
Penyediaan 16 Juta Benih Kelapa 2026. (Ilustrasi/AI)PRIORITAS, 16/5/26 (Jakarta): Pemerintah saat ini menargetkan penyediaan 16 juta batang benih kelapa siap salur pada tahun 2026 sebagai bagian dari upaya mendukung program hilirisasi perkebunan nasional. Besarnya kebutuhan benih tersebut membuat proses pembibitan kelapa yang tepat dan berkualitas menjadi faktor penting agar program pengembangan kelapa dapat berjalan optimal.
Lalu, seperti apa proses penyediaan benih kelapa yang ideal?

Menurut peneliti senior pada Badan Riset dan Inovasi Nasional, Dr. Ir. Ismail Maskromo, M.Si, pembibitan kelapa pada dasarnya dapat dilakukan dengan dua metode, yakni menggunakan polibag maupun tanpa polibag.
Ia menjelaskan, penggunaan polibag memiliki sejumlah keunggulan, terutama dalam menjaga pertumbuhan bibit hingga umur delapan bulan atau lebih sebelum dipindahkan ke lahan tanam. Hal tersebut karena akar bibit tetap terlindungi di dalam polibag sehingga risiko kerusakan akar saat pemindahan dapat diminimalkan.
Sebaliknya, jika pembibitan dilakukan tanpa polibag, umur bibit umumnya maksimal hanya sekitar enam bulan. Semakin tua umur bibit, maka risiko akar terpotong saat proses pemindahan tanam akan semakin besar.
“Ada kondisi yang mengharuskan pembibitan kelapa menggunakan polibag, ialah ketika kualitas tanah lahan utama kurang baik atau bermasalah seperti lahan gambut, tanah masam atau berpasir ekstrem sehingga tidak ideal untuk mendukung pertumbuhan awal kecambah yang membutuhkan banyak unsur hara. Peran polibag di sini ialah membantu kontrol media tanam,” jelas Ismail sebagaimana dilansir dari mediaperkebunan.id.
Selain itu, penggunaan polibag juga sangat dianjurkan apabila diperlukan proses seleksi bibit yang lebih ketat. Dengan sistem tersebut, pengawasan terhadap pertumbuhan masing-masing bibit dapat dilakukan secara lebih mudah dan terkontrol.
Ismail menegaskan bahwa keberhasilan pembibitan kelapa tidak hanya ditentukan oleh penggunaan polibag atau tidak, tetapi juga sangat bergantung pada perlakuan, perawatan, dan pemeliharaan bibit secara menyeluruh.
Benih kelapa yang digunakan harus berasal dari pohon induk yang telah terseleksi, bebas dari serangan hama dan penyakit, memiliki ukuran buah normal, serta warna buah kecoklatan yang menandakan tingkat kematangan optimal.

Dalam proses pesemaian, pembibitan dilakukan secara generatif menggunakan buah kelapa yang terlebih dahulu disemai. Lokasi pesemaian juga harus memenuhi sejumlah syarat penting, seperti dekat dengan sumber air, memiliki lahan datar dan terbuka, berada dekat area penanaman, serta bersih dari gulma maupun gangguan lainnya.
Selain pemilihan lokasi, proses pengukuran dan penyesuaian bentuk lahan pesemaian juga perlu dilakukan sebelum masuk pada tahapan penyayatan benih, pendedaran, hingga pemeliharaan pesemaian.
Setelah benih mulai berkecambah, tahapan seleksi kembali dilakukan untuk memastikan hanya kecambah yang layak yang dipindahkan menjadi bibit.
Kriteria kecambah yang siap dipindahkan antara lain memiliki panjang tunas sekitar 3–5 sentimeter. Tahapan ini dinilai penting untuk menjamin kualitas pertumbuhan tanaman di lapangan nantinya.
Setelah kecambah dinyatakan layak, proses berikutnya adalah menyiapkan polibag apabila metode tersebut digunakan, atau menyiapkan lahan pembibitan jika dilakukan tanpa polibag.
Dalam penggunaan polibag, bagian bawah polibag perlu diberi lubang sekitar tiga baris. Jarak antar lubang sekitar 7 sentimeter dan jarak antar baris sekitar 5 sentimeter guna menjaga sirkulasi air dan mencegah genangan.
Media tanam yang digunakan pun harus berupa tanah gembur yang telah diayak agar pertumbuhan akar lebih optimal. Benih yang akan dimasukkan ke polibag juga harus melalui proses penyemaian terlebih dahulu hingga menjadi kecambah.
Sementara pada sistem tanpa polibag, kondisi lahan pembibitan harus benar-benar dipastikan sesuai, bersih, dan datar agar pertumbuhan bibit tidak terganggu.
Sementara itu, produsen benih kelapa asal Pangandaran, Hendy Kuswaya, menjelaskan bahwa berdasarkan pengalamannya sebagai penangkar sejak tahun 2014, metode pembibitan tanpa polibag lebih banyak digunakan karena dinilai lebih efisien, baik dalam pertanaman maupun pengiriman.
Menurut Hendy, benih kelapa pada dasarnya telah memiliki cadangan makanan sekaligus media tanam alami yang terdapat pada sabut kelapa.
“Jika menggunakan polibag akan ada selisih 50 persen lebih sedikit daripada tanpa polibag. Selain itu pengiriman juga lebih sulit karena bobot bibit menjadi lebih berat,” ujarnya.
Ia mengaku mampu menangkar hingga 30 ribu bibit setiap tahun dengan tingkat keberhasilan hidup mencapai 90 persen.
Hendy menilai penggunaan benih bermutu menjadi kunci utama keberhasilan pengembangan tanaman kelapa nasional. Menurutnya, kualitas target 16 juta benih kelapa yang disiapkan pemerintah tidak hanya ditentukan oleh jumlah produksi semata, tetapi juga oleh kompetensi para penangkar.
Selain itu, pembinaan dari dinas maupun instansi terkait serta ketersediaan benih sumber juga menjadi faktor penting dalam menjaga mutu bibit kelapa yang akan disalurkan kepada petani.
Dengan proses pembibitan yang tepat, pengawasan mutu yang ketat, serta dukungan penangkar berpengalaman, program penyediaan jutaan benih kelapa diharapkan mampu memperkuat pengembangan industri hilirisasi perkebunan kelapa di Indonesia.(P-sm)

