Perang hebat Pakistan dan Afghanistan berkobar gara-gara teror kelompok militan

Jeffry Wuisan
Sabtu, 28 Februari 2026
4 menit membaca

PRIORITAS, 28/2/26 (Islamabad): Perang hebat dua negara di Asia Selatan yang bertetangga, Pakistan dan Afghanistan, berkobar gara-gara teror kelompok militan yang sejak lama merongrong Pakistan.

Pihak militer Pakistan mengatakan puluhan serangan kelompok ekstrimis dari Afghanistan, telah menyebabkan ribuan orang tewas di Pakistan.

Akibatnya tahun lalu pecah perang antar kedua negara. Gencatan senjata sempat terjadi setelah serangan intensif selama beberapa hari pada bulan Oktober 2025 lalu. Tetapi kini, pecah lagi perang yang lebih hebat di kedua pihak.

Pakistan telah mengumumkan mereka kini berada dalam “perang terbuka” dengan pemerintah Afghanistan, yang dipimpin Taliban.

Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Muhammad Asif, membenarkan serangan ke Afghanistan tersebut. “Kesabaran kami telah habis. Sekarang ini adalah perang terbuka antara kami dan Anda (Afghanistan”, tegas Asif, seperti dikutip Beritaprioritas.com dari The Independent, hari Sabtu (28/2/26).

Pakistan melakukan serangan udara besar-besaran di kota-kota Afghanistan semalam, sehingga meningkatkan ketegangan di perbatasan,  yang telah berlangsung selama berbulan-bulan antara kedua negara Islam tersebut.

Serangan udara dan darat pada Jumat dini hari menargetkan pos-pos militer Taliban, markas besar, dan gudang amunisi di berbagai sektor di sepanjang perbatasan.

Hal itu terjadi hanya beberapa jam setelah Taliban lebih dulu melancarkan serangan udara terhadap pasukan perbatasan Pakistan.

 

Kerugian besar

Kedua belah pihak melaporkan kerugian besar dalam pertempuran tersebut, dengan Pakistan mengatakan telah menewaskan 133 pejuang Taliban Afghanistan dan melukai lebih dari 200 orang, dengan 27 pos hancur dan sembilan direbut, setelah berbulan-bulan terjadi bentrokan saling balas.

Sebaliknya juru bicara utama Taliban, Zabihullah Mujahid, mengatakan 55 tentara Pakistan tewas dan 19 pos direbut, sementara delapan pejuang Taliban tewas, 11 terluka, dan 13 warga sipil cedera di provinsi Nangarhar.

Ketegangan memburuk pada akhir pekan setelah Pakistan melancarkan serangan udara terhadap target militan di Afghanistan, yang menewaskan 13 warga sipil, menurut data PBB.

Sebelumnya, bentrokan perbatasan antara kedua negara menewaskan puluhan tentara pada bulan Oktober tahun lalu.

Negosiasi yang difasilitasi Turki, Qatar, dan Arab Saudi berhasil menghentikan peperangan dan gencatan senjata yang rapuh diberlakukan.

 

Tujuh lokasi

Militer Pakistan melancarkan serangan udara di dalam wilayah Afghanistan pada dini hari 22 Februari 2026, menargetkan kamp dan tempat persembunyian kelompok-kelompok militan bersenjata.

Pakistan menuduh ekstrimis Taliban di perbatasan Afghanistan itu, bertanggung jawab atas gelombang serangan baru-baru ini.

Kementerian Informasi dan Penyiaran Pakistan mengatakan angkatan bersenjata melakukan operasi terhadap tujuh lokasi yang terkait dengan Taliban Pakistan, yang dikenal sebagai Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP), dan afiliasinya.

Kelompok afiliasi ISIS di provinsi Khorasan, yang mengaku bertanggung jawab atas serangan bunuh diri di ibu kota awal bulan ini, juga menjadi sasaran.

Hanya beberapa jam sebelumnya, seorang pelaku bom bunuh diri menargetkan konvoi keamanan di Bannu, provinsi Khyber Pakhtunkhwa, menewaskan dua tentara, termasuk seorang Letnan Kolonel.

Pekan lalu, seorang pelaku bom bunuh diri lainnya, menabrakkan kendaraan berisi bahan peledak ke dinding pos keamanan di Bajaur terdekat.

Serangan itu menewaskan 11 tentara dan seorang anak. Para pejabat kemudian mengidentifikasi pelaku bom bunuh diri tersebut sebagai warga negara Afghanistan.

Pada tanggal 6 Februari 2026, seorang pelaku meledakkan bom saat salat Zuhur di masjid Khadija Tul Kubra di lingkungan Tarlai Kalan, Islamabad, menyebabkan sedikitnya 31 jamaah tewas dan 170 lainnya terluka.

Menurut Pusat Penelitian dan Studi Keamanan, sebuah lembaga kajian yang berbasis di Islamabad, lebih dari 2.400 anggota pasukan keamanan Pakistan tewas hanya dalam sembilan bulan pertama tahun 2025.

Hal itu menempatkan Pakistan pada jalur menuju tahun paling mematikan dalam satu dekade terakhir.

 

Titik panas konflik

Pakistan mengatakan pihaknya telah berulang kali menyerukan kepada otoritas Taliban Afghanistan, untuk membasmi kelompok-kelompok bersenjata yang beroperasi dari wilayah Afghanistan. Tetapi mereka gagal melakukan tindakan substantif apa pun.

Kementerian Pertahanan Afghanistan mengutuk serangan tersebut, karena mengenai sebuah sekolah agama dan rumah-rumah penduduk di provinsi perbatasan timur Nangarhar dan Paktika.

Puluhan orang tewas dan terluka, termasuk di kalangan wanita dan anak-anak.

Afghanistan menyebut serangan Pakistan itu sebagai pelanggaran hukum internasional dan prinsip-prinsip bertetangga baik.

Wilayah perbatasan Pakistan dan Afghanistan telah lama menjadi titik panas konflik.

Ketegangan antara kedua negara tetangga ini, semakin diperparah setelah Pakistan mendeportasi puluhan ribu pengungsi Afghanistan.

Sejak konflik berlangsung di Afghanistan selama beberapa dekade, setidaknya 3 juta warga Afghanistan telah mencari perlindungan di Pakistan, yang menciptakan gesekan tambahan antara kedua negara tetangga tersebut.(P-Jeffry W)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025