Pemimpin rezim Iran, Ali Khamenei (kiri) dan putranya Mojtaba (kanan) kini menjadi target AS untuk dilenyapkan.(defenceindex)PRIORITAS, 21/2/26 (Washington): Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kini menjadikan pemimpin rezim Iran, Ali Khamenei dan putranya Mojtaba Khamenei, sebagai target untuk dilenyapkan dalam serangan militer AS ke Iran.
Menurut informasi yang diperoleh Beritaprioritas.com hari Sabtu (21/2/2026), dalam berbagai opsi serangan ke Iran yang disiapkan Pentagon, ada kecenderungan Presiden Trump ingin menargetkan Ali Khamenei dan Mojtaba Khamenei, yang dipandang sebagai calon pengganti Ali.
Seorang penasihat Trump yang meminta identitasnya dirahasiakan mengakui kepada media Axios, opsi militer ke Iran memang termasuk membunuh pemimpin tertinggi Iran Khamenei dan Mojtaba Khamenei.
Mojtaba (56 tahun) harus ikut disingkirkan karena sebagai calon penerus potensial jika Ali Khamenei terbunuh atau lengser, seperti dirilis Turkiye Today.
Penasihat itu mengatakan Pentagon telah memberikan Presiden Trump “banyak pilihan.”
“Mereka punya rencana untuk setiap skenario. Salah satu skenario akan menyingkirkan ayatollah dan putranya serta para mullah,” ungkap penasihat itu.
Sumber kedua mengkonfirmasi rencana untuk membunuh Khamenei dan putranya, telah disampaikan kepada Presiden Trump beberapa minggu yang lalu.
“Trump juga masih mempertimbangkan berbagai opsi. Dia bisa memutuskan untuk menyerang kapan saja,” kata seorang penasihat senior Presiden AS.
Pada September 2025 lalu, Presiden Trump mengklaim dia mengetahui lokasi pasti Ali Khamenei berada, tetapi ia mengatakan belum memutuskan untuk membunuhnya.
Sembunyi di bunker
Media Iran International mengutip sejumlah sumber menyebutkan Ali Khamenei kini sering berpindah tempat setelah Presiden AS mengerahkan armada militer besar ke Timur Tengah.
Khamenei diketahui sering bersembunyi di sebuah bunker di ibukota Iran, Teheran, yang memilik jaringan terowongan ke tempat persembunyian lain.
Namun ia dideteksi sering dipindahkan ke bunker bawah tanah di Lavizan, timur laut Teheran.
Beberapa jam setelah Israel memulai serangannya terhadap Iran pada Juni 2025 lalu, seluruh anggota keluarga Khamenei, termasuk putranya Mojtaba, berada bersamanya di sebuah bunker di Lavizan.
Menurut sumber-sumber tersebut, selama operasi sebelumnya terhadap Israel, True Promise 1 dan True Promise 2, keluarga Pemimpin Tertinggi juga dibawa ke bunker tersebut.
Pada saat itu, Mojtaba mendampingi Ali Khamenei, tetapi dua putranya, Masoud dan Mostafa, tidak bersamanya.
Israel pernah membom tempat persembunyian Ali Khamenei di kota Mashhad, yang terletak 2.300 kilometer dari Negara Yahudi itu, untuk pertama kalinya.
Sebuah sumber diplomatik di Timur Tengah mengatakan serangan udara Israel di Mashhad tersebut, merupakan peringatan kepada Ali Khamenei, ia tidak aman di mana pun di negara itu.
Sumber diplomatik tersebut menambahkan Israel sebenarnya bisa saja melenyapkan Khamenei pada malam pertama operasi Juni lalu. Tetapi pemerintah Israel memilih untuk membiarkannya hidup agar, ia memiliki kesempatan terakhir untuk memutuskan apakah akan sepenuhnya membongkar program pengayaan uraniumnya.
Beberapa warga Iran percaya Khamenei sering dipindahkan melalui terowongan ke sebuah stasiun di luar ibu kota Iran, kemudian ke Mashhad, benteng kekuasaannya.
Kunci kekayaan Khamenei
Mojtaba Khamenei, diyakini akan menjadi penerus sebagai pemimpin tertinggi Iran, karena ia memegang ‘kunci’ kekayaan yang dikumpulkan Ali Khamenei selama ia berkuasa di Iran.
Menurut laporan Bloomberg baru-baru ini, mengutip investigasi selama setahun, Ali Khamenei, mengarahkan jaringan real estat luar negeri yang signifikan disamarkan melalui perantara.
Tidak ada aset yang tercatat langsung atas nama Mojtaba, tetapi ia telah aktif terlibat dalam berbagai transaksi setidaknya sejak tahun 2011, menurut penilaian intelijen Barat.
Sesuai keterangan orang dalam, catatan properti dan dokumen rahasia, portofolio tersebut mencakup properti mewah di London yang nilainya melebihi $138 juta (salah satunya dibeli seharga $46,5 juta pada tahun 2014), sebuah vila di distrik elit Dubai, dan hotel-hotel kelas atas di Frankfurt dan Mallorca.
Pendanaan, sebagian besar berasal dari penjualan minyak Iran, mengalir melalui bank-bank Inggris, Swiss, Liechtenstein, dan UEA melalui perusahaan cangkang seperti Ziba Leisure Ltd., Birch Ventures Ltd., dan entitas Emirat.
Bankir Iran Ali Ansari, yang dikenai sanksi Inggris pada bulan Oktober, muncul sebagai pemilik atau direktur dalam banyak transaksi.
Ansari membantah memiliki hubungan apa pun dengan Mojtaba dan berencana untuk menentang sanksi tersebut, menurut laporan itu.
Sanksi terhadap Ansari dijatuhkan karena diduga membiayai Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan membangun portofolio properti di Eropa senilai sekitar €400 juta, menurut investigasi Financial Times berdasarkan dokumen perusahaan.
Aset-aset tersebut mencakup properti mewah di beberapa negara Eropa, mulai dari resor golf di Mallorca hingga hotel ski di Austria.(P-Jeffry W)