
Penyerahan SK Mubeslub PneT kepada Edwin Poluan, SE, MBA yang kembali didaulat sebagai Ketum, oleh Panitia Penyelenggara Mubeslub, diwakili Deitje Mawuntu, SPd. (Beritaprioritas.com/Deitje M)PRIORITAS, 11/5/26 (Jakarta): Pendiri dan Ketum pertama Pinaesaan ne Tombulu (PneT), Edwin OJ Poluan, SE, MBA, kembali didaulat sebagai Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar (PB) PneT periode mendatang, dengan Ketua Dewan Pembina (Wanbin) Laksamana TNI P Joost F Mengko.

Terpilihnya dua tokoh utama Tou Tombulu ini secara resmi terjadi dalam pelaksanaan Musyawarah Besar Luar Biasa (Mubeslub) organisasi Pinaesaan ne Tombulu (PneT), Jumat (8/5/26) berdasarkan SK Panitia No. 001/KEP-PBPneT/MUBESLUB/lV/2026 dari Pengurus Besar PneT, tanggal 25 April 2026.
Demikian Ketua Panitia Penyelenggara Mubeslub PneT, Deitje Mawuntu, SPd kepada Beritaprioritas.com, Senin (11/5/26) di Jakarta.
Ketua terpilih Edwin Poluan pun langsung meminta kesediaan Deitje W Mawuntu, SPd untuk mendampinginya sebagai Sekretaris Umum (Sekum), juga Stien Rosok selaku Bendahara Umum (Bendum).


Pimpinan Sidang dan Panitia Penyelenggara Mubeslub, Deitje Mawuntu, SPd dkk, siap menggerakkan PneT lebih dahsyat lagi ke depan. (Beritaprioritas.com/Deitje M)
Adapun dasar pelaksanasn kegiatan ini, menurut Deitje, ialah Naskah Deklarasi Pendirian Ormas Pinaesaan ne Tombulu tertanggal 14 Maret 2015, juga amanat Anggaran Dasar (AD) Bab V pasal 9 tentang Mubes dan Mubeslub, serta Legalitas PneT yang termuat dalam Lembaran Negara sebagaimana dinyatakan dalam Keputusan Menkumham RI No AHU .0066084.AH.01,07, Tahun 2016, vide -Akta Pendirian No. 01 tgl 03 Juni 2016, Notaris Alvie Deki Palit SH. MKn tertanggal 25 Juni 2016.
“Selain itu mempertimbangkan masa bakti kepengurusan organisasi Pinaesaan ne Tombulu telah berakhir, namun telah diperpanjang melalui musyawarah mufakat dalam Rapat gabungan Pengurus Besar (PB) dan unsur dewan Penasehat pada tanggal 7 Juli 2025. Sehingga Mubeslub dapat diselenggarakan, untuk memilih Kepengurusan yang baru,” jelasnya.
Peserta representatif resmi mewakili para Wanua Tombulu
Mubeslub PneT ini dibuka dengan doa syukur oleh Pdt Pdt Prof Dabby Loula Rombot, dihadiri perutusan para Wanua, yakni 20 perkumpulan sub-etnik Tombulu se Jabodetabek.
“Peserta Mubeslub benar-benar representatif resmi sesuai anggaran dasar (AD), dan mendapat restu dari para senior,” tegas Deitje dan Stephen Pangkerego, SH, STh selaku Ketua Pimpinan Sidang Mubeslub.

Ilustrasi ‘flyer’ PneT. (Dok/Ist)
Karena itu, keduanya Deitje mengucapkan terima kasih kepada semua pihak terutama komunitas Wanua-wanua atau perkumpulan sub-etnik yang sudah hadir memberikan dukungannya hingga terpilihnya ketua baru.
Adapun Pimpinan Sidang Sementara yang sudah menjalankan tugasnya dengan penuh semangat, dipimpin Pdt Steven Pangkerego, SH, STh, asal Talete, Tomohon. Lalu dilanjutkan Pimpinan Sidang Tetap terdiri atas Robby Pandey dari Tara-tara didampingi Sekertaris asal Tanawangko Helen Kumenit, dan anggota asal Koka Jemmy Pongoh (Koha).
“Puji TUHAN YESUS, sidang-sidang berjalan dengan lancar, dan sudah menghasilkan pimpinan yang baru bagi perkumpulan PNeT ini,” lanjutnya.
Arahan dan bimbingan Tonaas wangko Benni Tengker
Sementara itu, anggota-anggota yang bernaung di bawah wadah PneT, menurutnya, ialah Wanua-wanua perkumpulan kampung sub-etnik Tombulu yang ada di Jabodetabek.
“Karena itu, apabila ada sebutan Perkumpulan “Tombulu yang lain” itu bukanlah kami, dan patut dipertanyakan landasan berdirinya juga apa. Tegasnya itu bukanlah kami,” tandasnya.
Disebutnya lagi, keanggotaan PneT bukan orang-perorang, melainkan Wanua-wanua sub-etnik Tombulu di rantau di kawasan Jabodetabek).
“Ini (organisasi) jelas ada dan terbentuk awal atas arahan dan bimbingan Tonaas Wangko Almarhum Benni Tengker (Ketua Kerukunan Kawanua/KKK) waktu itu, yang memimpin puluhan tahun Perkumpulan KKK Kerukuna Kawanua, karena dulu almarhum pernah tinggal dan bersekolah di Tomohon (SMP Gonsaga saat ini). Jadi merasa bagian dari Wanua sub-etnik Tombulu,” tuturnya bersemangat.
“Begitu juga kami teringat dengan wejangan seniman Merah Putih, Almarhum Yessy Wenas, yang kita kenal sebagai Tokoh Legendaris Bidang Budaya dan juga seni musik yang pernah menciptakan lagu-lagu populer, di antaranya “Di Tepi Danau Tondano”, “Mengapa Tiada Maaf Darimu” dan “Mutiara yang Hilang”, dinyanyikan antara lain oleh artis-artis terkenal seperti Ernie Djohan, Vivi Sumanti hingga Yuni Sarah”.
Ingat slogan “Zumani”
Deitje dkk lalu berharap, semoga kita Tou-tou Tombulu di rantau saat ini, tidak menjadi mutiara-mutiara yang hilang.
“Marilah bisa saling memberi manfaat dalam wadah ini, saling menopang, gotong royong, tolong menolong dan tetap menjaga budaya dan setia dengan slogan kita “Zumani”, yang artinya mengedepankan spirit kerukunan, solidaritas, toleransi, kepedulian, dan cinta kasih keada sesama warga masyarakat, khususnya sub-etnis Tombulu, Minahasa Sulawesi Utara (Sulut), tanoa membedakan latar belakang agama, politik, ekonomi, pendidikan, golongan serta status sosial. TUHAN YESUS beserta kita,” demikian Deitje Mawuntu. (P-*r/se)

