Mantap! CNG bakal gantikan LPG 3 kg, Indonesia bersiap jadi pionir dunia

Sem Muhaling
Minggu, 17 Mei 2026
4 menit membaca

PRIORITAS, 17/5/26 (Jakarta): Pemerintah tengah menyiapkan langkah besar dalam transformasi energi nasional mengganti LPG dengan CNG 3kg. Melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Indonesia menargetkan menjadi negara pertama di dunia yang menggunakan tabung Compressed Natural Gas (CNG) ukuran 3 kilogram untuk kebutuhan rumah tangga sebagai pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG).

Program ambisius ini diproyeksikan menjadi solusi jangka panjang untuk menekan ketergantungan impor LPG yang terus membebani anggaran negara sekaligus memangkas subsidi energi nasional hingga puluhan persen.


Indonesia siapkan “tabung gas masa depan”

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengatakan pemerintah tengah menyiapkan penggunaan tabung CNG Type-4 berbahan komposit modern yang memiliki bobot jauh lebih ringan dibanding tabung gas konvensional berbahan baja.

“Insyaallah tipe 4 ini untuk tabung 3 kilogram nanti akan pertama di dunia itu adalah di Indonesia,” ujar Laode dalam acara Talkshow APLCNGI dan Aspebindo sebagaimana dilansir dari ruangenergi.com.

Baca juga: Indonesia temukan gas bumi jumbo, Bahlil: Potensinya 5 triliun kaki kubik dan 300 juta barel kondensat

Di tengah rencana besar, mulai muncul penampakan awal tabung CNG Type-4 komposit yang dipersiapkan sebagai subtitusi LPG rumah tangga.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, tabung generasi terbaru ini menggunakan material komposit fiber berlapis dengan inner liner berbahan khusus non-logam. Teknologi tersebut berbeda jauh dengan tabung LPG konvensional yang selama ini menggunakan material baja.

Type-4 terlihat lebih modern dengan bobot yang jauh lebih ringan dibanding tabung LPG 3 kilogram yang beredar saat ini.

Teknologi ini disebut memiliki sejumlah keunggulan utama seperti:

1. Bobot lebih ringan


Material carbon fiber dan komposit membuat tabung jauh lebih ringan dibanding tabung baja konvensional. Kondisi ini dinilai akan mempermudah distribusi serta penggunaan oleh masyarakat. Selain itu, biaya logistik juga berpotensi menjadi lebih efisien.

2. Tahan korosi dan lebih awet

Tabung komposit memiliki ketahanan korosi yang lebih baik dibanding tabung logam biasa. Keunggulan ini dianggap penting terutama untuk wilayah dengan tingkat kelembapan tinggi seperti daerah pesisir dan kepulauan.

3. Tekanan tinggi, distribusi lebih efisien

Tabung Type-4 dirancang mampu menahan tekanan gas sangat tinggi hingga sekitar 250 bar. Kemampuan ini membuat distribusi energi dinilai menjadi lebih optimal dan efisien.

Selama ini teknologi Type-4 lebih banyak digunakan pada kendaraan berbasis gas dan industri energi karena memiliki efisiensi tinggi serta daya tahan yang baik terhadap lingkungan ekstrem.

4. Sistem keamanan lebih modern

Dari sisi keamanan, material komposit disebut memiliki risiko korosi yang jauh lebih rendah dibanding tabung logam lama.

Beberapa desain Type-4 bahkan dilengkapi mekanisme pelepasan tekanan otomatis apabila terjadi over pressure sehingga dinilai lebih aman.

Pemerintah juga memastikan sistem valve dan converter nantinya dibuat plug and play sehingga masyarakat tidak perlu mengganti kompor LPG yang sudah digunakan saat ini.

Tantangan besar CNG: Infrastruktur dan biaya produksi

Meski menawarkan banyak kelebihan, program konversi LPG ke CNG masih menghadapi sejumlah tantangan serius.

Salah satu tantangan terbesar adalah aspek keselamatan dan kesiapan infrastruktur distribusi. Berbeda dengan LPG biasa, CNG bekerja dalam tekanan sangat tinggi sehingga memerlukan standar pengamanan yang jauh lebih ketat.

Selain itu, harga produksi tabung komposit Type-4 saat ini masih relatif mahal karena menggunakan material fiber berteknologi tinggi.

Indonesia juga harus menyiapkan sistem pengisian ulang atau refilling CNG rumah tangga yang benar-benar baru jika program ini diterapkan secara massal.

Karena itu, Lemigas masih melakukan kajian teknis dan pengujian keselamatan yang ditargetkan rampung dalam tiga bulan ke depan.

Pemerintah klaim bisa pangkas subsidi hingga 30 Persen

Pemerintah optimistis konversi LPG ke CNG mampu menekan subsidi energi hingga 20–30 persen sekaligus menghemat devisa negara dari impor LPG.

Menurut Laode, pasokan gas bumi nasional dinilai cukup melimpah dan dapat dipenuhi dari lapangan migas domestik maupun fasilitas LNG yang sudah tersedia, termasuk di Bontang dan Papua.

“Hasil simulasi menunjukkan penghematan bisa mencapai sekitar 30 persen,” katanya.

Bisa jadi babak baru energi rumah tangga Indonesia

Jika berhasil direalisasikan, proyek ini bukan hanya membuka era baru energi rumah tangga nasional, tetapi juga berpotensi menjadikan Indonesia sebagai pionir dunia dalam penggunaan tabung CNG komposit ukuran kecil untuk masyarakat luas.

Langkah tersebut sekaligus menjadi taruhan besar pemerintah dalam mengurangi ketergantungan terhadap LPG impor dan mempercepat transisi menuju energi domestik berbasis gas bumi.(P-sm)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan