Seorang penambang buru-buru keluar dari lobang yang mulai tertimbun batu dan tanah dari atas bukit di sebuah tambang di Kongo, beberapa waktu lalu.(@anilvohra1962)PRIORITAS, 30/1/26 (Kinshasa): Sebanyak 227 orang tewas tertimbun longsor di tambang mineral Coltan (Columbite-Tantalite) di Rubaya di bagian timur Republik Demokratik Kongo.
“Lebih dari 200 orang menjadi korban longsor ini, termasuk penambang, anak-anak, dan pedagang wanita. Beberapa orang berhasil diselamatkan tepat waktu dan mengalami luka serius,” kata Gubernur provinsi Kivu Utara, Lumumba Kambere Muyisa.
Informasi yang diperoleh Beritaprioritas.com, hari Jumat (31/1//2026), lokasi tambang yang berada di bawah bukit terjal tersebut, mengakibatkan banyak penambang sulit melarikan diri ketika tiba-tiba terjadi longsor.
Peristiwa ini adalah yang kedua terjadi di lokasi tambang di Kongo. November tahun 2025 lalu sebanyak 80 orang juga tewas tertimbun akibat ambruknya lereng bukit dan mengubur para penambang.
Para orang yang tertimbun di tambang Kongo sulit diselamatkan secara cepat, karena umumnya rekan kerja yang selamat di lokasi mengandalkan peralatan tradisional sekop, bahkan sering hanya menggunakan tangan untuk menggali.
News Wire menyebutkan wilayah Rubaya menghasilkan sekitar 15% Coltan dunia, yang harganya mahal di belahan negara AS, Eropa, Jepang, China dan Rusia.

Orang-orang berkumpul di tambang Coltan, Rubaya, Kongo. Sebanyak 227 orang tewas tertimbun akibat longsor di lokasi tambang Coltan.(newswirelk)
Kendali pemberontak
Lokasi tersebut, tempat penduduk setempat menggali secara manual dengan upah beberapa dolar sehari, telah berada di bawah kendali kelompok pemberontak M23 (March23) sejak tahun 2024.
Longsor terjadi pada hari Rabu dan jumlah korban pasti yang masih tertimbun belum jelas hingga Jumat ini. Meskipun data terbaru dari seorang penasihat gubernur menyebutkan 227 sudah ditemukan tewas.
Ia berbicara dengan syarat anonim karena tidak berwenang untuk memberikan keterangan kepada media.
PBB mengatakan M23 telah menjarah kekayaan Rubaya untuk membantu mendanai pemberontakannya, yang didukung pemerintah Rwanda – sebuah tuduhan yang dibantah Kigali.
Para pemberontak itu bersenjata berat dan bertujuan menggulingkan pemerintah di Kinshasa dan memastikan keselamatan minoritas Tutsi Kongo.
Mereka telah merebut lebih banyak wilayah kaya mineral di Kongo timur selama serangan kilat tahun lalu.
Tambang-tambang tersebut menghasilkan bijih Coltan. Coltan yang diekstrasi menghasilkan logam tantalum dan niobium.
Keduanya dianggap sebagai bahan baku penting dan mahal di Amerika Serikat, Uni Eropa, Tiongkok, dan Jepang.
Tantalum adalah logam tahan panas digunakan dalam telepon seluler, komputer, dan elektronik otomotif. Bahkan dipakai dalam mesin pesawat terbang, komponen rudal, dan sistem GPS.
Sedangkan Niobium digunakan dalam pipa, roket, dan mesin jet.
Rakyat tetap miskin
Menurut Survei Geologi AS, Kongo secara keseluruhan memproduksi sekitar 40% Coltan dunia pada tahun 2023, dengan Australia, Kanada, dan Brasil sebagai pemasok utama lainnya.
Tambang Rubaya telah menjadi pusat pertempuran, berpindah tangan antara pemerintah Kongo dan kelompok pemberontak.
Selama lebih dari setahun, tambang ini dikuasai pemberontak M23, yang awal tahun ini maju dan merebut kota strategis Goma dan Bukavu dalam eskalasi konflik yang besar.
Meskipun negara ini memiliki kekayaan mineral yang luar biasa, lebih dari 70% penduduk Kongo hidup masih miskin dengan kurang dari $2,15 per hari.

Anak-anak di Kongo ikut menjadi penambang karena miskin.(globalfolder)
Bagi para pria yang bekerja di tambang Rubaya, yang bergantung pada pertambangan untuk mata pencaharian mereka, sedikit sekali yang berubah selama beberapa dekade kekerasan.
Salah satunya adalah Jean Baptiste Bigirimana, yang telah bekerja di tambang selama tujuh tahun.
“Saya menghasilkan 40 dolar sebulan, tetapi itu tidak cukup,” katanya seperti dirilis The Independent.
“Anak-anak membutuhkan pakaian, pendidikan, dan makanan. Ketika saya membagi uang itu untuk melihat bagaimana saya akan merawat anak-anak saya, saya menyadari itu tidak cukup,” katanya, menambahkan dia tidak tahu ke mana mineral yang ditambangnya pergi setelah meninggalkan Rubaya.
Menurut laporan PBB, sejak merebut Rubaya pada April tahun lalu, pemberontak M23 telah mengenakan pajak pada perdagangan bulanan bahan tambang.
Tambang tersebut menghasilkan 120 ton Coltan, yang menghasilkan setidaknya $800.000 per bulan.
Coltan tersebut kemudian dijual ke Rwanda. Para ahli mengatakan tidak mudah untuk melacak bagaimana Coltan sampai ke negara-negara Barat.(P-Jeffry W)