Risiko perbankan tetap kuat hadapi dampak konflik global

Khalied Malvino
Rabu, 1 April 2026
EKBIS Keuangan 0 224
3 menit membaca

PRIORITAS, 1/4/26 (Jakarta): Risiko perbankan nasional dinilai tetap terkendali meski konflik Timur Tengah berpotensi memicu tekanan eksternal pada sistem keuangan Indonesia saat ini.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan kondisi permodalan perbankan tetap kuat dengan rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio yang berada pada kisaran 25 hingga 27 persen.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae menyatakan industri perbankan memiliki ketahanan menghadapi berbagai krisis global berdasarkan pengalaman sebelumnya.

“Kita sudah pernah menghadapi situasi yang lebih buruk dari ini, seperti COVID itu cukup lama sampai bertahun-tahun, tapi kita bisa survive dengan kebijakan-kebijakan. Jadi tidak ada sesuatu yang terlalu dikhawatirkan karena kita pernah menghadapi situasi yang lebih parah, kira-kira begitu,” bebernya saat ditemui awak media di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (1/4/26).

Dian menjelaskan dampak konflik Timur Tengah terhadap risiko perbankan nasional sangat bergantung pada durasi dan eskalasi konflik yang terjadi di kawasan tersebut.

Ia menyebut transmisi risiko dapat masuk melalui nilai tukar, inflasi, serta indikator ekonomi makro lainnya yang memengaruhi stabilitas sistem keuangan.

OJK secara aktif melakukan pemantauan dan analisis risiko secara berkala hingga ke level masing-masing bank untuk memastikan ketahanan sektor perbankan tetap terjaga.

“Secara voluntarily, bank-bank itu kan melakukan stress test. Dan kita sendiri pun, di tim kita OJK juga melakukan hal yang sama sebetulnya untuk melakukan stress test,” kata dia.

OJK analisis risiko global

Selain itu, OJK menilai perkembangan net interest margin atau NIM perbankan masih dipengaruhi kondisi ekonomi serta dinamika suku bunga dan penyaluran kredit.

Dian menyebut proyeksi NIM belum dapat dipastikan karena masih bergantung pada kondisi pasar dan risiko global yang terus berubah.

“Situasi kondisi perekonomian kita, situasi bisnis dan lainnya, kita harus lihat juga, ya. Harapan kita tentu saja NIM akan ada perbaikan. Tapi saya tidak berani mengatakan sebelum saya melakukan analisis yang lebih dalam,” tuturnya.

Di sisi lain, Perhimpunan Bank Nasional atau Perbanas memastikan industri perbankan telah memperkuat prinsip kehati-hatian atau prudential banking dalam menghadapi risiko geopolitik global.

Ketua Umum Perbanas Hery Gunardi menyatakan fundamental perbankan nasional tetap solid meski volatilitas eksternal meningkat dalam beberapa waktu terakhir.

Ia menjelaskan kondisi tersebut tercermin dari pertumbuhan kredit yang terjaga, likuiditas memadai, serta struktur permodalan yang kuat.

Perbanas juga mencatat industri perbankan terus memperkuat mitigasi risiko melalui stress test sektoral dan penguatan sistem peringatan dini atau early warning system.

Langkah tersebut difokuskan pada sektor sensitif seperti transportasi, logistik, dan manufaktur yang rentan terhadap kenaikan biaya energi global.

Dengan berbagai langkah tersebut, risiko perbankan diharapkan tetap terkendali meski tekanan eksternal meningkat akibat dinamika geopolitik global. (P-Khalied M)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025