Sulut miliki 6 dari 10 kabupaten/kota yang alami penurunan IPH tertinggi: Daerah mana saja?

Jeffrey Rawis
Senin, 10 Agustus 2026
3 menit membaca

PRIORITAS, 10/8/26 (Jakarta): Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terdapat 21 provinsi yang mencatat penurunan Indeks Perkembangan Harga (IPH) pada minggu pertama Agustus 2026 ini.


“Sekitar 21 provinsi mengalami penurunan IPH. Jadi 21 provinsi mengalami penurunan IPH, mulai dari Papua Selatan, Kepulauan Riau, Sulawesi Selatan, Kalimatan Timur, dan seterusnya,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti dalam Rapat Koordinasi Inflasi Daerah yang dipantau secara daring di Jakarta, Senin (10/8/26).

Dari catatsn BPS, demikian Amalia, secara umum perkembangan harga pangan pada awal Agustus menunjukkan lebih banyak daerah yang mengalami penurunan IPH dibandingkan kenaikan.

Terbanyak di Sulut


Adapun dari 21 provinsi yang mengalami penurunan IPH, terdapat 10 kabupaten/kota alami penurunan IPH tertinggi, yakni Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Kabupaten Mahakam Ulu, Kabupaten Kepulauan Talaud, Kabupaten Minahasa, Kabupaten Sarmi, Kabupaten Minahasa Tenggara, Kabupaten Tambrauw, Kabupaten Kepulauan Sangihe, dan Kabupaten Mongondow Timur.

Dengan begitu, terbanyak ada di Sulawesi Utara (Sulut), yakni 6. Yaitu Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Kabupaten Kepulauan Talaud, Kabupaten Minahasa, Kabupaten Minahasa Tenggara, Kabupaten Kepulauan Sangihe, dan Kabupaten Mongondow Timur.

Lebih banyak penurunan dibandingkan kenaikan

Sementara itu, pada tingkat kabupaten/kota, penurunan IPH juga lebih banyak terjadi dibandingkan dengan kenaikan. BPS mencatat sebanyak 161 kabupaten/kota mengalami penurunan IPH, sedangkan 65 kabupaten/kota mengalami kenaikan.

“Jadi yang mengalami penurunan IPH lebih banyak dibandingkan dengan yang mengalami kenaikan IPH,” kata Amalia.

Daging ayam dan sapi jadi perhatian

Kendati demikian, BPS tetap mencermati sejumlah komoditas yang berkontribusi terhadap kenaikan IPH di sejumlah wilayah. Komoditas daging ayam ras dan daging sapi menjadi perhatian karena mengalami kenaikan harga di hampir seluruh provinsi yang mencatat kenaikan IPH.

Khusus wilayah Sumatera, BPS mencermati perkembangan harga daging ayam ras dan beras. Sementara di Pulau Jawa, perhatian diarahkan pada daging ayam ras dan daging sapi.

Lalu di wilayah luar Jawa dan Sumatera, kenaikan IPH terutama dipengaruhi oleh komoditas cabai rawit, daging ayam ras, dan daging sapi.

Selaun itu, Amalia menambahkan, BPS juga mencermati perkembangan harga berdasarkan level harga dan perubahan IPH. Sejumlah komoditas memiliki perubahan IPH yang relatif rendah meskipun level harganya berada pada kategori sedang hingga tinggi.

Disebutnya, daging sapi dan bawang putih memiliki level harga yang relatif sedang dengan perubahan IPH yang rendah. Sementara beras dan minyak goreng memiliki level harga yang relatif tinggi, bahkan terdapat harga yang berada di atas harga eceran tertinggi (HET).

“Untuk daging ayam ras, dia level harganya masih relatif rendah, tetapi perubahan IPH-nya relatif tinggi,” jelasnya.

Adapun kondisi tersebut, kata Amalia Adininggar Widyasanti seperti dilansir Antara, perlu mendapat perhatian, karena menunjukkan adanya kecenderungan kenaikan harga daging ayam ras yang cukup tinggi meskipun level harganya masih berada dalam kategori rendah. (P-*/jr)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan