
Ustadz Abdul Somad dan Pdt. Lucky Rumopa.(Istimewa)PRIORITAS, 5/4/26 (Manado): Pendakwah kondang Ustadz Abdul Somad (UAS) mendapatkan sikap pro-kontra dalam rencananya ke kota Manado, Sulawesi Utara. Tanggapan pro-kontra itu datang dari masyarakat dan tokoh agama setempat. Salah satu tokoh, ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Utara, Pdt. Lucky Rumopa, memberikan saran demi menjaga toleransi dan agar kunjungan tersebut berjalan kondusif.

Dalam situasi tanggapan pro-kontra, Pdt. Lucky Rumopa menyampaikan, demi menjaga kerukunan dan rasa persaudaraan di “Bumi Nyiur Melambai”, ada baiknya UAS melakukan klarifikasi atau menyampaikan permohonan maaf. Ini terkait persoalan masa lalu yang sempat memicu kontroversi di tengah masyarakat Sulawesi Utara.
“FKUB tidak mempunya kewenangan untuk menolak atau menerima kedatangan Ustadz Abdul Somad (UAS) ke Manado. “Yang berwenang untuk menolak atau menerima adalah pemerintah daerah,” ujar Pdt Lucky Rumopa sebagaimana dilansir darir CahayaManado.com, Senin (04/06/2026).
“Jika memang beliau (UAS) jadi datang ke Manado, alangkah bijaknya jika ada sikap rendah hati untuk meminta maaf atas pernyataan-pernyataan di masa lalu yang sempat melukai perasaan sebagian masyarakat di sini,” tambah Pdt. Rumopa.

Menurutnya, langkah ini penting diambil sebagai bentuk penghargaan terhadap toleransi beragama yang selama ini terjaga dengan sangat baik di Sulawesi Utara. Ia menegaskan bahwa pada dasarnya masyarakat Sulut sangat terbuka dan menjunjung tinggi nilai keberagaman.
“Kita ingin semua pihak merasa nyaman. Permohonan maaf bukan berarti kalah, melainkan sebuah sikap kenegarawanan dan bentuk penghargaan terhadap kearifan lokal kita yang sangat menjaga toleransi,” tambahnya lagi.
Pdt. Rumopa juga berharap untuk mencegah sikap pro-kontra agar pihak penyelenggara kegiatan dapat berkoordinasi dengan baik bersama tokoh-tokoh lintas agama dan aparat keamanan. Hal ini diperlukan untuk memastikan situasi tetap sejuk dan tidak ada pihak yang merasa terprovokasi.
Sebagaimana diketahui, nama UAS sebelumnya sempat menjadi perbincangan hangat di Sulawesi Utara terkait video ceramah lamanya yang dianggap sensitif bagi sebagian kalangan. Meski begitu, FKUB Sulut tetap mengedepankan dialog dan perdamaian sebagai solusi utama dalam menyikapi setiap dinamika sosial yang ada.
Diketahui, penolakan terhadap ceramah-ceramah Ustadz Abdul Somad UAS di berbagai daerah di Indonesia, terutama di daerah mayoritas non muslim, umumnya didorong oleh kekhawatiran masyarakat setempat mengenai isi ceramah yang dianggap kontroversial, provokatif, atau tidak sesuai dengan prinsip keberagaman.
Berdasarkan laporan, beberapa alasan utamanya penolakan terhadapnya antara lain, ceramahnya dinilai segregatif dan ekstrem. Otoritas beberapa tempat (seperti Singapura pada 2022) menilai ceramah UAS menyebarkan ajaran segregasi (pemisahan) dan ekstremisme. Ini dianggap tidak dapat diterima dalam masyarakat multi-ras dan multi-agama.
Kemudian, pernyataan terkait simbol agama lain. Salah satu faktor utama penolakan di beberapa daerah di Indonesia, seperti Bali dan Papua, adalah adanya potongan video ceramah lama UAS yang membahas simbol agama lain Kristen dalam hal ini salib yang dianggap menyinggung penganut agama tersebut.
Lalu ada isu intoleransi dan provokasi. Beberapa kelompok masyarakat menolak kehadirannya karena menilai gaya ceramah UAS cenderung memecah belah persatuan bangsa dan kurang menjaga kondusivitas antarumat beragama.
Pro-kontra juga terkait kekhawatiran konsolidasi kelompok tertentu. Di beberapa wilayah, penolakan juga didorong oleh kekhawatiran akan terjadinya konsolidasi kelompok-kelompok yang dilarang pemerintah (seperti eks-HTI dan FPI), yang sering dikaitkan dengan narasi keagamaan tertentu.
Kemudian persepsi terhadap NKRI. Pihak yang menolak sering mempertanyakan komitmen kebangsaan UAS. Pihak penolak menuntut adanya jaminan bahwa ceramah tidak akan merongrong kedaulatan NKRI atau menyebarkan ideologi yang bertentangan dengan Pancasila.

UAS juga menimbulkan sikap pro-kontra di Singapura.(Courtesy: .cnbcindonesia.com)
Diketahui, beredar di media sosial dan media daring beberapa kelompok masyarakat di Sulawesi Utara yang menyataka sikap pro-kontra atas kedatangan UAS. Kelompok yang kontra antara lain Masyarakat Adat Minahasa. Beberapa kelompok masyarakat adat di Minahasa, Sulawesi Utara, menyuarakan penolakan keras terhadap kedatangan UAS, dan diramaikan dengan tagar #TOLAKSOMAD.
Lalu ada Forum Masyarakat Cinta Damai Citra Indah. Kelompok ini pernah menyatakan penolakannya dengan alasan menjaga ketentraman dan kedamaian. Selanjutnya Ormas adat. Berbagai ormas adat lokal juga menolak kehadiran UAS untuk menjaga stabilitas kerukunan di wilayah Sulawesi Utara.
Kemudian ada tokoh dan aktivis. Aktivis perempuan Sulawesi Utara, Nancy Angela Hendriks, menyatakan bahwa penolakan tersebut bertujuan untuk mencegah konflik, bukan didasari tindakan intoleransi.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak manajemen UAS maupun panitia penyelenggara terkait saran yang disampaikan oleh Ketua FKUB Sulut tersebut.(P-sem)

