Sepak Bola Indonesia: Sukses jadi tuan rumah yang baik, tapi sepi di prestasi

Jojo Raharjo
Sabtu, 8 Agustus 2026
BOLA OPINI 0 302
4 menit membaca

Oleh: Agustinus ’Jojo’ Rahardjo (Penggemar sepak bola, dosen Ilmu Komunikasi Unika Atma Jaya Jakarta)


PRIORITAS, 8/8/26 (Jakarta):  Malam Minggu, 8 Agustus 2026. Chelsea membantai AC Milan 3-0 dalam laga pramusim di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Joao Pedro, menjadi pencetak dua gol ditambah sebiji gol sumbangan Moises Caicedo.

Sepekan sebelumnya, klub Liga Primer lain yang datang ke Jakarta. Aston Villa melakoni rangkaian pramusim menghadapi ‘tim dadakan’ Indonesia All Stars. Pasukan Unai Emery menang 3-1 lewat gol Emil Buendia, Ross Barkley, Brian Madjo, dibalas dengan gol hiburan dari Arkhan Kaka.

Puluhan ribu penonton menyaksikan laga itu di stadion kebanggaan Indonesia. Tentu jutaan lain lewat layar kaca.


Tapi, sepak bola Indonesia harus hati-hati. PSSI -dan event organizer atau EO rekanannya- jangan sampai terlalu sibuk menjadi event organizer sepak bola, sementara pekerjaan sebagai federasi justru tertinggal.

Mendatangkan Chelsea dan AC Milan itu bagus. Mendatangkan Aston Villa juga bagus. Menggelar Piala Presiden juga bagus. Tetapi federasi sepak bola bukan perusahaan promotor konser.

Tugas utamanya bukan sekadar membuat stadion penuh. Tugas utamanya adalah membangun ekosistem sepak bola. Mulai dari kompetisi yang sehat. Pembinaan usia dini. Akademi klub. Pelatih berkualitas. Wasit. Lapangan. Kalender kompetisi. Perlindungan pemain. Kesejahteraan pemain. Tata kelola klub. Sampai scouting yang benar. Dan tentu saja tim nasional. Jangan sampai kita mempunyai industri sepak bola yang semakin besar tetapi fondasi sepak bolanya masih seperti bangunan kos yang belum selesai IMB-nya.

Ada Satu Hal Lagi: Jangan perlakukan Piala AFF sebagai Piala Dunia Ini juga penting. Kita terlalu sering menganggap setiap kegagalan Timnas sebagai kiamat nasional. Piala AFF memang penting. Tetapi sepak bola Indonesia seharusnya punya target yang lebih besar. Kalau kita sudah mampu bersaing di kualifikasi Piala Dunia dan Piala Asia, maka Piala AFF semestinya menjadi salah satu indikator perkembangan, bukan satu-satunya ukuran.

Namun ada paradoks: Kita ingin dianggap sebagai kekuatan Asia. Tetapi ketika bertanding di Asia Tenggara, kita malah gagal masuk semifinal.

Nah, ini yang membuat publik bertanya: Sebenarnya kita sedang membangun rumah untuk tinggal di Asia atau sedang membangun showroom untuk memamerkan pemain?

Jadi, Apa yang harus diperbaiki?

Pertama, PSSI harus punya cetak biru sepak bola yang tidak bergantung pada siapa ketua umumnya. Kelak kalau Erick Thohir pergi, program tidak boleh ikut pergi. Pelatih berganti, sistem tidak boleh ikut berganti. Pengurus berganti, pembinaan usia muda tidak boleh ikut di-reset.

Kedua, naturalisasi harus selektif. Cari pemain yang benar-benar dibutuhkan, bukan sekadar pemain yang mau punya paspor Indonesia.

Ketiga, perkuat pemain lokal. Kalau setiap generasi Timnas selalu menunggu diaspora dan naturalisasi, pertanyaannya sederhana: Apa yang sedang terjadi dengan pembinaan pemain kita sendiri?

Keempat, benahi kompetisi domestik. Jangan sampai kalender kompetisi membuat pemain seperti pegawai lembur: baru selesai satu pertandingan, sudah disuruh bekerja lagi dua hari kemudian. Pelatih Persib Igor Tolic bahkan mengkritik jeda hanya 48 jam menuju final Piala Presiden dan mempertanyakan standar pemulihan pemain.

Kelima, bangun standar evaluasi yang transparan. Pelatih jangan diangkat karena nama besar lalu diberi waktu tanpa indikator. Pelatih juga jangan dipecat hanya karena kalah satu pertandingan. Yang diperlukan adalah ukuran: performa, proses, taktik, perkembangan pemain, hasil, dan konsistensi.

Pada akhirnya, mungkin masalah sepak bola Indonesia kembali gagal Juara Piala AFF bukan ‘kutukan’ gol bunuh diri Mursyid Effendi di Piala AFF atau Piala Tiger 1998. Bukan pula semata-mata John Herdman kurang jenius.

Bukan hanya pemain naturalisasi atau diaspora dianggap tak mutu.

Bukan juga hanya kesalahan tunggal Erick Thohir.

Masalahnya jauh lebih besar: kita sudah sangat pintar membuat sepak bola menjadi tontonan, tetapi belum cukup pintar menjadikannya prestasi.

Kita bisa membuat GBK penuh. Bisa mendatangkan Chelsea. Bisa mendatangkan AC Milan. Bisa mendatangkan Aston Villa. Bisa membuat tiket habis. Bisa membuat media sosial meledak. Bisa membuat sponsor berdatangan.

Tetapi ketika Timnas bermain, ternyata bola tetap harus masuk ke gawang. Dan untuk urusan yang satu itu, rupanya tidak ada paket VIP, tidak ada sponsor utama, tidak ada naturalisasi, dan tidak ada branding yang bisa membantu.

Bola tetap harus ditendang. Masuk. Menang. Dan kalau bisa, jangan gol bunuh diri lagi.

Sebab kalau 28 tahun kemudian kita masih menyalahkan Mursyid Effendi, jangan-jangan yang benar-benar kena kutukan bukan Timnas. Kita sendiri yang terkena kutukan: terlalu sering berharap, terlalu cepat bereuforia, lalu terlalu rajin mencari kambing hitam setiap kali gagal.

Sudah saatnya sepak bola Indonesia berhenti hanya menjadi negara dengan suporter sepak bola kelas dunia. Kita ingin menjadi negara dengan sepak bola kelas dunia.

Bedanya cuma satu: Yang pertama menghasilkan suara. Yang kedua menghasilkan trofi.

Ayo, bangkit sepak bola Indonesia, tak hanya jadi penonton yang baik. (P)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan