PRIORITAS, 3/10/26 (Buntok, Kalteng): Kabupaten Barito Selatan (Barsel), Kalimantan Tengah (Kalteng), menghadapi situasi darurat akibat kepungan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta krisis air bersih.
Per hari ini, Sabtu (3/10/26), berdasarkan pembacaan grafik harian, parameter kritis didominasi oleh partikel debu halus (PM10) yang mencatatkan angka 779 serta PM2.5 sebesar 586.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup (PPPL DLH)Kabupaten Barito Selatan, Resti Teluni, mengungkapkan hal itu melalui sambungan telepon kepada Beritaprioritas.com pada Sabtu (3/10/26).
Lebih lanjut ia menambahkan, berdasarkan data Stasiun Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Barito Selatan di Sanggu pada Sabtu 3 Oktober 2026 pukul 07:02 WIB, kualitas udara di wilayah tersebut berada dalam status BERBAHAYA dengan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) menyentuh angka 779.
Kondisi ini, katanya, diperparah oleh cuaca pagi dengan suhu 25,6°C dan tingkat kelembaban udara mencapai 94 persen.
Polisi gelontorkan 80 ribu liter air bersih
Di tengah ancaman pencemaran udara tersebut, warga juga dihadapkan pada krisis air bersih akibat sumur yang mengering. Menanggapi kondisi ini, jajaran Kepolisian Resor Barito Selatan bergerak cepat menyalurkan bantuan ke berbagai wilayah terdampak.
Kapolres Barito Selatan, AKBP Eko Mardianto, mengungkapkan bahwa dalam kurun waktu tiga pekan sejak dirinya memegang tongkat komando kepolisian setempat, pihaknya telah menggelontorkan puluhan ribu liter air bersih bagi warga yang mengalami kekurangan.
“Sudah sekitar 80 ribuan liter kami salurkan ke berbagai daerah di mana yang kekurangan air bersih,” ujar Eko, kepada Beritaprioritas.com, lewat telepon, Sabtu (3/10/26).
Ia melanjutkan, distribusi air bersih tersebut dijalankan secara bertahap bersama jajaran Polsek dan Bhayangkari. Selain mengirimkan air, Kapolres AKBP Eko Mardianto menyebutkan, misi kemanusiaan tersebut turut disertai layanan pemeriksaan kesehatan gratis serta pemberian vitamin bagi masyarakat yang rentan terdampak kabut asap dan kekeringan.
“Kami terus berupaya membantu masyarakat. Untuk daerah yang terjangkau oleh Polres, akan kami tangani langsung. Namun untuk wilayah yang sulit dijangkau, pendistribusian dilakukan oleh Polsek setempat. Upaya ini dilaksanakan secara bertahap sambil terus menyerap aspirasi dan masukan dari warga,” tegas Eko.
DPRD soroti kualitas air perusahaan
Di sisi lain,seperti dikutip dari Beritakalteng.com, penyaluran air bersih oleh pihak swasta, PT Multi Tambangjaya Utama (MUTU), memicu catatan kritis dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Barito Selatan.
Legislator setempat, Arbanu, meminta korporasi mengevaluasi mutu air bersih yang disalurkan kepada warga Desa Ugang Sayu agar layak digunakan untuk kebutuhan domestik maupun konsumsi.
“Kami sangat berterima kasih atas kepedulian PT MUTU yang rutin membantu warga. Namun, jika kondisinya demikian, untuk mandi dan mencuci saja masyarakat merasa kurang nyaman, apalagi dijadikan air minum,” tutur Arbanu, Kamis (1/10/26).
Komitmen PT MUTU bangun fasilitas air bersih
Kepala Desa Ugang Sayu, Kecamatan Gunung Bintang Awai, Supriadi, mengakui pasokan air tersebut sangat menolong desanya dan mengusulkan pembangunan embung jangka panjang.
Menanggapi hal tersebut, External Relation Department Head PT MUTU, Agus Karyawan, menyatakan pihaknya menyambut terbuka masukan dan berencana membangun sumur bor serta embung.
Pernyataan serupa disampaikan External Division Head PT MUTU, Arif Bunyamin, serta Legal Department Head PT MUTU, Hermansyah, yang memastikan manajemen menyiapkan skema pembangunan sumur bor beserta tangki penampungan di Desa Ugang Sayu dan Mangaris. (P-Ahmad Arbani)