Paus Leo XIV desak umat dan Gereja harus bertobat

Jeffry Wuisan
Minggu, 27 September 2026
3 menit membaca

PRIORITAS, 27/9/26 (Lourdes): Pemimpin Katolik sedunia, Paus Leo XIV, mendesak umat dan gereja harus bertobat. “Hari ini, bukan besok, kita harus bertobat,” katanya.


Paus Leo mengemukakan hal tersebut ketika melakukan Misa Kudus di Lourdes, Perancis, hari Minggu (27/9/26), seperti rilis Vatican News.

Pada hari ketiga perjalanan apostoliknya ke Prancis, Paus Leo XIV merenungkan bacaan hari Minggu dengan menempatkan pertobatan sebagai inti dari khotbahnya.

Ia menjelaskan Tuhan menginginkan orang-orang untuk “membuka mata dan kembali kepada-Nya.”


Pertobatan, jelasnya, berarti meninggalkan jalan-jalan yang telah menyesatkan manusia dan memilih “jalan kehidupan.”

Menghubungkan seruan tobat ini dengan konflik dan penderitaan yang ada di dunia saat ini, ia bertanya: “Bagaimana mungkin hati kita tidak tergerak oleh konflik yang menyebar dan menghancurkan begitu banyak nyawa yang tidak bersalah?”

Namun, lanjutnya, akar kejahatan ditemukan di dalam hati manusia. “Oleh karena itu, hati manusialah yang harus berubah, dimulai dari hati kita sendiri”, jelasnya.

Paus Leo juga mengatakan seruan untuk bertobat itu berlaku untuk Gereja itu sendiri.

“Ia (Gereja) harus berani memulai dari dirinya sendiri,” katanya, menyerukan kerendahan hati dalam menghadapi “luka mendalam, ketidaksetiaan, dan kesalahan menyakitkan” Gereja.

Mengenali kesalahan, tambahnya, sangat penting untuk pertumbuhan spiritual.

Dihadiri 700 ribu orang

Sebelumnya, Paus Leo XIV juga menggelar misa terbuka
di Paris.

Ratusan ribu orang memadati Avenue des Champs-Élysées di Paris saat Paus Leo XIV tiba untuk Misa di luar ruangan, acara terbesar dalam kunjungan akhir pekannya ke Prancis.

Vatikan memperkirakan sekitar 700.000 orang datang untuk Misa siang hari di ibu kota Prancis itu. Jumlah itu lebih banyak dari 600.000 orang yang telah mendaftar sebelumnya.

Sebelum matahari terbit, kerumunan orang sudah berdatangan ke sepanjang jalan raya yang dipenuhi pepohonan, berdesakan di dekat pembatas, sambil melambaikan bendera Vatikan berwarna putih dan kuning.

Di dekat situ, polisi menutup jalan-jalan tempat Leo diantar dengan mobil kepausan terbuka dalam pemberhentian terakhir kunjungannya selama empat hari ke tiga kota di Prancis.

Kendaraan itu membawa Paus ke Place de la Concorde, tempat sebuah altar khusus telah dibangun untuk misa tersebut, dan ia disambut dengan kembang api dan sorak sorai dari orang-orang yang berkumpul.

Dari berbagai kepercayaan

Media The Independent melaporkan, meskipun pengamanan ketat menutup pusat kota Paris, kunjungan pemimpin Katolik itu, menarik orang-orang dari berbagai kepercayaan dan yang tidak beragama sama sekali untuk melihat Paus Leo XIV asal Amerika tersebut.

Seruan “Leo, Leo” dan “Hidup Paus!” bergema di sepanjang jalan dan kendaraan itu sering berhenti, dengan Leo memberkati bayi, anak-anak, dan penyandang disabilitas yang diusung para sukarelawan.

“Pesan Paus Leo melampaui umat Katolik; beliau berbicara tentang keadilan sosial,” kata Leontine Joseph, 42 tahun, seorang Katolik yang taat yang datang ke Misa bersama dua temannya yang berasal dari Maroko.

Selama kunjungannya yang berlangsung selama empat hari, Leo berupaya mendorong umat Katolik Prancis untuk tetap teguh dalam iman mereka “bahkan di tengah duri” dunia sekuler.

Semuanya dimulai pada hari Jumat dengan kedatangan dan doanya di katedral Notre Dame yang baru saja dipugar, kunjungan pertama seorang Paus sejak kebakaran dahsyat tahun 2019, dan berlanjut dengan doanya di tempat ziarah Katolik di Lourdes.

Peringatan kepada PBB

Paus Leo, dalam beberapa bulan terakhir dengan keras mengecam arah kepemimpinan global.

Dalam pidatonya pada hari Jumat di markas besar badan kebudayaan dan pendidikan PBB, UNESCO, di Paris, Ia memperingatkan PBB dan kelompok multilateral lainnya sedang dalam krisis.

Ia juga mengulangi seruannya yang sering ia sampaikan kepada dunia untuk mempertimbangkan kembali pengembangan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.

Kepada para pemimpin Prancis, Paus Leo mengemukakan bahaya AI dapat menciptakan masa depan di mana “surga mesin” mengambil alih kendali Bumi.(P-*/jw)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan