PRIORITAS, 7/10/26 (Jakarta): Persoalan utama komunikasi pemerintah bukan semata-mata pada substansi kebijakan, melainkan kemampuan mengelola persepsi publik. Persoalan utama komunikasi pemerintah bukan semata-mata pada substansi kebijakan, melainkan kemampuan mengelola persepsi publik. Problem dari bangsa ini, menurut Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Rocky Gerung, ialah ketidakmampuan untuk mengolah bahasa tubuh. Karena komunikasi pertama-tama adalah bahasa tubuh.
Selanjutnya Rocky Gerung menyatakan, komunikasi pemerintah harus mampu menjembatani visi dan kebijakan Presiden dengan cara pandang masyarakat.
Rocky menyampaikan pernilaiannya itu dalam sambutan serah terima jabatan Syahganda Nainggolan sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI di Kantor Bakom RI, Jakarta, Selasa (6/10/26) kemarin.
"Apa yang sebetulnya jadi problem dari bangsa ini? Ketidakmampuan untuk mengolah bahasa tubuh. Karena komunikasi pertama-tama adalah bahasa tubuh," ungkap Rocky lagi.
Jembatan komunikasi ke publik dirusak sendiri oleh birokrasi
Rocky menyebut, persoalan tersebut berlaku di berbagai institusi pemerintahan.
Disebutnya, Presiden memiliki pikiran, visi, niat, intensi, dan urgensi dalam menjalankan pemerintahan.
Tapi, pesan tersebut membutuhkan jembatan komunikasi agar dapat diterima secara utuh oleh publik.
"Jembatan ke publiknya kadang kala dirusak sendiri oleh birokrasi itu. Rusakan itulah yang diintip oleh netizen. Itu yang terjadi," ujarnya, dikutip media.
Isi pertama dari komunikasi ialah persepsi
Strategi komunikasi pemerintah, kata Rocky tidak dapat hanya mengandalkan penyampaian fakta dan data.
Rocky katakan, persepsi publik menjadi elemen pertama yang menentukan bagaimana sebuah informasi diterima.
Sebab, isi pertama dari komunikasi ialah persepsi. Bukan fakta, bukan data," katanya meyakinkan.
Rocky lalu mencontohkan, berbagai capaian pemerintahan dapat disampaikan secara lengkap kepada publik.
Tetapi, menurut dia, data dan fakta tersebut dapat kehilangan pengaruh apabila masyarakat sudah memiliki persepsi negatif terhadap pemerintah.
"Saya bisa tunjukkan semua prestasi Presiden. Saya bisa dadarkan semua hasil yang bahkan sedang ditunggu oleh publik. Tapi dengan satu kebencian, data itu 'difalsifikasi tuh'. Selesai," ujar Rocky menunjuk soak.
Posisi strategis komunikasi pemerintah harus membangun penerimaan publik
Terkait itulah, Rocky menilai, posisi strategis dalam komunikasi pemerintah harus diarahkan untuk membangun penerimaan publik, bukan justru memperbesar konfrontasi.
"Jadi, ada hal yang ingin kita pastikan bahwa posisi-posisi strategis dalam upaya untuk memenangkan hati publik tidak mungkin didasarkan pada konfrontasi faktual," katanya menegaskan.
Selanjutnya, dalam kesempatan tersebut, Rocky juga menyinggung hubungannya dengan Muhammad Qodari yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Bakom dan kini menjadi Sekretaris sekaligus Anggota Wantimpres.
Singgung hubungannya dengan Qodari
Dikatakan Rocky, dirinya dan Qodari telah berteman sejak sama-sama menjadi aktivis. Namun, hubungan tersebut sempat berubah ketika Qodari masuk ke lingkaran kekuasaan.
"Saya berteman baik dengan Pak Qodari. Teman berpikir ketika masih aktivis, lalu jadi teman berkelahi ketika dia ada di kekuasaan," ujarnya yang memancing tawa.
Rocky menyebut, perbedaan pandangannya dengan Qodari sebenarnya tidak sebesar persepsi publik yang berkembang. "Tapi itu yang kemudian diingat orang. Padahal perbedaan saya dengan Qodari hanya sebatas 30 menit cekcok di depan TV. Hanya itu aja," katanya menjelaskan.
Dinamika tersebut, menurut Rocky, menunjukkan bagaimana sebuah interaksi atau perbedaan pendapat dapat membentuk persepsi publik terhadap seseorang.
Komunikasi pemerintah tidak dibangun dengan kemarahan ke berbagai pihak
Rocky kemudian mengingatkan agar komunikasi pemerintah tidak dibangun dengan kemarahan yang diarahkan ke berbagai pihak.
"Marah ke semua arah artinya marah tanpa arah," ujarnya lagi.
Tentang tantangan Syahganda
Selanjutnya, Rocky juga menilai Syahganda menghadapi tantangan besar setelah ditunjuk sebagai Kepala Bakom.
Diingatkannya, latar belakang dan pernyataan Syahganda sebelumnya, akan menjadi bagian dari perhatian publik.
"Kita coba bayangkan Syahganda masuk di ruang, di tempat seluruh kehidupan publiknya akan dikuliti oleh netizen," katanya lagi.
Dia lalu menyinggung sejumlah pernyataan Syahganda sebelum menduduki jabatan tersebut, termasuk pernyataannya mengenai Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Kejujuran menjadi bagian penting dari komunikasi publik
Disebut Rocky, pernyataan masa lalu tidak selalu harus disembunyikan ketika seseorang masuk ke dalam pemerintahan.
Namun sebaliknya, dia menilai kejujuran menjadi bagian penting dari komunikasi publik. "Padahal itu kejujuran tuh," ujarnya.
Lantas, Rocky juga menyinggung perhatian publik terhadap keputusan Mahkamah Konstitusi (MK). Disebut dia, pemerintah tidak perlu menghindari isu yang menjadi perhatian masyarakat hanya demi mengendalikan narasi komunikasi.
"Orang hari-hari ini 'nunggu' apa keputusan Mahkamah Konstitusi itu. 'Gak' usah kita sembunyikan," katanya tegas.
Rocky menilai, tidak semua pernyataan harus disunting atau disesuaikan hanya untuk melayani kelompok yang tidak mampu memahami substansi komunikasi.
"Tidak mungkin seluruh kalimat kita, kita edit untuk melayani kedunguan para-ah (?). Sebut saja kedunguan mereka yang tidak mampu untuk mencerna isi komunikasi," tegas Rocky.
Dia katakan, demikian Bisnis.com melansir, persoalan tersebut semakin kompleks karena ketidakmampuan mencerna informasi kini dapat diperkuat oleh sistem algoritma di ruang digital.
"Dan kedunguan itu yang sekarang dioperasikan melalui sistem algoritma," kata Rocky Gerung lagi. (P-*/jr)








