Protes kelangkaan Solar, ribuan sopir dan buruh akan ‘lumpuhkan’ Manado

Admin
Sabtu, 2 Mei 2026
DAERAH Politik 0 1015
3 menit membaca

 


PRIORITAS, 3/5/26 (Manado, Sulut): Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day), di seluruh daerah baru akan berlangsung pada Senin, 4 Mei 2026. di Sulawesi Utara (Sulut) direncanakan akan diwarnai dengan aksi ribuan masa. Para sopir, pekerja dan buruh yang tergabung dalam Aliansi Dump Truck Sulut, bersiap turun ke jalan untuk menyuarakan protes terkait carut-marutnya distribusi solar bersubsidi yang kian mencekik mata pencaharian mereka.

Aksi tersebut, rencananya akan dipusatkan di Taman Kesatuan Bangsa (TKB), Manado. Ketua Aliansi Dump Truck Sulut, William Luntungan, mengatakan aksi para sopir ke jalan bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan puncak kekesalan atas sulitnya mendapatkan akses bahan bakar di sejumlah SPBU.



Dia menilai, ada ketimpangan yang mencolok dalam pola distribusi bahan bakar solar. Wil, sapaan akrabnya, menyoroti fenomena aneh hamper disetiap SPBU, mana kala stok solar bersubsidi seringkali ludes hanya dalam hitungan jam setelah SPBU dibuka.


“Baru beberapa jam dibuka, solar sudah habis, ini kan pola yang berulang,” kata Wil sembari menambahkan, “kami melihat ada kejanggalan serius, sehingga situasi ini tidak masuk akal jika distribusinya normal,” tegas Wil saat memberikan keterangan pada kepada wartawan, Senin (27/4/26).

Diterangkan, kondisi tersebut memicu dugaan kuat adanya praktik mafia solar yang bermain secara masif. Akibatnya, para sopir harus menghadapi antrian panjang setiap hari, yang kemudian berdampak pada berkurangnya waktu kerja dan anjloknya penghasilan mereka.

Pihaknya, secara terbuka mendesak aparat kepolisian untuk bertindak proaktif. Sebab, menurut Wil, berkaca pada efektivitas pengawasan lapangan yang pernah dilakukan sebelumnya yang terbukti mampu menekan penyimpangan.

Beberapa poin tuntutan dalam aksi aliansi, antara lain:
*Desakan untuk Polisi: Aparat diminta turun langsung menertibkan kendaraan-kendaraan yang diduga menjadi bagian dari jaringan mafia solar tanpa menunggu laporan formal.
* Kritik untuk Pertamina: PT Pertamina (Persero) dinilai gagal menjalankan fungsi pengawasan. Lemahnya kontrol dari perusahaan pelat merah ini dianggap memberi ruang luas bagi oknum untuk menyelewengkan barang subsidi.


Kekhawatiran para sopir kian memuncak seiring melonjaknya harga solar industri non-subsidi. William membeberkan data bahwa harga solar industri yang pada awal tahun berada di kisaran Rp20.000-an, kini telah merangkak naik hingga menembus Rp30.000 per liter.

Selisih harga yang sangat lebar antara solar subsidi dan industri ini diprediksi akan memperbesar insentif bagi para mafia untuk meraup keuntungan berlipat dengan cara ilegal. “Kalau harga industri makin mahal, godaan untuk ‘bermain’ makin besar. Ini yang harus dicegah sejak sekarang sebelum sistem distribusi kita benar-benar kolaps,” tambah Wil.

Aksi pada 1 Mei mendatang merupakan kelanjutan dari rangkaian perjuangan para sopir. Sebelumnya, Aliansi Dump Truck Sulut telah menggelar demonstrasi serupa di kantor DPRD Sulut dan Kantor Gubernur Sulut, namun hingga kini solusi konkret di lapangan dinilai belum terasa dampaknya bagi para pekerja transportasi lokal. (P/dl)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan