Angka kelahiran 50 tahun terakhir sesuai data BPS, turun tajam

Armin Mandika
Senin, 27 Juli 2026
HUMANIORA 0 219
2 menit membaca

PRIORITAS, 26/7/26 (Jakarta): Total fertility rate (TFR) atau rata-rata jumlah anak yang dilahirkan setiap perempuan Indonesia sepanjang masa, sebagaimana catatan  Badan Pusat Statistik (BPS), turun tajam lima dekade terakhir.


Seagaimana penjelasan Wakil Kepala BPS Sonny Harry Budiutomo, hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 menunjukkan TFR Indonesia kini mencapai 2,13 anak per perempuan usia reproduksi 15 hingga 49 tahun. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan awal 1970-an yang mencapai sekitar 5,6 anak per perempuan.

“Program keluarga berencana tidak langsung memberikan hasil ketika diluncurkan pada 1970 karena membutuhkan proses perubahan perilaku di masyarakat,” kata Sonny dalam program Naratama Kompas.com Senin (27/7/26).

“Dampaknya baru benar-benar terasa pada 1990-an ketika angka kelahiran mulai menurun,” katanya.


Dikatakan Sonny, penurunan TFR menunjukkan perubahan besar dalam pola keluarga masyarakat Indonesia. “Artinya, rata-rata keluarga Indonesia kini memiliki sekitar dua anak,” ujarnya.

Dijelaskannya, keberhasilan tersebut tidak lepas dari program Keluarga Berencana (KB) yang mulai dijalankan pemerintah pada awal 1970-an. Meski begitu, perubahan perilaku masyarakat dalam merencanakan jumlah anak membutuhkan waktu sehingga dampaknya baru terlihat sekitar dua dekade kemudian.

Meski angka kelahiran terus menurun, jumlah penduduk Indonesia tetap bertambah. Hal itu ijelaskan Sonny itu dipengaruhi fenomena population momentum, yaitu besarnya kelompok penduduk yang memasuki usia reproduksi secara bersamaan.

Kemudian, generasi yang lahir setelah 1990, cenderung mempertahankan pola keluarga kecil karena nilai-nilai program KB telah mengakar di masyarakat. Selain program KB, Sonny menilai peningkatan kualitas layanan kesehatan ikut mendorong penurunan angka kelahiran.

Dikatakannya, pada masa lalu, tingginya angka kematian bayi membuat banyak keluarga memilih memiliki banyak anak. “Sekarang kondisinya sudah berbeda. Akses layanan kesehatan, pemeriksaan kehamilan, hingga pelayanan ibu dan anak jauh lebih baik sampai ke tingkat desa,” katanya.

“Karena tingkat kelangsungan hidup anak semakin tinggi, masyarakat merasa dua anak sudah cukup dan tidak lagi merasa perlu memiliki banyak anak seperti generasi sebelumnya,” kuncinya.(P-*/am)

 

 

 

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan