28.2 C
Jakarta
Wednesday, May 22, 2024

    Hanya berbiaya Rp15.000 hingga Rp25.000, alat pendeteksi Covid-19 UGM mendapat izin edar Kemkes

    Terkait

    Yogyakarta, 26/12/20 (SOLUSSInews.com) – Kini kita dapat alternatif alat pendeteksi Covid-19 produksi negeri sendiri.

    Alat ini berbasis embusan napas GeNose buatan tim riset Universitas Gadjah Mada (UGM) telah mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan (Kemkes) dan siap dipasarkan.

    Ketua Tim Pengembang GeNose, Prof Kuwat Triyana melalui keterangan tertulis di Yogyakarta, Sabtu (26/12/20) mengatakan, izin edar GeNose dengan nomor Kemenkes RI AKD 20401022883 telah terbit pada Kamis (24/12/20).

    “Alhamdulillah, berkat doa dan dukungan luar biasa dari banyak pihak, GeNose C19 secara resmi mendapatkan izin edar untuk mulai dapat pengakuan oleh regulator, yakni Kemkes, dalam membantu penanganan Covid-19 melalui Kiniscreening cepat,” kata Kuwat.

    Dusebut Kuwat, setelah izin edar diperoleh, tim akan melakukan penyerahan GeNose C19 hasil produksi massal batch pertama yang didanai oleh Badan Intelijen Negara (BIN) dan Kemenristek/BRIN untuk didistribusikan.

    Ia berharap dengan jumlah GeNose C19 yang masih terbatas mampu memberikan dampak maksimal.

    Bisa 12 ribu per hari

    Dengan 100 unit batch pertama yang akan dilepas, Kuwat berharap dapat melakukan 120 tes per alat atau totalnya 12 ribu orang sehari. Angka 120 tes per alat itu dari estimasi, setiap tes membutuhkan tiga menit termasuk pengambilan napas.

    “Sehingga, satu jam dapat mengetes 20 orang dan bila efektif alat bekerja selama 6 jam,” kata dia.

    Harapan ini dapat diwujudkan, kata Kuwat, bila distribusi GeNose C19 dilakukan tepat sasaran, seperti di Bandara, stasiun kereta, dan tempat keramaian lainnya termasuk di rumah sakit, termasuk ke BNPB yang dapat mobile mendekati suspect Covid-19.

    Namun, ia menegaskan pada tahap ini tidak memungkinkan pengadaan GeNose C19 untuk keperluan pribadi.

    Produksi massal

    Kuwat menambahkan setelah mendapatkan izin edar GeNose C19 akan segera diproduksi massal.

    Disebutkan, tim berharap bila ada 1.000 unit, sehingga akan mampu melakukan tes sebanyak 120 ribu orang sehari. Dan bila ada 10 ribu unit (sesuai target di akhir bulan Februari 2021), Indonesia akan menunjukkan jumlah tes Covid-19 per hari terbanyak di dunia, yakni 1,2 juta orang per hari.

    “Tentu, bukan hanya angka-angka seperti itu harapan kita semua, namun kemampuan mengetes sebanyak itu diharapkan akan menemukan orang-orang terinfeksi Covid-19 tanpa gejala (OTG) dan segera diambil tindakan isolasi atau perawatan, sehingga rantai penyebaran Covid-19 dapat segera terputus,” kata Kuwat.

    Untuk mewujudkan itu, lima industri konsorsium telah berkomitmen untuk mendukung, yakni PT Yogya Presisi Tehnikatama Industri (bagian mekanik), PT Hikari Solusindo Sukses (elektronik dan sensor), PT Stechoq Robotika Indonesia (pneumatic), PT Nanosense Instrument Indonesia (artificial intelligence, elektronik dan after sales), dan PT Swayasa Prakarsa (assembly, perizinan, standar, QC/QA, bisnis).

    Biaya Rp15.000 hingga Rp25.000

    Ia menjelaskan, nantinya biaya tes dengan GeNose C19 cukup murah hanya sekitar Rp15.000 hingga Rp25.000.

    Hasil tes juga sangat cepat, yakni sekitar dua menit serta tidak memerlukan reagen atau bahan kimia lainnya. Selain itu, pengambilan sampel tes berupa embusan napas juga dirasakan lebih nyaman dibandingkan usap atau swab.

    Mewakili tim, Kuwat juga memberikan apresiasi kepada semua pihak yang membantu pengembangan GeNose C19, yaitu Kemensesneg, BIN, Kemenristek/BRIN/LPDP, Kemendikbud, Kemenhub, Kemenkes, KemenPUPR, Kemenlu, TNI AD dan Polri.

    Selain itu, juga kepada delapan rumah sakit mitra uji diagnostik (RSUP Dr Sardjito, RSPAU Hardjolukito Yogyakarta, RS Bhayangkara Tk III Polda DI Yogyakarta, RSLKC Bambanglipuro Bantul, RST Dr. Soedjono Magelang, RS Bhayangkara Tk I Raden Said Soekanto Jakarta, RS Akademik UGM, dan RSUD Dr Saiful Anwar Malang), juga kepada tim review uji klinis Kemkes yang telah memberi masukan secara kritis serta konstruktif.

    Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Alumni, Prof Dr Paripurna mengatakan, siap dipasarkannya GeNose ini menunjukkan kontribusi UGM menangani pandemi sekaligus agar roda perekonomian tetap berjalan dengan  menerapkan protokol kesehatan.

    Disebut Paripurna, hal ini juga memperlihatkan berjalannya kemitraan dan kerja sama strategis antara universitas, pemerintah, industri dan masyarakat.

    “Ini kerja bagus sekaligus perwujudan UGM Science Techno Park sebagai jembatan antara universitas dan industri serta tempat riset para dosen dan mahasiswa,” kata Prof Dr Paripurna, seperti diberitakan ANTARA. (S-BS/jr)

    - Advertisement -spot_img

    Viral

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    - Advertisement -spot_img

    Terkini