Aktivis anti-korupsi dan tokoh oposisi Rusia, Alexei Navalny, dibunuh dengan racun katak panah dari Ekuador.(visegrad24)PRIORITAS, 14/2/26 (Munich): Presiden Rusia, Vladimir Putin, dituding membunuh lawan politiknya, Alexei Navalny, dengan racun katak panah dari Amerika Selatan.
“Sekarang ada bukti Putin membunuh Alexei dengan senjata kimia. Vladimir Putin adalah seorang pembunuh. Dia harus dimintai pertanggungjawaban atas semua kejahatannya”, tegas istri Navalny, Yulia Navalnaya, pada Konferensi Keamanan Munich, Jerman.
Menurut informasi yang diperoleh Beritaprioritas.com hari Sabtu (14/2/2026), hasil analisis forensik lima negara Eropa terhadap sampel biologis Navalny yang diselundupkan setelah kematiannya, mengkonfirmasi ia dibunuh dengan epibatidin.
Racun itu ditemukan pada katak panah di Amerika Selatan dan tidak ditemukan secara alami di Rusia.
“Saya yakin sejak hari pertama bahwa suami saya telah diracuni. Saya berterima kasih kepada negara-negara Eropa atas kerja teliti yang mereka lakukan selama dua tahun dan atas pengungkapan kebenaran.”, kata Yulia didampingi para diplomat tinggi Inggris, Jerman, Belanda, dan Swedia.
Racun mematikan
Media i24News melaporkan analisis tersebut “secara meyakinkan mengkonfirmasi” keberadaan racun epibatidin dalam tubuh Navalny.
Racun epibatidine adalah neurotoksin, salah satu racun paling mematikan di dunia.
Racun ini hanya dapat ditemukan pada kulit katak panah Ekuador. Racun ini menyebabkan kelumpuhan, henti napas, dan kematian yang menyakitkan.
Pada saat kematiannya, Navalny sedang ditahan pihak Rusia di sebuah kamp penjara “rezim khusus” sekitar 40 mil di utara Lingkaran Arktik.
Kementerian Luar Negeri Inggris menyatakan tidak ada penjelasan yang masuk akal mengapa racun epibatidine ditemukan dalam sampel yang diambil dari tubuh Navalny.
“Hanya pemerintah Rusia yang memiliki sarana, motif, dan kesempatan untuk menggunakan racun mematikan ini terhadap Alexei Navalny selama masa penahanannya di Rusia”, kata Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper. seperti dirilis BBC.
Menurut Cooper, Rusia memandang Navalny sebagai ancaman, sehingga dia harus disingkirkan. Inggris, Swedia, Prancis, Belanda, dan Jerman, menuduh Rusia sebagai pelaku peracunan tersebut.
“Dengan menggunakan racun semacam ini, negara Rusia menunjukkan alat-alat keji yang dimilikinya dan ketakutan luar biasa yang dimilikinya terhadap oposisi politik,” tambahnya.
Kremlin belum memberikan komentar terkait tuduhan tersebut.

Katak panah yang ditemukan di Ekuador, Amerika Selatan ini, tubuhnya mungil hanya sekitar 5 cm, namun memiliki racun yang sangat kuat dan mematikan di kulitnya.(amnh)
Aktivis anti-korupsi
Alexei Navalny (47 tahun) dikenal sebagai seorang aktivis anti-korupsi dan pemimpin oposisi Rusia yang paling vokal melakukan kritik terhadap Presiden Vladimir Putin.
Pada tahun 2020, ia sempat diracuni dengan racun saraf Novichok juga dilakukan agen rahasia Rusia. Namun nyawanya selamat setelah ia diterbangkan dengan pesawat untuk menjalani perawatan di Jerman.
Setelah sembuh Navalny nekad pulang kembali ke Rusia dan ditangkap aparat keamanan di bandara saat tiba Rusia dengan tuduhan perbuatan pidana palsu.
Ia akhirnya ditahan di penjara Rusia di koloni penjara Arktik, namun diumumkan meninggal mendadak pada 16 Februari 2024.
Sekutu Navalny telah berulang kali menuduh Rusia membunuhnya, tetapi dibantah pihak Rusia sebagai tidak masuk akal. Para pejabat Rusia bersikeras Navalny meninggal karena “campuran berbagai penyakit.”
Menurut laporan Rusia, Navalny berjalan-jalan sebentar di dalam penjara, tetapi ia merasa tidak enak badan, kemudian pingsan dan tidak pernah sadar kembali.
Presiden Rusia Vladimir Putin, sebulan setelah kematian Navalny hanya menyatakan kepergian seseorang “selalu merupakan peristiwa yang menyedihkan”.(P-Jeffry W)