Wamen Ekraf lirik Cap Tikus 1978 di Tomohon, produk lokal Minahasa bisa tembus pasar internasional?

Sem Muhaling
Kamis, 13 Agustus 2026
5 menit membaca

PRIORITAS, 12/8/26 (Tomohon): Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Irene Umar melirik Cap Tikus 1978, produk lokal Minahasa saat mengunjungi Kai Meya di Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Kunjungan itu juga membuka pembahasan mengenai potensi produk lokal Minahasa dalam pengembangan ekonomi kreatif.


Irene datang setelah menghadiri rangkaian Tomohon International Flower Festival (TIFF) 2026. Ia mengunjungi Kai Meya pada Sabtu (8/8/2026), sekaligus berdiskusi dengan pelaku usaha lokal.

Kai Meya menjadi salah satu destinasi di Tomohon yang memadukan restoran, hospitality, glamping, dan panorama alam. Lokasi tersebut juga menawarkan pemandangan Gunung Lokon yang menjadi salah satu daya tarik kawasan.

CEO Kai Meya Carlina Tewu bersama jajaran manajemen dan staf menyambut langsung kedatangan Irene. Dalam kunjungan itu, Irene juga berdiskusi dengan PT Jobubu Jarum Minahasa Tbk.


Direktur Utama PT Jobubu Jarum Minahasa Tbk Carlo Brix Tewu hadir langsung dalam pertemuan tersebut. Perusahaan itu kemudian mempresentasikan sejumlah produk, terutama Cap Tikus 1978.

Presentasi tersebut tidak hanya membahas produk dari sisi komersial. PT Jobubu juga memperkenalkan sejarah, budaya, serta potensi pengembangan Cap Tikus sebagai produk khas Minahasa.

Cap tikus bukan sekadar minuman

Carlo Tewu menjelaskan bahwa masyarakat Minahasa telah mengenal nama Cap Tikus sejak abad ke-15. Karena itu, produk tersebut memiliki hubungan panjang dengan tradisi masyarakat setempat.

Sebelum nama Cap Tikus dikenal luas, masyarakat telah mengonsumsi minuman berbahan dasar aren. Tradisi tersebut kemudian berkembang seiring perjalanan masyarakat Minahasa dari generasi ke generasi.

Dalam perkembangannya, nama Cap Tikus semakin melekat sebagai salah satu identitas budaya Sulawesi Utara. Karena itu, pengembangan produk membutuhkan pendekatan yang tetap menjaga nilai sejarah dan budaya.

“Bagi PT Jobubu Jarum Minahasa Tbk, Cap Tikus 1978 bukan hanya sebuah produk, tetapi juga membawa cerita, sejarah, budaya, dan identitas Minahasa,” jelas Carlo sepert dilansir dari Manado.tribunnews.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa nilai sebuah produk lokal tidak hanya terletak pada bentuk dan kemasannya. Cerita yang melekat pada produk juga dapat menjadi kekuatan dalam membangun identitas dan daya tarik pasar.

Menuju produk ekonomi kreatif

Pengembangan Cap Tikus 1978 membuka peluang untuk menggabungkan budaya dengan industri kreatif. Strategi tersebut dapat meningkatkan nilai tambah produk lokal tanpa menghilangkan akar tradisinya.

PT Jobubu berharap nilai sejarah dan budaya tersebut tetap lestari melalui pengembangan produk. Pada saat yang sama, perusahaan ingin membawa produk lokal tersebut ke pasar yang lebih luas.

Karena itu, pengemasan menjadi bagian penting dalam pengembangan produk. Produk berbasis warisan budaya membutuhkan narasi yang kuat agar konsumen memahami nilai di balik produk tersebut.

Langkah tersebut juga dapat memperluas ruang promosi bagi produk lokal Sulawesi Utara. Selain melalui perdagangan, promosi dapat berjalan melalui pariwisata, hospitality, festival, dan berbagai kegiatan ekonomi kreatif.

Wamen Ekraf  buka peluang kolaborasi

Kunjungan Irene Umar menjadi momentum untuk mempertemukan berbagai sektor ekonomi kreatif. Pertemuan itu menghubungkan budaya, pariwisata, hospitality, serta produk kreatif lokal dalam satu ruang diskusi.

Kolaborasi tersebut penting karena pengembangan ekonomi kreatif tidak berjalan sendiri. Produk lokal membutuhkan dukungan promosi, destinasi wisata, jaringan usaha, serta inovasi agar mampu berkembang.

Kai Meya dalam konteks tersebut dapat menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan produk lokal. Pengunjung dapat mengenal produk sekaligus menikmati pengalaman wisata dalam satu kawasan.

Dengan pola seperti itu, produk lokal tidak hanya mengandalkan penjualan konvensional. Produk juga dapat memperoleh nilai tambah melalui pengalaman wisata dan cerita budaya yang menyertainya.

Potensi lokal Sulut dibidik lebih luas

Pertemuan Irene dan pelaku usaha juga membuka pembahasan mengenai potensi kekayaan lokal Sulawesi Utara. Pemerintah ingin melihat bagaimana kekayaan tersebut dapat berkembang menjadi bagian dari ekonomi kreatif.

Menurut informasi yang disampaikan dalam kunjungan tersebut, potensi lokal dapat dikembangkan agar memiliki daya saing lebih luas. Karena itu, inovasi menjadi salah satu faktor penting dalam proses pengembangan.

Produk lokal perlu memiliki identitas yang kuat sekaligus mampu mengikuti kebutuhan pasar. Dengan demikian, unsur tradisi tetap terjaga, sementara nilai ekonominya terus meningkat.

Kondisi tersebut membuka peluang bagi berbagai produk khas Sulawesi Utara lainnya. Tidak hanya minuman tradisional, tetapi juga kuliner, kerajinan, seni, fesyen, dan produk berbasis budaya.

Tomohon punya modal pariwisata

Tomohon memiliki posisi strategis dalam pengembangan ekonomi kreatif Sulawesi Utara. Kota tersebut memiliki daya tarik wisata, kegiatan festival, serta potensi industri kreatif yang dapat saling mendukung.

Pelaksanaan TIFF 2026 menjadi salah satu momentum untuk memperkenalkan potensi tersebut. Kehadiran Wamen Ekraf juga memberi ruang bagi pemerintah dan pelaku usaha untuk memperluas jejaring.

Karena itu, integrasi antara festival, destinasi wisata, dan produk lokal dapat menjadi strategi promosi yang kuat. Wisatawan tidak hanya datang menikmati acara, tetapi juga dapat mengenal produk khas daerah.

Pola tersebut sekaligus memberi peluang kepada pelaku ekonomi kreatif untuk memperluas pasar. Jika dikelola secara konsisten, wisata dapat menjadi pintu masuk bagi produk lokal menuju pasar nasional dan internasional.

Cap tikus 1978 incar pasar internasional

PT Jobubu melihat peluang besar untuk membawa Cap Tikus 1978 ke pasar internasional. Namun, peluang tersebut membutuhkan pengembangan produk yang tetap mempertahankan identitas Minahasa.

Narasi sejarah dan budaya dapat menjadi salah satu kekuatan promosi. Selain itu, kualitas produk dan strategi pengemasan harus mampu mengikuti kebutuhan pasar yang lebih luas.

Karena itu, pengembangan produk tidak cukup hanya mengandalkan cerita. Pelaku usaha juga perlu memperkuat inovasi, pemasaran, serta jejaring distribusi.

Kunjungan Wamen Ekraf menjadi sinyal bahwa produk berbasis kekayaan lokal memiliki ruang dalam ekonomi kreatif. Selanjutnya, kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha menjadi penting untuk mengubah potensi tersebut menjadi kekuatan ekonomi.

Dari Tomohon untuk ekonomi kreatif Sulut

Pertemuan di Kai Meya menunjukkan bahwa ekonomi kreatif dapat tumbuh dari kekayaan budaya daerah. Produk lokal, destinasi wisata, dan kreativitas masyarakat dapat saling memperkuat jika pemerintah dan pelaku usaha membangun kolaborasi.

Cap Tikus 1978 menjadi salah satu contoh bagaimana produk tradisional dapat memperoleh nilai tambah melalui pendekatan kreatif. Sejarah dan identitas Minahasa dapat menjadi bagian dari cerita yang menyertai produk tersebut.

Di sisi lain, Tomohon memiliki ruang yang kuat untuk mengembangkan ekosistem ekonomi kreatif. Festival, pariwisata, hospitality, dan produk lokal dapat bergerak bersama untuk menciptakan pengalaman yang lebih lengkap bagi wisatawan.

Karena itu, kunjungan Irene Umar tidak sekadar menjadi agenda setelah TIFF 2026. Pertemuan tersebut membuka ruang pembicaraan tentang masa depan produk lokal Sulawesi Utara dalam ekonomi kreatif.

Jika kolaborasi terus berkembang, kekayaan budaya Minahasa berpeluang memperoleh pasar yang lebih luas. Tantangannya kini ialah menjaga identitas lokal sambil meningkatkan kualitas dan daya saing produk di tingkat nasional maupun internasional. (P-sm)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan