Korea Utara khawatir AS-Korsel buat persiapan serangan sungguhan

Jeffry Wuisan
Jumat, 14 Agustus 2026
3 menit membaca

PRIORITAS, 14/8/26 (Pyongyang): Korea Utara (Korut), sangat khawatir Amerika Serikat dan Korea Selatan membuat persiapan untuk melancarkan serangan sungguhan.


Republik Demokratik Rakyat Korea (DPRK) atau Korea Utara mengecam latihan militer AS dan dan Republik Korea (ROK) atau Korea Selatan pekan depan sebagai gladi bersih untuk agresi.

“Latihan militer gabungan antara Amerika Serikat dan Republik Korea (ROK) yang akan dimulai pada hari Senin, sebagai latihan untuk perang agresif,” demikian pernyataan juru bicara Kementerian Luar Negeri Korut, seperti dirilis Kantor Berita Pusat Korea Utara (KCNA), hari Jumat ini (14/8).

Hingga kini, Korea Utara masih menganggap tetangganya, Korea Selatan, adalah musuh bebuyutan.


Amerika Serikat dan Korea Selatan mengumumkan mereka akan menggelar latihan militer gabungan berskala besar dengan sandi Ulji Freedom Shield mulai 17 Agustus 2026.

Simulasi perang kali ini disebut sangat berbeda dibanding latihan lima tahun terakhir dan dimaksudkan untuk menguasai kemampuan berperang berdasarkan aspek-aspek baru peperangan modern.

Latihan perang sungguhan

Latihan tersebut diperkirakan melibatkan puluhan ribu personil dan peralatan tempur, termasuk pasukan AS, Korea Selatan, dan negara-negara anggota Komando PBB.

Militer AS dan Korsel akan melakukan manuver lapangan seperti latihan sebelumnya, Warrior Shield.

Kali ini AS dan Korsel lebih fokus pada perang sungguhan yang mensimulasikan lingkungan untuk operasi ultra-modern seperti perang drone, elektronik, dan siber.

Pihak Korut menilai, dengan melakukan hal itu, Amerika Serikat tidak menyembunyikan tujuannya untuk menyelesaikan persiapan konfrontasi militer yang substansial dengan Korea Utara.

“Latihan-latihan tersebut menimbulkan ancaman serius terhadap bidang keamanan negara kita dan lingkungan keamanan regional, karena sifat provokatif dan bahayanya yang lebih serius daripada tahun lalu”, jelas pihak Korut.

Korut mengakui koordinasi postur ofensif pasukan AS telah dimulai dengan sungguh-sungguh di seluruh dunia.

Karena itu, perluasan fleksibilitas strategis pasukan AS di Korea Selatan juga semakin serius, terutama kerja sama militer tiga pihak AS-Jepang-Korea Selatan yang berubah menjadi aliansi nuklir.

Hal tersebut bagi Korut, semakin menunjukkan betapa berbahayanya latihan-latihan tersebut, yang melibatkan semua aset militer dan mode peperangan AS dan Korea Selatan.

Perang Korut-Korsel

Kedua negara pernah terlibat perang hebat pada 25 Juni 1950 hingga 27 Juli 1953, ketika Korut lebih dulu menyerang Korsel.

Militer Korea Utara waktu itu didukung China (Tiongkok) dan Uni Soviet (sekarang Rusia) melawan Korea Selatan yang didukung pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dipimpin Amerika Serikat.

Gencatan senjata ditandatangani pada 27 Juli 1953, yang menghentikan pertempuran fisik tetapi tidak menghasilkan perjanjian damai resmi.

Selama gencatan senjata telah dibangun garis demarkasi (batas pemisah) di Panmunjom dan pasukan AS ikut ditempatkan di Korsel untuk mengawasi situasi tersebut hingga kini.

Meski begitu, Korea Utara, sering melakukan tindakan ‘teror’ ke Korsel dengan menembakkan rudal ke dekat laut Korsel.

Korut juga mengirim balon udara yang membawa tinja dan membuang ke wilayah pemukiman Korsel. (P-*/jw)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan