
Akhirnya khabar gembira itu datang juga. Presiden AS Donald Trump resmi membuka kembali Selat Hormuz secara permanen setelah mencapai kesepakatan dengan Presiden China Xi Jinping. (‘Courtessy’ Beritasatu.com/AP Photo/Altaf Qadri)PRIORITAS, 16/4/26 (Jakarta): Sebuah sumber terpercaya menyebutkan, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru saja mengumumkan kebijakan terbarunya untuk membuka kembali Selat Hormuz secara permanen, setelah ada kesepakatan dengan Presiden China, Xi Jinping.

Adapun pengumuman ini muncul di tengah situasi genting di mana jalur pelayaran vital tersebut sempat berada di bawah blokade militer ketat sejak awal pekan.
Dilaporkan, dalam pernyataannya melalui media sosial, yang dikutip The Independent, Rabu (15/4/26), Trump mengungkapkan, keputusan ini diambil setelah adanya komunikasi intensif dengan Jinping.
Selanjutnya Trump mengeklaim, pihak Tiongkok menyambut baik langkah tersebut.

Trump: “Saya melakukan untuk dunia”
Dikatakan, hubungan antara kedua pemimpin ini pun terlihat menghangat, bahkan Trump berseloroh, Presiden Xi akan memberikan pelukan hangat saat mereka bertemu secara resmi dalam beberapa minggu ke depan nanti.
“China sangat senang bahwa saya membuka Selat Hormuz secara permanen. Saya melakukannya untuk mereka juga – dan untuk dunia. Situasi ini tidak akan pernah terjadi lagi,” tulis presiden AS itu dalam sebuah unggahan di Truth Social miliknya.
China akan bersikap tegas terhadap Iran
Disebutkan pula, salah satu poin krusial dalam kesepakatan ini, ialah, kesediaan Tiongkok untuk mengambil sikap lebih tegas terhadap Iran, demikian dikutip Beritasatu.com.
Lalu, dari keterangan Trump, Beijing telah setuju untuk tidak mengirimkan bantuan senjata ke Teheran lagi.
Adapun komitmen itu dianggap sebagai langkah besar yang membantu menurunkan tensi konflik di kawasan tersebut, mengingat Tiongkok merupakan salah satu mitra dagang utama Iran saat ini.
Untuk kestabilan dunia
Kemudian Trump menegaskan, pembukaan Selat Hormuz bukan hanya dilakukan untuk kepentingan Amerika Serikat atau Tiongkok semata, melainkan untuk kestabilan dunia ke depan.
Sebab, Selat Hormuz merupakan jalur utama bagi pengiriman minyak mentah global, dan penutupannya beberapa hari terakhir telah memicu kekhawatiran akan krisis energi yang luas lagi.
Selanjutnya Trump berjanji, kekacauan seperti ini tidak akan dibiarkan terjadi lagi di masa depan nanti.
Sangat mencekam
Diketahui, sebelum pengumuman ini keluar, situasi di Selat Hormuz sangat mencekam. Dimana, blokade dimulai pada hari Senin (13/4/26) sebagai respons atas gagalnya pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, pada akhir pekan sebelumnya. Kegagalan tersebut awalnya memicu AS untuk mengambil tindakan militer yang lebih keras demi menekan posisi tawar Iran di meja perundingan tersebut.
Adapun selama masa blokade yang singkat tersebut, militer AS sempat mengeklaim telah mencapai keunggulan maritim total di Timur Tengah. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengerahkan berbagai aset tempur untuk menutup akses keluar-masuk pelabuhan-pelabuhan Iran tersebut.
AS tetap kirim ribuan tentara tambahan
Namun, meskipun Trump bicara soal perdamaian dan pembukaan jalur laut, laporan dari Washington Post menyebutkan, AS tetap bersiap mengirimkan ribuan tentara tambahan ke Timur Tengah. Hal ini mengindikasikan, meskipun jalur diplomasi sedang dibuka, Amerika Serikat tetap ingin menjaga posisi tawar mereka dengan kekuatan militer yang siap siaga. Kini, fokus dunia tertuju pada realisasi pembukaan selat tersebut dan dampak jangka panjang bagi keamanan global ke depan. (P-*r/Bst/se)

