Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia dalam Konferensi Pers Kebijakan-Kebijakan Pemerintah dalam Menyikapi Kondisi Geopolitik Global yang diselenggarakan secara virtual di Seoul, Republik Korea, Selasa (31/3/26). (Dok/BPMI Setpres)
PRIORITAS, 25/6/26 (Jakarta): Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut mutu batu bara menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi keandalan pasokan listrik PT PLN (Persero).
Menurut Bahlil, kondisi tersebut turut berkontribusi terhadap terjadinya pemadaman listrik bergilir yang sempat melanda sejumlah wilayah di Pulau Jawa beberapa waktu lalu.
“Ternyata kita cek ada medium batu bara yang kalorinya di atas 5.000 untuk campur (blending). Inilah yang dibutuhkan (untuk operasional pembangkit),” kata Menteri ESDM di Jakarta, Kamis (25/6/26), dikutip dari Antara.
Menurut dia, kualitas batu bara yang tidak sesuai dengan standar kebutuhan PLN membuat pembangkit harus mengonsumsi batu bara dalam jumlah lebih besar untuk menghasilkan listrik sesuai kebutuhan.
Bahlil juga mengungkapkan, total kebutuhan batu bara untuk pembangkit listrik PLN setiap tahunnya mencapai sekitar 154 juta metrik ton (MT).
Berdasarkan ketentuan domestic market obligation (DMO) yang berlaku bagi eksportir batu bara, PLN berpotensi memperoleh pasokan sekitar 180-190 juta MT.
Selanjutnya Bahlil menyampaikan, PLN telah menerima sekitar 141 juta MT batu bara. Namun, pada Juni 2026, ia mendapat laporan, ketersediaan batu bara untuk kebutuhan pembangkit listrik mulai menipis.
“Artinya ini dari 1 Januari sampai dengan bulan Juni, dari 154 juta kurang 141 juta, itu kan berarti tinggal 13 juta. Masa batu bara habis di bulan enam? Ini ilmu apa lagi? Ya ini aku jujur-jujur saja nih, berarti kan ada sesuatu,” tuturnya.
Dapat diantisipasi
Bahlil menilai persoalan tersebut semestinya dapat diantisipasi dan ditangani lebih awal oleh PLN sehingga tidak berdampak pada masyarakat melalui pemadaman listrik bergilir yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
“Nah kalau pemerintah memberikan DMO, teknisnya kan (PLN), perusahaan, gitu. Jangan air sudah di batang leher baru teriak,” ujarnya.
Bahlil juga menegaskan, peristiwa serupa tidak akan kembali terjadi, seraya memastikan pemerintah akan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pasokan listrik nasional.
“Nah karena seperti itu, maka atas arahan Bapak Presiden, kami tidak ingin kejadian ini terulang lagi. Sekarang sudah jalan normal. Dari beberapa yang harus ekspor ke luar kita tahan, (penuhi) kebutuhan dalam negeri dulu,” imbuhnya.
Ia menambahkan, pemerintah turut melakukan pengawasan terhadap pengadaan batu bara untuk PLN agar permasalahan pasokan tidak kembali terjadi dan mengancam ketahanan energi nasional.
“Pengadaannya harus transparan. Dan saya minta aparat penegak hukum awasi supaya jangan kelakuan begini setiap tahun muncul terus,” ungkap Bahlil. (P-Zamir)