PRIORITAS, 13/7/26 (Moskow): Warga Rusia kini beralih menggunakan hewan kuda, karena sudah berbulan-bulan mobil mereka sulit mendapatkan bahan bakar minyak (BBM), akibat serangan pasukan Ukraina menghancurkan puluhan kilang minyak utama Rusia.
Informasi yang diperoleh Beritaprioritas.com dari media jaringan televisi Jerman, Deutsche Welle (DW), hari Senin (13/7), menyebutkan penduduk di daerah pedesaan Rusia kini membeli kuda sebagai pengganti mobil.
Saluran Telegram Mash Rusia mengutip peternak kuda yang melaporkan
permintaan kuda telah melonjak dalam beberapa minggu terakhir.
Permintaan sepeda juga meningkat tajam.
Pada bulan Juni, penjualan sepeda di pasar online CDEK Shopping meningkat sebesar 131% dibandingkan dengan bulan Mei dan pendapatan melonjak 263%, demikian perusahaan tersebut memberi tahu media Rusia Afisha.
Sepeda semakin dipandang sebagai alternatif pengganti mobil yang kini kesulitan mendapat bahan bakar minyak.
Selama berbulan-bulan pasukan Ukraina berhasil melakukan serangan pesawat nirwak pengebom dan meledakkan puluhan kilang minyak utama Rusia serta infrastruktur energi.
Serangan itu menyebabkan Rusia terjadi kelangkaan BBM di seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
DW juga menyebutkan, serangan Ukraina telah memicu krisis hebat bahan bakar di Rusia.
Laporan dari seluruh Rusia menunjukkan bagaimana warga menghadapi gangguan dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Sejumlah postingan di media sosial menunjukkan warga Rusia semakin tertekan dan marah karena mereka harus antri BBM berhari-hari.
Antrian mobil bahkan mencapai bermil-mil untuk mendapatkan BBM.
Karena kelangkaan bahan bakar semakin memburuk, orang-orang berkendara melintasi seluruh kota untuk mencari SPBU yang masih buka.
Warga menghabiskan malam di dalam mobil mereka dan menunggu kesempatan untuk mengisi bahan bakar.
Ketegangan sering kali meningkat, dengan perkelahian terjadi di antara orang-orang yang mengantre untuk mengisi bensin.
Kecilkan krisis
Beberapa pengguna media sosial menuduh pihak berwenang Rusia sengaja mengecilkan krisis.
Meskipun hampir sepertiga kilang minyak Rusia dilaporkan tidak beroperasi, pemerintah sebagian besar tetap diam, tulis Nina Ostanina, anggota Duma, majelis rendah parlemen, di saluran Telegram-nya.
"Mengapa menteri pertanian dan wakil perdana menteri yang bertanggung jawab atas sektor tersebut bungkam menjelang panen?" tulis Ostanina.
"Negara ini bisa kekurangan biji-bijian, yang, di bawah sanksi internasional, akan sama dengan hukuman mati", tegasnya.
Ukraina telah meningkatkan serangan pesawat tak berawak terhadap kilang minyak Rusia .
Pada 6 Juli, pasukan Ukraina menargetkan kilang Omsk, sekitar 2.500 kilometer (1.550 mil) dari perbatasan.
Ukraina kini telah menyerang 10 kilang minyak terbesar Rusia, dari wilayah Leningrad hingga Omsk.
Serangan ini semakin memperdalam krisis bahan bakar, yang telah menyebar di sebagian besar wilayah Rusia.
Kapal-kapal juga diserang
Tidak hanya kilang minyak, Ukraina juga menyerang kapal-kapal minyak Rusia.
Hanya dalam satu minggu, Ukraina menghancurkan atau melumpuhkan 105 kapal Rusia yang beroperasi di Laut Azov dan Laut Hitam.
Sejumlah pengamat internasional menilai Ukraina melakukan serangkaian serangan terisolasi dan lebih seperti kampanye sistematis untuk melumpuhkan logistik Rusia.
Ukraina berhasil menghancurkan kemampuan Rusia untuk memasok, menyediakan bahan bakar, memperkuat, dan mempertahankan pasukannya di medan perang.
Ukraina telah secara dramatis memperluas kemampuan serangan jarak jauh dan produksi drone-nya.
Alih-alih mengejar target individu, mereka sekarang menyerang seluruh jaringan pasokan: kapal tanker, feri, kapal kargo, pelabuhan, dan infrastruktur bahan bakar.
Tujuannya bukan hanya untuk menenggelamkan kapal—tetapi untuk membuat Rusia semakin kesulitan akibat menginvasi Ukraina.
Bahkan jika tidak setiap kapal tenggelam, mengganggu pengiriman dalam skala ini dapat memiliki konsekuensi militer dan ekonomi yang sangat besar bagi Rusia.(P-*/jw)








