2.117 WNI lari dari markas penipuan daring di Kamboja

Jeffry Wuisan
Jumat, 23 Januari 2026
3 menit membaca

PRIORITAS, 23/1/26 (Phnom Penh): Sebanyak 2.117 Warga Negara Indonesia (WNI) lari dari markas penipuan daring (online scamming) di Sihanoukville, Kamboja,  dan minta pelindungan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Phnom Penh.

Sesuai informasi yang diperoleh Beritaprioritas.com dari KBRI Phnom Penh, hari Jumat (23/1/2026), jumlah WNI tersebut,  hanya mereka yang datang dalam sepekan sejak 16 hingga 23 Januari 2026, untuk meminta bantuan dipulangkan ke Indonesia.

Angka tersebut diperkirakan masih akan terus bertambah dalam beberapa hari ke depan, setelah aparat hukum Kamboja melakukan operasi penangkapan besar-besaran terhadap bos atau gembong penipuan di kota pesisir Sihanoukville.

Beberapa hari sebelumnya jumlah WNI yang melarikan diri tercatat 1.726 orang, tetapi kemudian terus bertambah setiap hari.

Pada 22 Januari 2026 datang 224 orang dan pada Jumat 23 Januari hingga pukul 17.00 waktu setempat bertambah lagi 164 orang, sehingga total yang ditangani KBRI berjumlah 2.117 orang.

Lonjakan ini merupakan dampak langsung dari operasi keras yang dilancarkan pemerintah Kamboja untuk membasmi markas penipuan daring.

Ribuan warga asing, termasuk WNI, melarikan diri dari lokasi sindikat penipuan dalam sepekan terakhir ini.

Terlihat di beberapa kedutaan besar asing di Phnom Penh juga dipenuhi ratusan warganya yang meminta perlindungan untuk dipulangkan.

Polisi Kamboja menggerebeg bekas Kasino Galaxy World di Desa Phum 4, Sangkat 4, setelah lokasi tersebut digunakan untuk kegiatan penipuan daring.(cambodianess)

 

Dijebak sindikat

Mereka umumnya adalah orang-orang yang ingin mendapat pekerjaan dengan gaji tinggi,  tetapi malah dijebak dan disekap para sindikat untuk bekerja sebagai pekerja penipuan daring di Kamboja.

Duta Besar RI untuk Kerajaan Kamboja, Santo Darmosumarto, menegaskan KBRI terus mengupayakan percepatan kepulangan WNI.

“KBRI tengah berkoordinasi intesif dengan otoritas Kamboja, agar WNI mendapat kemudahan percepatan penerbitan exit permit dan keringanan hukuman keiimigrasian”, jelas Santo.

Proses pendataan, assesment kasus dan penerbitan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) bagi WNI yang tidak memiliki paspor juga terus dilakukan secara bertahap.

KBRI Phnom Penh telah mendapat dukungan Sumber Daya Manusia (SDM) tambahan dari Kementrian Luar Negeri.

Selain itu , dalam waktu dekat juga akan diperkuat tambahan petugas dan peralatan dari Ditjen Imigrasi.

Bagi WNI yang punya paspor dan visanya masih berlaku, sudah disarankan untuk membeli tiket secara mandiri.

Puluhan WNI tercatat telah membeli tiket dan akan segera kembali ke Indonesia dalam waktu dekat. Banyak WNI juga sudah kembali ke Indonesia tanpa memberi info ke KBRI.

KBRI Phnom Penh mengimbau kepada WNI untuk bersabar dan tertib dalam mengikuti seluruh proses kepulangan. “KBRI akan melakukan yang terbaik bagi setiap WNI yang memohon fasilitasi”, kata Dubes Santo.

Ini merupakan peningkatan tajam dibandingkan dengan tahun 2025, ketika KBRI menangani 5.088 kasus sepanjang tahun.

Dari jumlah itu, sebanyak 82 persen di antaranya melibatkan warga Indonesia yang mengaku terjebak dalam sindikat penipuan daring.(P-Jeffry W)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025