Penerus rezim Iran, Mojtaba Khamenei, diduga terluka parah dan disembunyikan

Jeffry Wuisan
Selasa, 10 Maret 2026
4 menit membaca

PRIORITAS, 10/3/26 (Jerusalem): Putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei, yang sudah dinobatkan sebagai penerus rezim Iran, Mojtaba Khamenei (56 tahun), diduga kuat masih terluka parah dan disembunyikan.

Bocoran laporan dari sejumlah sumber rahasia di Iran seperti dikutip Beritaprioritas.com, hari Selasa (10/3/26), menyebutkan Mojtaba mengalami luka cukup parah di bahu dan dada kiri. Kemungkinan patah rusuk.

Ia juga dilaporkan mengalami patah kaki, akibat terkena serangan pengemboman pesawat tempur Israel dan AS pada awal pecahnya perang di negara tersebut, 28 Februari 2026 lalu.

Pada saat serangan itu, Mojtaba dilaporkan sedang mendampingi ayahnya, Ali Khamenei,  dalam pertemuan rahasia dengan para jenderal di ruang bawah tanah di Teheran.

Sehari setelah pengeboman itu, Iran akhirnya secara resmi mengakui Ali Khamenei dan setidaknya 6 jenderal telah tewas.

Keberadaan Mojtaba Khamenei hingga kini belum diketahui sejak saat itu. Sumber lain mengatakan, Mojtaba dirawat khusus para dokter di sebuah tempat persembunyian, yang dikawal ketat pasukan Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC).

Mojtaba kini tidak berada di Teheran, karena bunker bawah tanah dengan terowongan yang membentang sejauh 5 kilometer sudah dihancurkan puluhan sortie serangan jet tempur Israel.

Dugaan kuat pasukan IRGC sengaja menyembunyikannya di sebuah bunker bawah tanah lain,  di tempat rahasia yang belum diketahui publik.

 

Curiga sudah tewas

Sejak ia diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, 8 Maret 2026 lalu, Mojtaba tidak pernah tampil di depan umum, sebagaimana kebiasaan dua pendahulunya, Ayatollah Ruhollah Khomeini dan Ayatollah Ali Khamenei, ayahnya.

Banyak warga Iran curiga Mojtaba mungkin sudah tewas, namun sengaja ditampilkan seakan-akan masih hidup, untuk menjaga stabilitas moral militer dan politik Iran.

Ada laporan Mojtaba, telah tewas dalam serangan udara Israel beberapa hari yang lalu.

Iran mungkin telah secara diam-diam memilih Pemimpin Tertinggi baru secara pribadi, sambil menyebarkan cerita Mojtaba Khamenei yang sudah meninggal adalah Pemimpin Tertinggi resmi.

Jika dia sudah meninggal, maka AS dan Israel tidak akan dapat menemukannya dan mencoba membunuhnya dalam serangan udara lainnya.

“Ia dilaporkan ‘terluka’ beberapa hari yang lalu. Apakah ia sudah meninggal, dan Iran telah menunjuk Pemimpin Tertinggi baru secara diam-diam, kami tidak tahu. Ini adalah bagian dari operasi psikologis mereka”, kata seorang warga Teheran, tanpa mau menyebut identitasnya.

Namun banyak pendukung dinasti Khamenei yakin ia masih hidup meski tidak ada penampilan publik, pernyataan, atau penampakan apa pun.

Media Ynetnews melaporkan Mojtaba Khamenei terluka setelah selamat dari upaya pembunuhan pada awal perang.

Perkembangan ini terjadi di tengah ketidakpastian yang terus berlanjut mengenai proses suksesi, setelah kematian Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan pembuka operasi militer Israel dan Amerika Serikat, Roaring Lion dan Epic Fury.

 

Pertaruhkan hidup Mojtaba

Laporan sebelumnya dikutip di Israel dan stasiun televisi terkait dengan oposisi, Iran International, mengatakan Majelis Pakar Iran beranggotakan 88 orang ulama telah memilih Mojtaba Khamenei sebagai pengganti ayahnya yang tewas.

Majelis Pakar Iran, bertanggung jawab berdasarkan konstitusi Iran untuk menunjuk pemimpin tertinggi,  ketika posisi tersebut kosong.

Sejak dipilih sebagai pemimpin tertinggi rezim Iran, Mojtaba Khamenei otomatis memegang otoritas tertinggi atas militer, dinas keamanan, dan kebijakan negara utama.

Menurut laporan, beberapa anggota keluarga dekat Mojtaba Khamenei — termasuk ayah, ibu, istri, dan putranya — tewas dalam serangan pertama di kompleks kediaman pemimpin tertinggi di Teheran.

Iran mempertaruhkan kelangsungan hidup Mojtaba, karena ada spekulasi Israel mungkin juga akan menargetkannya seperti ayahnya.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump,  juga memperingatkan memilih putra Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran tidak dapat diterima.

Trump mengatakan langkah Iran tersebut akan mewakili kelanjutan kebijakan garis keras ayahnya, Ali Khamenei.

Menurut Times of Israel para pengamat politik internasional menilai, Mojtaba, bisa menjadi lebih keras dari ayahnya, karena ia banyak didik para pejabat Garda Revolusi Iran.

Mojtaba yang lahir 9 September 1969 di Mashhad, Iran Timur, pernah bertugas di Garda Revolusi selama perang Iran-Irak.

Ia disebutkan pernah bergabung dengan batalion Habib, yang membantunya membangun jaringan dengan tokoh-tokoh  keamanan dan intelijen Iran.

Selama mendampingi ayahnya, ia juga memiliki pengaruh besar atas kebijakan politik dan keamanan termasuk hubungan erat dengan IRGC, pasukan Quds dan Basij (milisi paramiliter Iran).

Para pejabat Iran mengatakan Mojtaba ingin balas dendam atas kematian ayahnya termasuk keluarganya (P-Jeffry W)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025