Anshar, petani hortikultura Desa Watumaeta Lembah Napu Lore Utara, Poso, Sulteng, dengan latar belakang tanaman wortel yang akan dipanen 4 bulan kedepan. (BP/Elkana Lengkong)Catatan Jurnalistik: Elkana Lengkong/Wartawan Beritaprioritas.com
PRIORITAS, 25/11/25 (Poso): Perjalanan menuju Lembah Napu di Lore Utara, Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah, membawa wartawan Beritaprioritas.com menjumpai sosok inspiratif yang gigih menggarap lahan, yaitu Anshar (50 tahun). Petani hortikultura asal Bugis Sulawesi Selatan ini telah mengabdikan lebih dari 20 tahun hidupnya di Desa Watumaeta, Napu, dengan segala suka dan dukanya.
Anshar, yang kini menyewa lahan untuk perkebunannya, mengakui potensi besar yang dimiliki Lembah Napu. Sebagai dataran tinggi dengan udara sejuk, tanah di wilayah ini sangat subur dan ideal untuk berbagai jenis tanaman hortikultura. Tak heran, hasil panen sayuran dan umbi-umbian di sini seringkali berukuran jumbo dan memiliki kualitas prima.
“Saya sudah 20 tahun di desa ini jalani hidup sebagai petani di dataran Lembah Napu. Bagi saya, tanah di sini sangat subur, tanaman apa saja bisa tumbuh. Hasil panen melimpah, seperti kol dan bawang putih,” ungkap Anshar saat berbincang pada Minggu (23/11/25). Selain kol dan bawang putih, komoditas potensial lainnya meliputi kentang, bawang merah, cabai, terong, wortel, serta kopi arabika dan robusta.
Sebagian besar hasil panen dari Lembah Napu dipasok ke pasar di Kota Palu, bahkan ada yang dikirim ke luar pulau hingga ke Kalimantan. Namun, profesi sebagai petani hortikultura di sini tak lepas dari risiko yang besar.

Tanaman hortikultura daun bawang milik Anshar juga akan dipanen 4 bulan mendatang. Petani di sini selalu diliputi rasa khawatir karena ketika panen melimpah harga anjlok. Butuh perhatian pemerintah. (BP/ Elkana Lengkong)
Harga, kesejahteraan taruhannya
Anshar menceritakan, suka cita terbesar bagi petani seperti dirinya adalah saat harga pasaran komoditas sedang baik. “Sukanya saat harga sayur mayur, kentang, tomat, wortel, dan kubis sedang bagus, kami bisa meraup untung yang lumayan,” ujarnya.
Namun, duka mendalam datang saat terjadi overproduksi. Keterbatasan pasar dan melimpahnya hasil panen secara bersamaan membuat harga jual anjlok. “Dukanya ketika overproduksi saking melimpahnya hasil panen, seperti buah tomat, sebanyak 10 persen dari total panen sayuran di Napu terbuang percuma,” keluhnya.
Kondisi ini terjadi karena upah petik yang harus dikeluarkan petani justru lebih mahal dari harga jual di pasaran. Akibatnya, banyak hasil panen yang dibiarkan membusuk di ladang, menimbulkan kerugian besar bagi para petani kecil seperti Anshar.
Kisah Anshar mencerminkan realitas yang dihadapi banyak petani hortikultura di daerah terpencil. Meskipun memiliki tanah yang subur dan hasil panen yang melimpah, mereka rentan terhadap fluktuasi harga pasar yang tidak menentu.
Penanganan hasil panen yang berlebih dan stabilitas harga menjadi pekerjaan rumah besar bagi semua pihak, agar jerih payah petani seperti Anshar dapat terbayar dengan hasil yang sepadan. Perhatian pemerintah setempat, baik Pemkab Poso maupun Pemprov Sulteng sangat dibutuhkan. (P-Elkana Lengkong)
No Comments