Lompat ke konten
Selasa, 20 Oktober 2026
Breaking
NASIONALEkonomiKeuanganPemerintahan

Belanja APBN Rp1.300 triliun siap kucur di triwulan IV

Herling Tumbel2 menit baca
Bagikan
Belanja APBN Rp1.300 triliun siap kucur di triwulan IV
Presiden Prabowo Subianto menerima laporan makroekonomi di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (19/10/2026). (Courtesy: Dok. BPMI Setpres)

PRIORITAS, 19/10/26 (Jakarta):Β Presiden Prabowo Subianto menerima laporan menteri terkait kondisi perekonomian nasional yang relatif stabil di tengah dinamika global. Pemerintah siap memacu ekspor dan menggelontorkan belanja APBN sebesar Rp1.300 triliun pada triwulan IV 2026 demi menjaga daya beli masyarakat.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dan Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, menyampaikan langsung laporan makroekonomi tersebut di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (19/10/2026).

Strategi pacu ekspor dan pembentukan Satgas

Airlangga Hartarto menegaskan, pemerintah fokus meningkatkan kinerja ekspor dari seluruh sektor industri, termasuk manufaktur.

Hambatan perdagangan akan diselesaikan melalui satuan tugas khusus dengan melakukan debottlenecking atau penguraian hambatan ekspor, manufaktur dan seluruh sektor potensial nasional, serta penanganan hambatan dilakukan berdasarkan penugasan langsung dari Presiden Prabowo.

Realisasi belanja APBN triwulan IV 2026 melonjak

Pada bagian lain, Menteri Keuangan Suahasil Nazara menjelaskan, pemerintah melakukan efisiensi anggaran akhir tahun secara rutin tanpa menghentikan belanja penting.

Nilai belanja pada sisa tahun ini diproyeksikan lebih tinggi dari periode sebelumnya.

Periode Triwulan IV (Q4)

Nilai Belanja APBN

Dampak Ekonomi

Triwulan IV 2025

Rp1.200 Triliun

Stimulus dasar tahun lalu

Triwulan IV 2026

Rp1.300 Triliun

Mendorong konsumsi & bantuan pangan

"Belanja APBN akan terus lebih tinggi dibandingkan kuartal keempat tahun lalu. Ini akan mendorong kegiatan konsumsi dan mendorong government expenditure di perekonomian kita," tutur Suahasil, seperti dilansir dari siaran pers melalui situs resmi presidenri.go.id Senin (19/10/26) malam.

Resiliensi domestik dan stabilitas sektor keuangan

Pemerintah melaporkan bahwa transaksi di masyarakat dan kondisi makroekonomi Indonesia masih sangat tangguh (resilient) menghadapi ketidakpastian ekonomi global dari Amerika Serikat dan Eropa.

Untuk menjaga stabilitas ke depan, Kementerian Keuangan memperkuat koordinasi dengan Bank Indonesia (BI) dan mendukung Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam pengawasan mikroprudensial sektor keuangan nasional. (P-BPMI Setpres/ht)

Komentar

Rekomendasi untuk Anda

Pasang iklan Anda di sini

Jangkau pembaca Berita Prioritas melalui salah satu kanal berita paling aktif di wilayah ini.

Email Kami