Presiden Iran, Masoud Pezeshkian (kiri) dan Komandan IRGC, Brigjen Ahmad Vahidi, dilaporkan bertengkar soal kendali atas Iran.(drpezeshkian-iranstoday)PRIORITAS, 30/3/26 (Teheran): Iran mulai retak. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, bertengkar cukup hebat dengan Kepala Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Korps Garda Revolusi Islam, Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi terkait kendali atas Iran.
Perselisihan kedua pemimpin di Iran ini menandai semakin terkuak perpecahan dalam rezim, usai Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah petinggi militer tewas terbunuh dalam serangan AS dan Israel.
Informasi yang diperoleh Beritaprioritas.com, hari Senin (30/3/26), Presiden Iran Pezeshkian mengkritik tindakan ceroboh IRGC, yang meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah akibat serampangan menyerang negara-negara tetangga.
Sumber-sumber di Iran mengatakan, Presiden Iran juga kabarnya sangat marah karena akibat kebijakan kepala IRGC yang dinilai brutal, sehingga berdampak buruk bagi ekonomi dan sosial Iran.
Perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel saat ini justru semakin kompleks, sehingga dapat menyebabkan rezim Iran runtuh.
Pezeshkian tidak sependapat dengan cara IRGC, yang bisa memancing serangan balik negara-negara tetangga seperti Arab Saudi, Qatar, Oman, Bahrain dan Kuwait.
Ia memperingatkan hal tersebut akan berdampak sangat buruk dalam jangka panjang bagi perekonomian Iran yang sudah hancur terpuruk.
Laporan itu juga menyebutkan Presiden Pezeshkian telah menuntut agar keputusan eksekutif terkait perang, harus dibuat pemerintah Iran dan bukan IRGC. Namun tuntutan itu tidak diterima kepala IRGC, Brigjen Vahidi.
Sebagai tanggapan balik, IRGC malah mengkritik ketidakmampuan Pezeshkian untuk menerapkan reformasi struktural di Republik Islam, guna mengatasi beberapa masalah dalam sistem sebelum perang saat ini dimulai.
Titik kritis
Laporan ini muncul ketika ekonomi Iran yang sudah sekarat, terus didorong menuju kehancuran total setelah perang selama beberapa minggu.
Harga pangan tidak hanya naik dari hari ke hari, tetapi juga dari jam ke jam, dengan beberapa bahan pokok mengalami kenaikan setidaknya 50 persen dibandingkan dengan tingkat sebelum perang.
Iran International melaporkan, saat ini rakyat Iran sebenarnya semakin menderita dan menuju titik kritis, dengan harga pangan dan barang kebutuhan pokok melonjak tinggi akibat perang, sedangkan daya beli masyarakat anjlok.
Pabrik dan fasilitas produksi di Iran menghadapi kekurangan bahan baku yang akut dan sistem administrasi negara telah terganggu secara serius.
Pada saat yang sama terputusnya akses internet telah menghentikan banyak layanan publik.
Menurut angka yang dikutip lembaga-lembaga yang berafiliasi dengan negara dan beberapa ekonom, lebih dari 40 persen penduduk Iran sekarang hidup di bawah garis kemiskinan absolut, dengan angka tersebut melebihi 50% di ibu kota.
Inflasi tahunan mencapai 70 persen. Bahkan inflasi bahan pangan telah meroket di atas 80 persen.
Menurut kurs tengah pasar terbaru, depresiasi mata uang Iran, Rial, terhadap dolar jatuh sangat jauh ke rekor terendah. Untuk mendapatkan satu dolar AS, Iran harus mengeluarkan 1.315.600 rial.
Fluktuasi ekstrim mata uang Rial ini, menyebabkan impor bahan baku termasuk obat-obatan dari luar negeri menjadi sulit dilakukan.
Dipakai biayai Rudal
Sanksi AS dan internasional menjadi salahsatu penyebab utama ekonomi Iran makin sulit.
Sumber pendapatan ekonomi terbesar dari minyak anjlok, tetapi banyak anggaran negara justru terkuras karena dipakai untuk membeli dan membiayai peralatan serta persenjataan militer, terutama bahan peluru kendali (Rudal) termasuk membangun pangkalan-pangkalan bawah tanah.
Para analis luar kaget karena ternyata Iran hanya memboroskan anggaran untuk militer ketimbang kesejahteraan rakyatnya.
Hal itu dapat terlihat dari banyaknya situs-situs rudal, situs nuklir, dan pangkalan militer yang dibangun tersebar di Iran.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian sudah memberi peringatan bahaya kepada IRGC, jika eskalasi perang masih terus berlanjut
Dampaknya, ekonomi Iran akan runtuh dalam beberapa pekan dan rakyat yang susah bisa kembali memberontak seperti Januari 2026 lalu.
Kisruh terselubung antar pimpinan di Iran bisa menjadi bom waktu yang justru dapat menghancurkan Iran dari dalam, karena IRGC lebih dominan mengatur kendali negara ketimbang Presiden.
IRGC sengaja dibentuk Ayatollah Rohullah Khomeini setelah revolusi Islam Iran tahun 1979 yang menggulingkan Shah Mohammad Reza Pahlevi.
Ibarat pasukan bayangan, Khomeini sengaja membentuk IRGC yang harus loyal kepadanya, karena khawatir Angkatan Bersenjata Iran (Artesh), militer lama di bawah Shah, dianggap potensial melakukan kudeta terhadap rezim Ayatollah yang berbasis ulama.
Pada tanggal 16 Maret 2026, New York Times melaporkan Komandan IRGC de facto Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi adalah ‘dalang’ yang memaksa Mojtaba Khamenei menjadi Pemimpin Tertinggi Iran, yang hingga kini kondisinya tidak diketahui apakah masih hidup atau tidak.
Vahidi bersama mantan kepala Organisasi Intelijen IRGC Hossein Taeb, mantan Komandan IRGC Mayor Jenderal Mohammad Ali Jafari dan Ketua Parlemen Brigadir Jenderal IRGC Mohammad Bagher Ghalibaf, diduga ‘mengancam’ Majelis Pakar untuk memilih Mojtaba.
Keempat komandan IRGC ini, memang telah bekerja selama beberapa dekade di bawah mantan Pemimpin Tertinggi, Ali Khamenei, yang telah tewas dalam serangan AS-Israel di Teheran 28 Februari 2026 lalu.
Generasi pertama revolusioner Iran dan para pemimpin IRGC yang telah lama berkuasa ini, diduga ingin tetap berada di puncak hierarki rezim Iran.
Rekam jejak Brigjen Vahidi cukup kelam. Ia dicari Interpol atas pemboman pusat komunitas Yahudi (AMIA) di Buenos Aires, Argentina, pada tahun 1994 yang menewaskan 85 orang. (P-Jeffry W)