Pengurus organisasi Perhimpunan Tou Minahasa (PTM) meletakkan karangan bunga di Monumen Perjuangan Jatinegara dalam rangka Hari Pahlawan 10 November 2025. (Dok. PTM)PRIORITAS, 10/11/25 (Jakarta): Ada sesuatu yang berbeda di Hari Pahlawan 10 November 2025 ini. Sebuah komunitas dari etnis Minahasa, Sulawesi Utara, “Perhimpunan Tou Minahasa” (PTM), melakukan ziarah – bukan di Taman Makam Pahlawan – melainkan di ujung pertemuan Jalan Jatinegara Barat, Jatinegara Timur, dan Matraman Raya, tepatnya di seberang Gereja GPIB Koinonia.
Di situ terdapat patung terdiri atas dua laki-laki, yang satu dewasa, satu lagi anak-anak menuju remaja. Bisa jadi tak banyak yang tahu siapa mereka, padahal kedua laki-laki itu adalah pejuang kemerdekaan yang rela berkorban jiwa dan raga. Mereka adalah Martinus Runtunuwu dan anaknya Bernard Runtunuwu yang diketahui gugur dalam pertempuran di usia 14 tahun.
Pemerintah membuat patung keduanya di lokasi yang diberi nama “Monumen Perjuangan Jatinegara”. Kabarnya, ayah dan anak tersebut berperang melawan Belanda di daerah Jatinegara yang menjadi barikade pejuang Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS), sebuah laskar perjuangan kemerdekaan Indonesia yang anggotanya berasal dari Sulawesi dan Indonesia Timur, di mana ayah dan anak Runtunuwu bergabung.

Pertemuan Jalan Jatinegara Barat, Jatinegara Timur, dan Matraman, di mana terdapat Bethelkerk (atau Gereja Bethel) yang kelak menjadi Gereja GPIB Koinonia. Foto diambil tahun 1910. Di masa perjuangan kemerdekaan, daerah ini menjadi basis pertempuran seorang anak anak remaja Bernard Runtunuwu yang gugur di usia 14 tahun. Di tempat ini dibangun Monumen Perjuangan Jatinegara. (Ist.)
Sosialisasi dan usul buat pemerintah
Papan karangan bunga pengurus PTM itu diletakkan di monumen tersebut tepat pukul 12.00 WIB di Hari Pahlawan 10 November 2025, oleh Pengurus yang dipimpin langsung Pendiri Willy Rawung, didampingi pengurus lainnya seperti Teddy Matheos, Ny Willy Rawung dan Rudy Sumampouw.
PTM sendiri merupakan organisasi komunitas berbasis warga (Tou) Minahasa di rantau, khususnya di Jakarta dan sekitarnya. PTM dipimpin Ketua Umum Ayub D.P. Junus dan Sekretaris Jenderal Grace Tielman.
Menurut Pendiri Perhimpunan Tou Minahasa, Willy Rawung, PTM memang sengaja memilih melakukan ziarah di lokasi itu pada peringatan Hari Pahlawan tahun ini. Hal itu bertujuan melakukan sosialisasi kepada masyarakat luas termasuk kepada Tou Minahasa, bahwa ada pahlawan pejuang yang berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara, yang monumennya dibangun di tengah kota Jakarta.
“Karena masih banyak orang belum tahu dan memahami monumen ini, padahal dibangunnya monumen pejuang ayah dan anak, Martinus dan Bernard Runtunuwu, karena mereka berdua ikut berperang melawan Belanda,” ungkap Willy Rawung, seperti dikutip dari minahasaraya.com.
Menurut Rawung, sang anak, Bernard Runtunuwu yang masih berumur 14 tahun, berperang melawan Belanda hanya dengan bersenjatakan katapel.
Willy Rawung menambahkan, monumen tersebut banyak yang belum tahu, sebab sejak diresmikan Gubernur DKI Tjokropranolo pada 7 Juni 1982, tak diberi nama pahlawannya. Karena itu pihaknya mengusulkan kepada pemerintah Provinsi DKI Jakarta, agar monumen yang saat ini bernama “Monumen Perjuangan Jatinegara” diberi nama pahlawannya.
Diketahui, Monumen Perjuangan Jatinegara dirancang dan dibuat oleh pematung Haryadi dengan latar belakang Gereja GPIB Koinonia. Monumen Perjuangan Jatinegara berbentuk dua patung manusia, berdiri di landasan beton setinggi tiga meter dari permukaan tanah.
Patung pertama adalah sosok pemuda Martinus Runtunuwu. Patung ini dibangun dengan tinggi 2,5 meter, berdiri dengan tangan sedekap di dada sambil memeluk ujung senapan, dilengkapi peralatan perang seperti pistol dan granat.
Di sampingnya, berdiri patung anak laki-laki, Bernard Runtunuwu, setinggi satu meter, mengenakan celana pendek, tanpa baju, dan kaki telanjang. Di lehernya bergantung sebuah ketapel.
Bernard Runtunuwu dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama (TMPNU) Kalibata, Jakarta, dan tercatat sebagai pahlawan termuda Indonesia di TMPNU tersebut.

Makam Bernard Runtunuwu di TMPNU Kalibata Jakarta, pahlawan termuda gugur dalam usia 14 tahun. (Dok. Beritaprioritas)
Perjuangan heroik rakyat Jakarta Timur
Dari informasi yang diperoleh, pembangunan Monumen Perjuangan Jatinegara waktu itu diprakarsai Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Namun peresmiannya dilakukan Gubernur Tjokropranolo.
Latar belakang pembangunan Monumen Perjuangan Jatinegara adalah untuk mengenang perjuangan heroik rakyat Jakarta Timur, khususnya di daerah Jatinegara dan sekitarnya, melawan penjajah selama masa revolusi kemerdekaan Indonesia.
Sejarah mencatat, sejak November 1945 hingga Januari 1946, kerap terjadi pertempuran besar antara pemuda Indonesia melawan serdadu Inggris dan Belanda di sepanjang jalur Pasar Senen dan Kramat Raya serta di Meester Cornelis (sekarang dikenal dengan sebutan Pasar Mester Jatinegara). (P-ht)
No Comments