RI kini miliki 200 juta ‘gamer’: Industri gim ditargetkan tumbuh 4 persen, valuasi pasar Rp34 T

Jeffrey Rawis
Kamis, 2 Juli 2026
2 menit membaca

PRIORITAS, 2/7/26 (Jakarta): Berdasarkan data terkini, pihak Kementerian Ekonomi Kreatif menargetkan ‘game‘ (gim) yang dikembangkan pengembang lokal mampu meningkatkan valuasi pasar gim Indonesia yang secara makro diperkirakan tumbuh empat persen secara year on year.

Sebagaimana diungkapkan Direktur Gim Kementerian Ekonomi Kreatif, Luat Sihombing, pemerintah berharap nilai yang dihasilkan pengembang lokal, baik dari konsumsi domestik maupun ekspor, dapat meningkat empat persen dibandingkan tahun lalu.

“Kita juga berharap bahwa nilai yang di-generate oleh para developer lokal kita nantinya, baik di domestic consumption maupun ekspor, bisa bertambah empat persen dari yang mereka generate di tahun sebelumnya,” ujar Luat, dikutip Kamis (25/6/26) lalu.

Valuasi pasar gim di Indonesia setara Rp34 triliun

Selanjutnya Luat menjelaskan, berdasarkan riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) pada 2025, valuasi pasar gim di Indonesia mencapai sekitar US$2 miliar atau setara Rp34 triliun.

Selain itu, Indonesia juga memiliki lebih dari 200 juta gamer aktif, menjadikan RI salah satu negara dengan basis pemain video game terbesar di dunia. Meski demikian, pangsa pasar (market share) pengembang lokal masih sangat kecil.

Sekitar 0,17-0,34 persen gim dari pengembang lokal independen (indie), menurutnya, ikut bersaing di pasar nasional. Sementara itu, hanya 2,5 persen dari total nilai pasar gim nasional yang dinikmati pengembang lokal.

Gim buatan Indonesia, lanjutnya, juga belum memberikan kontribusi ekspor yang signifikan karena produk digital belum sepenuhnya tercatat dalam kontribusi keuangan negara.

“Investasi di sektor gim juga belum terlalu besar karena yang paling aktif dalam industri gim sebenarnya adalah investasi pada proyeknya, bukan pada perusahaannya,” ujar Luat, dikutip Beritasatu.com.

Kini, melalui kerja sama dengan platform monetisasi konten Coda, Kementerian Ekonomi Kreatif berharap dapat meningkatkan nilai ekspor sekaligus mendorong konsumsi domestik.

Adapun infrastruktur yang dihadirkan Coda diharapkan mampu mengembangkan bisnis domestik Indonesia dan menyediakan sarana bagi penyedia konten yang ingin menyasar pasar Indonesia. (P-*/Bst/jr)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025