusukan jenazah sebelum pemakaman.

Beruntung Mongkol berubah pikiran dan memutuskan untuk membawa jenazah saudara perempuannya ke kuil Wat Rat Prakongtham, yang menyediakan layanan kremasi gratis.

Tetapi setibanya di kuil tempat kremasi,  bendahara kuil, Pairat Sudthup, menjelaskan mereka juga memerlukan surat kematian resmi sebelum kremasi dapat dilanjutkan.

Saat mereka sedang berbicara, terdengar suara ketukan pelan dari peti mati. “Saya agak terkejut, jadi saya meminta mereka untuk membuka peti mati, dan semua orang terkejut,” ujar Mongkol.

“Saya melihatnya membuka matanya sedikit dan mengetuk sisi peti mati. Dia pasti sudah mengetuk cukup lama”, katanya seperti dirilis media The Independent.

Hanya pingsan

Staf kuil tempat kremasi langsung menggunakan peralatan dasar untuk menilai tanda-tanda vital Ibu Chonthirat, sebelum mengatur transportasi darurat ke Rumah Sakit Bang Yai.

Dokter di rumah sakit juga memastikan wanita itu tidak menunjukkan tanda-tanda henti jantung atau gagal napas.

Sebaliknya, ia hanya menderita hipoglikemia ekstrem, kadar gula darah sangat rendah yang dapat menyebabkan ketidaksadaran (pingsan) parah dan mengancam jiwa.

Para dokter langsung menolongnya dengan memberikan infus dan sejumlah suntikan. Kondisi wanita itu cepat stabil setelah perawatan.

Staf rumah sakit memberi tahu keluarga,  wanita itu sudah cukup sehat untuk pulang ke rumah, meskipun dokter akhirnya memutuskan dia harus tetap diobservasi sedikit lebih lama sebelum kembali ke desanya di Phitsanulok.

Kasus ini telah menjadi viral di publik Thailand, tidak hanya karena sifatnya yang luar biasa,  tetapi juga akibat kesenjangan penanganan kesehatan bagi kaum miskin di desa-desa.

Tuan Pairat, yang telah mengawasi ribuan kremasi, mengatakan belum pernah menyaksikan hal seperti ini.

Ini adalah pertama kalinya seseorang yang dinyatakan meninggal dapat kembali sadar.

Rekaman kejadian tersebut, yang difilmkan staf kuil, diunggah di media sosial dan sudah diverifikasi pihak berwenang.

Rumah sakit, polisi, dan petugas kuil telah mengonfirmasi urutan kejadian, dari pernyataan awal kematian hingga pemeriksaan rumah sakit

Ibu Chonthirat kini tetap dalam kondisi stabil saat keluarganya bersiap untuk kepulangannya.(P-Jeffry W)

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Video Viral

Terdaftar di Dewan Pers

x
x