Rusia diduga bersiap serang tiga negara NATO

Jeffry Wuisan
Minggu, 27 September 2026
5 menit membaca

PRIORITAS, 27/9/26 (London): Central Intelligence Agency (CIA) atau Badan Intelijen Amerika Serikat pekan ini telah mengeluarkan peringatan,  Rusia sedang mempersiapkan serangan terhadap tiga negara North Atlantic Treaty Organization (NATO) yakni Spanyol, Prancis dan Italia dari laut.


Menurut informasi CIA, serangan awal Rusia kemungkinan besar menggunakan drone (pesawat nirawak) jenis Gerbera berbasis laut, yang dapat membawa bahan peledak untuk merusak infrastruktur penting di Spanyol, Prancis, dan Italia.

Drone Gerbera mampu membawa muatan sekitar empat hingga lima kilogram dan dapat menempuh jarak hingga 600 km (372 mil), serta terbang dengan kecepatan sekitar 160 km/jam.

Para pejabat Eropa mengatakan Rusia dapat mengintensifkan serangan hibrida di seluruh negara NATO atau Pakta Pertahanan Atlantik Utara dalam beberapa bulan mendatang.


Salahsatu negara anggota NATO, Lithuania, mengatakan Rusia dapat mencoba memperluas tekanannya terhadap negara-negara NATO melalui serangan terhadap infrastruktur penting termasuk pelabuhan atau bandara.

“Sejumlah pemerintah Eropa telah menerima informasi tentang dugaan rencana Kremlin (Rusia) untuk meningkatkan campur tangannya di benua itu”, kata sebuah sumber anonim yang dekat dengan kementerian pertahanan Lituania kepada surat kabar Spanyol, El Mundo.

Menurut laporan tersebut, pihak berwenang Lituania juga meyakini Rusia dapat menggunakan drone Gerbera yang bermuatan bahan peledak, untuk menyebabkan kebakaran, merusak peralatan yang terbuka, atau dapat menutup sementara pelabuhan atau bandara.

Provokasi semacam itu menyusul serangkaian laporan tentang serangan dan dugaan tindakan sabotase di seluruh Eropa Timur yang dituduhkan kepada Rusia.

Serangan-serangan tersebut hingga saat ini belum mencapai ambang batas keterlibatan militer langsung.

Terkait masa pemilu

Media Inggris, The Independent, mengungkapkan drone-drone diduga dari Rusia menargetkan pangkalan militer Inggris hampir setiap hari, membuat negara itu rentan terhadap ancaman yang semakin meningkat dari Rusia.

Spanyol, Prancis, dan Italia berpotensi menjadi target serangan di masa depan karena ketiga negara tersebut segera memasuki masa kampanye atau pemilihan umum yang dijadwalkan tahun depan.

Laporan tersebut juga mencatat adanya “kekuatan radikal” di dalam perbatasan mereka yang dapat mengeksploitasi rasa jenuh negara-negara Eropa terhadap Ukraina.

Lithuania dikabarkan mengetahui rencana tersebut setelah kunjungan direktur CIA, John Ratcliffe, ke Rusia.

Sumber diplomatik dari sebuah negara Baltik mengatakan kepada media Spanyol, El Mundo, mereka kemudian diberi pengarahan tentang perjalanan tersebut.

Beberapa analis pertahanan tanpa menyebutkan namanya mengatakan mengetahui adanya laporan CIA yang beredar di kalangan kementerian luar negeri Eropa tentang kemungkinan serangan Rusia.

Menurut laporan Reuters mengutip dua orang yang mengetahui masalah tersebut, Direktur CIA awal pekan ini juga bertemu dengan presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, di Bandara Shannon, Irlandia.

Teror hibrida Rusia

Menteri Luar Negeri, Lithuania, Kestutis Budrys, di sela-sela sidang umum PBB di New York mengatakan intelijen sekutu menunjukkan Rusia sedang mencoba memperluas tekanannya terhadap negara-negara NATO.

Tekanan itu melalui serangan terhadap infrastruktur penting dan bentuk-bentuk aktivitas teror hibrida lainnya.

“Ada beberapa pertimbangan dari pihak Rusia untuk meningkatkan eskalasi secara horizontal, atau bisa dibilang secara geografis,” kata Budrys.

Secara terpisah, dinas intelijen pertahanan Denmark dalam penilaian ancaman terbaru, juga menyebutkan Rusia akan meningkatkan perang hibrida dalam beberapa bulan mendatang.

“Dalam beberapa bulan mendatang, Rusia akan semakin mengintensifkan perang hibridanya dengan melakukan serangan yang lebih sering terhadap Barat dan NATO, dengan konsekuensi yang lebih besar bagi negara-negara yang terkena dampak daripada di masa lalu”, papar dinas intelijen pertahanan Denmark.

Serangan hibrida dan sabotase kembali mendapat perhatian setelah Jerman menyalahkan Rusia atas upaya serangan pesawat tak berawak di Bandara Leipzig/Halle.

Sebuah drone berisi bahan peledak ditemukan di dekat pesawat kargo Ukraina di sekitar landasan pacu di Bandara Jerman bulan lalu.

Seorang warga Belarusia dan seorang warga negara Rusia yang terkait dengan dinas intelijen militer negara tersebut, telah terdentifikasi sebagai tersangka utama dalam serangan bulan Agustus itu.

Menakut-nakuti Eropa

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, mengatakan Rusia berusaha menakut-nakuti Eropa, agar mengurangi dukungannya untuk Ukraina.

Kallas mengatakan Rusia tampaknya bersedia mengambil risiko yang lebih besar.

Karena itu, ia menyerukan kepada semua negara Eropa untuk meningkatkan tekanan pada Rusia melalui sanksi lebih keras, termasuk langkah-langkah yang menargetkan kapal-kapal armada bayangan dan kompleks industri militernya.

Menteri Luar Negeri Polandia, Radoslaw Sikorski , mengatakan serangan hibrida bukan lagi sekadar ancaman.

“Ini bukan sekadar ancaman. Ini adalah serangan nyata,” kata Sikorski mengutip pembakaran, ledakan, penyusupan drone Rusia.

Pihak Warsawa menilai Rusia sengaja melakukan pelanggaran atas wilayah Polandia menggunakan rudal jelajah.

Komando Operasional Angkatan Darat Polandia mengatakan pada hari Rabu sebuah helikopter militer Rusia Mi-8 melakukan pelanggaran ke wilayah udaranya dari eksklave Rusia Kaliningrad.

Wakil Perdana Menteri Polandia, Krzysztof Gawkowski, mengatakan kebakaran yang juga terjadi pada Rabu malam di stasiun komunikasi satelit Starlink di Polandia tengah, kemungkinan merupakan serangan hibrida, yang mengganggu konektivitas regional dan akses internet bagi militer Ukraina.

Meskipun belum dipastikan Rusia bertanggung jawab atas kebakaran tersebut, tetapi banyak tanda menunjukkan hal itu sejalan dengan doktrin serangan baru Rusia.

Rusia secara konsisten membantah melakukan operasi sabotase di negara-negara NATO atau merencanakan konfrontasi apa pun.

Direktur CIA, John Ratcliffe, mengunjungi Moskow akhir bulan Agustus lalu.

Ada informasi, CIA memberi peringatan langsung kepada Rusia agar jangan coba-coba melakukan tindakan ceroboh ke Eropa yang umumnya negara anggota NATO dan Amerika Serikat ada di dalamnya.(P-*/jw)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan