

Donald Trump, Presiden AS (Courtesy: Theweek/Getty Images/AFP/Nicholas Kamm).

PRIORITAS, 3/5/2026 (Amerika/Washington): Presiden Amerika Serikat Donald Trump mempertimbangkan proposal damai terbaru yang diajukan Iran di tengah ketegangan hubungan kedua negara. Sikap ini menunjukkan adanya peluang terbuka bagi jalur diplomasi, meski opsi konfrontasi masih menjadi pertimbangan.
“Apakah kita ingin langsung menghabisi dan memusnahkan mereka selamanya atau kita ingin coba membuat kesepakatan?” tegas Trump, dikutip Beritaprioritas dari The New York Times, Minggu (3/5/2026).
Proposal tersebut merupakan tawaran kedua dari Iran setelah usulan sebelumnya ditolak oleh pihak Amerika Serikat. Pemerintah Iran menyampaikan dokumen tersebut melalui Pakistan yang berperan sebagai mediator dalam proses komunikasi kedua negara.

Media resmi Iran, Islamic Republic News Agency (IRNA), melaporkan bahwa proposal berisi 14 poin telah diserahkan untuk diteruskan kepada pemerintah AS. Isi rinci dokumen tersebut belum diungkap ke publik.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan prioritas negaranya dalam negosiasi adalah menghentikan konflik dan membangun perdamaian jangka panjang. Pernyataan tersebut menegaskan posisi Iran yang mendorong penyelesaian melalui jalur diplomasi.
Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyatakan keputusan kini berada di tangan Amerika Serikat. “Sekarang bola berada di tangan Amerika Serikat untuk memilih antara diplomasi atau melanjutkan konfrontasi,” ujarnya, dikutip dari laporan The New York Times.
Di sisi lain, Trump sempat menyampaikan keraguannya terhadap proposal tersebut. Ia mengaku belum menerima detail lengkap dan hanya memperoleh gambaran awal. Dalam beberapa kesempatan, Trump kembali menegaskan sikap tegas AS terkait program nuklir Iran yang dinilai tidak dapat diterima.
Isu pengembangan senjata nuklir menjadi salah satu titik krusial yang menyebabkan kebuntuan pada negosiasi sebelumnya. Iran tetap mempertahankan haknya dalam pengembangan nuklir, sementara AS menolak keras kemungkinan tersebut.
Meski pembicaraan sempat menemui jalan buntu, Trump diketahui telah memperpanjang gencatan senjata dengan Iran sejak 21 April 2026. Langkah ini diambil setelah adanya sinyal dari Iran terkait penawaran baru yang dinilai lebih terbuka untuk negosiasi.
Perkembangan ini menempatkan Amerika Serikat pada persimpangan strategis, antara melanjutkan tekanan atau membuka jalan kesepakatan damai melalui diplomasi. (P-Chris R)

