
Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid bersama Menteri Transmigrasi M Iftitah Sulaiman Suryanagara dan Kepala Barantin Sahat M Panggabean melakukan penekanan tombol sirene dimulainya ekspor durian ke Tiongkok. (ANTARA/Moh Ridwan)PRIORITAS, 16/4/2026 (Palu, Sulawesi Tengah): Kinerja ekspor durian asal Sulawesi Tengah (Sulteng) menunjukkan tren yang sangat positif sepanjang awal tahun 2026. Hingga pertengahan April 2026, nilai ekspor durian dari daerah ini telah mencapai sekitar Rp377,5 miliar, dengan volume pengiriman mencapai 4.077 ton atau setara 151 kontainer yang dikirim langsung ke Tiongkok.

Capaian tersebut menempatkan Sulawesi Tengah sebagai penyumbang terbesar ekspor durian nasional, bahkan mendominasi hingga sekitar 88 persen dari total ekspor Indonesia pada periode yang sama.
Keberhasilan ini tidak lepas dari dibukanya jalur ekspor langsung dari Kota Palu ke Tiongkok setelah adanya kesepakatan antara pemerintah Indonesia dan otoritas bea cukai Tiongkok. Sebelumnya, ekspor durian harus melalui negara perantara seperti Thailand, Singapura, atau Vietnam.
Dengan jalur langsung tersebut, waktu pengiriman yang sebelumnya bisa mencapai 40–50 hari kini dipangkas menjadi sekitar 15–20 hari, sehingga biaya logistik lebih efisien.

Selain itu, harga jual durian juga mengalami peningkatan signifikan. Nilai produk dilaporkan bisa naik lebih dari 30 persen, bahkan dalam beberapa kasus selisih harga mencapai 10–20 persen dibandingkan produk dari negara pesaing.
Pemerintah bersama pelaku usaha juga terus mendorong ekspor lanjutan. Pada pertengahan April 2026, misalnya, dilakukan pengiriman tambahan sekitar 459 ton durian (17 kontainer) dengan nilai sekitar Rp42,5 miliar.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar menjadikan Sulteng sebagai pusat ekspor durian Indonesia ke pasar internasional, khususnya Tiongkok.
Untuk tahun 2026, pemerintah menargetkan ekspor durian Sulteng mencapai 8.100 ton dengan nilai sekitar Rp750 miliar.
Peluang pasar pun sangat besar. Permintaan durian di Tiongkok diperkirakan mencapai 8 miliar dolar AS (sekitar Rp137 triliun) per tahun, dan Indonesia menargetkan mampu merebut 5–10 persen pangsa pasar, yang berpotensi menghasilkan devisa hingga Rp6,4–12,8 triliun per tahun.
Dari sisi produksi, Sulawesi Tengah memiliki sekitar 3,7 juta pohon durian, dengan lebih dari 1,2 juta pohon sudah produktif. Total potensi produksi diperkirakan mencapai 95 ribu ton per tahun, dengan sentra utama di Kabupaten Poso dan Parigi Moutong.
Untuk menjaga kualitas dan keberlanjutan ekspor, pemerintah juga mendorong pembentukan satuan tugas, peningkatan sertifikasi kebun, serta pendampingan petani dari hulu hingga hilir.
Peningkatan ekspor ini diharapkan memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan petani durian di daerah. Dengan harga jual yang lebih tinggi dan akses pasar yang lebih luas, durian kini menjadi salah satu komoditas unggulan yang mampu memperkuat ekonomi lokal sekaligus berkontribusi pada devisa negara. (P-Sem)

