Buku “Prabowo, Politik Akal Sehat Tanpa Panggung”. (Istimewa)PRIORITAS, 24/2/2026 (Jakarta): Buku berjudul Prabowo: Politik Akal Sehat Tanpa Panggung karya jurnalis senior Joseph Osdar resmi diluncurkan di kawasan Senayan. Buku ini mengulas perjalanan relasi politik antara Ketua MPR Bambang Soesatyo dan Presiden Prabowo Subianto.
Dalam buku tersebut, Joseph menampilkan kisah yang bermula dari pertemuan pertama Bamsoet dan Prabowo pada 1986 di Markas Kopassus di Cijantung. Hubungan keduanya kemudian berkembang seiring dinamika politik nasional.
Joseph menggambarkan kedewasaan dan kesabaran elite dalam menjaga persatuan bangsa melalui relasi Bamsoet dan Prabowo. Ia mengungkapkan, sudut pandang Bamsoet memberikan perspektif konsisten dalam melihat sosok Prabowo. “Saya melihat sosok Prabowo itu justru paling bagus memang lewat kacamata Pak Bamsoet ini dan bagaimana Pak Bamsoet punya konsistensi dalam melihat beliau,” terang Joseph.
Joseph menegaskan buku ini bukan glorifikasi, melainkan refleksi atas politik yang dijalankan dengan tanggung jawab kenegaraan. Joseph menambahkan, politik akal sehat justru hadir dalam ruang sunyi, jauh dari drama dan kegaduhan yang melelahkan publik. Ia pun berharap buku ini dapat menjadi masukan positif bagi Prabowo dalam menjalankan kepemimpinan nasional.
Sementara Anggota DPR RI Bambang Soesatyo mengapresiasi peluncuran buku karya jurnalis senior Joseph Osdar ini. Buku tersebut menampilkan praktik politik tenang dan rasional melalui pendekatan terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Bamsoet menilai buku ini penting karena mengangkat politik yang bekerja tanpa panggung dan tanpa sensasi. “Politik yang sehat tidak selalu harus ditunjukkan melalui koalisi formal atau pernyataan publik. Yang terpenting adalah tujuan kebangsaan dan komitmen pada kepentingan nasional,” ujarnya.
Buku ini juga memuat pengalaman awal Bamsoet mengenal Prabowo pada 1986 di Markas Kopassus di Cijantung, termasuk rekam jejak Prabowo sebagai prajurit yang pernah diterjunkan dalam Operasi Seroja di Timor Leste dan memimpin misi penyelamatan di Papua.
Menurut Bamsoet, kepemimpinan yang dibahas dalam buku ini menekankan bahwa kekuasaan hanyalah alat, bukan tujuan. “Ketika kekuasaan dijadikan tujuan, politik kehilangan etikanya. Politik harus berpijak pada moral publik,” ujar Bamsoet dalam keterangannya kepada PRIORITAS, Selasa (24/2/2026).
Ia berharap, buku ini dapat menjadi referensi bagi politisi, akademisi, dan generasi muda untuk memahami politik yang lebih dewasa, rasional, dan tidak reaktif. “Buku ini mengajak kita memahami kebijakan beliau, termasuk keputusan-keputusan yang menurut kita luar biasa,” ujar Ketua MPR RI masa bakti 2019-2024 ini.
Bamsoet menambahkan bahwa Prabowo dikenal selaras antara ucapan dan tindakan. “Beliau selalu menyampaikan bahwa tidak ingin punya musuh satu pun, karena satu musuh terlalu banyak, seribu kawan terlalu sedikit. Prinsip itu tercermin dalam langkah-langkahnya,” kata Bamsoet.
Acara peluncuran dan bedah buku turut dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya pakar hukum tata negara Jimly Asshiddiqie, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, serta pengamat politik Rocky Gerung. (P-*/bwl)