Kebakaran Gunung Rinjani padam total, jalur pendakian Torean dan Senaru masih ditutup

Herling Tumbel
Jumat, 2 Oktober 2026
2 menit membaca

PRIORITAS, 2/10/26 (Mataram, NTB): Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Nusa Tenggara Barat (NTB) memastikan kebakaran hutan di kawasan Gunung Rinjani telah berhasil dipadamkan secara keseluruhan per 1 Oktober 2026. Kendati demikian, jalur pendakian via Torean dan Senaru hingga saat ini masih ditutup demi keselamatan pengunjung.


“Sebelumnya tim masih menemukan asap dari bara yang menyala di sekitar Resor Torean. Pemadaman terus dilakukan untuk memastikan tidak ada bara atau indikator api yang berpotensi memicu kebakaran kembali,” ujar Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai TNGR, Astekita Ardiarsito, di Mataram, Jumat (2/10/26).

Dikatakan, petugas gabungan dan tim asesmen memfokuskan penanganan terakhir di lokasi Birisan Nangka. Setelah api padam, petugas langsung melakukan pembersihan sisa bara (mopping up). Langkah ini krusial untuk memastikan tidak ada lagi titik panas (hotspot) yang tersembunyi di bawah permukaan tanah.

Kebakaran hutan yang melanda Bukit Setampol, Resor Torean ini pertama kali terjadi pada Selasa, 22 September 2026. Berdasarkan data sementara hingga awal Oktober, estimasi luas areal yang terdampak diperkirakan mencapai 1.098,75 hektare.


Pihak TNGR menegaskan, angka tersebut masih bersifat sementara. Luas pasti lahan terbakar akan terus diperbarui melalui pemetaan udara menggunakan drone serta verifikasi langsung di lapangan.

Tragisnya, petugas juga menemukan satu ekor ular piton dalam kondisi mati akibat terjebak kobaran api.

Alasan jalur Torean dan Senaru belum dibuka

Padamnya kobaran api tidak serta-merta membuat jalur pendakian langsung aman untuk dilewati. Tim asesmen TNGR saat ini masih terus memeriksa kondisi jalur pascakebakaran.

Evaluasi meliputi stabilitas medan dan lintasan pendakian, kondisi vegetasi di sekitar jalur, potensi pohon tumbang akibat strukturnya yang rapuh pasca-terbakar, serta titik-titik rawan yang membutuhkan perbaikan fisik.

“Kedua jalur belum digunakan sebagai pintu masuk maupun keluar pendakian sampai ada kebijakan lebih lanjut berdasarkan hasil evaluasi,” tegas Astekita.

Bagi wisatawan yang sudah telanjur membeli tiket pendakian (e-ticket) untuk Jalur Senaru, pihak pengelola memberikan kelonggaran. Calon pendaki diimbau untuk melakukan jadwal ulang (reschedule) atau mengalihkan rute perjalanan mereka melalui Jalur Sembalun.

Balai TNGR juga meminta masyarakat dan wisatawan untuk tetap waspada. Pengunjung dilarang keras mendekati lokasi bekas kebakaran, tidak membuat sumber api baru, dan wajib mematuhi seluruh arahan dari petugas di lapangan. (P-Ant/ht)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan