Pemimpin Iran Khamenei bisa tumbang, demo besar pecah di 32 kota

Jeffry Wuisan
Kamis, 1 Januari 2026
4 menit membaca

PRIORITAS, 1/1/26 (Teheran): Negara Iran yang dipimpin Ayatollah Ali Khamenei kemungkinan bisa tumbang. Aksi demo besar-besaran masyarakat Iran kini sudah pecah di 32 kota dan berlanjut hingga malam di tahun baru 2026 ini.

Menurut sejumlah siaran video yang beredar luas di media sosial, menunjukkan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Pasukan Revolusi Islam Iran, pengawal utama rezim Khamenei yang selama ini ditakuti, justru mundur dan lari setelah dikejar massa pendemo di sejumlah kota.

Media Iran International seperti dikutip Beritaprioritas.com, hari Kamis malam (1/1/2026), melaporkan aksi unjukrasa masyarakat yang kecewa dan marah terhadap pemerintah, sudah meluas ke 32 kota besar di seluruh Iran.

Unjukrasa besar ini sudah memasuki hari kelima sejak pecah pertama kali di ibukota Iran, Teheran hari Minggu lalu.

Semula pemerintah mengira aksi protes besar-besaran yang dimotori para pedagang di Teheran, hanya  dilakukan akibat anjloknya mata uang Iran, Rial. Tetapi kini malah meluas pada tuntutan revolusi baru untuk membubarkan rezim Khamenei.

Pendemo ditembak

Dari berbagai video yang beredar, tembakan-tembakan senjata api dari aparat keamanan terdengar di Teheran dan sejumlah kota tempat para pendemo melakukan aksi protes terhadap pemerintah Iran.

Meski begitu massa pendemo tidak mundur dan menjadi semakin marah kemudian mengejar pasukan keamanan IRGC yang menembak mereka.

Demo besar-besaran yang memprotes pemerintah dan kepemimpinan Ayatollah Khamenei pecah di 32 kota di Iran.(thewarpolitics)

Para pendemo juga terlihat menghancurkan dan membalikkan mobil petugas keamanan di kota Nourabad di propinsi Lorestan.

Begitupun dengan Polisi Iran yang dikenal dengan sebutan Basiji, juga diserang balik para pendemo setelah bertindak represif terhadap pengunjukrasa di sejumlah kota.

Bahkan pendemo ramai-ramai menangkap dan memukul sejumlah polisi Iran di kota Harsin (Lakestan) di Provinsi Kermanshah, Iran.

Patung tokoh Iran yang dikenal dekat dengan Khamenei, Ebrahim Raisi, yang baru dipasang beberapa hari di Ardabil, dirobohkan massa pendemo.

Teriakan ‘Matilah Khamenei’

Para pendemo semakin berani menentang pemimpin rezim Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang selama ini disanjung dan ditakuti.

“Matilah Khamenei !”, teriak para pengunjukrasa di kota Kohdasht, lapor media Iran International.

Laporan itu menunjukkan video para demonstran semakin banyak turun ke jalan di Kohdasht, Provinsi Lorestan dan mengadakan aksi protes.

Video tersebut menunjukkan para pengunjuk rasa dengan berani meneriakkan “Matilah Khamenei” di hadapan petugas keamanan Iran yang bersenjata.

Video lain yang diterima Iran International dari kota Isfahan, juga menunjukkan seorang demonstran perempuan meneriakkan “Matilah Khamenei” kepada para petugas.

Unjukrasa terhadap pemerintah dan pemimpin Iran ini, tidak hanya terjadi di sejumlah kota besar di Teheran tetapi sudah menyebar hampir ke semua kota-kota lain, yang berjarak cukup jauh dari ibukota Iran.

Mahasiswa sudah ikut

Para mahasiswa dari setidaknya 7 kampus besar di Iran, kini juga sudah ikut bergabung dengan pengunjukrasa yang semula dimotori para pedagang di Teheran.

Para pengamat menilai, turunnya para kaum intelektual kampus ini, menandakan kondisi di Iran memang sudah kritis. Bahkan di ambang ambruk.

Seorang pengunjukrasa Iran yang diduga seorang mahasiswa duduk di tengah jalan berhadapan langsung dengan para petugas keamanan bermotor.(osint)

Di kota Nahavand para pengunjukrasa secara terang-terangan meneriakkan tuntutan pembubaran negara yang dipimpin Ayatollah Khamenei.

“Kami tidak menginginkan Republik Islam”, teriak para demonstran dalam aksi pada 1 Januari 2026. Mereka melakukan pawak aksi unjukrasa pada malam hari.

Selain para mahasiswa, serikat pekerja Perusahaan Bus Teheran dan sekitarnya yang terdiri dari ribuan sopir, kondektur dan montir, juga mengeluarkan seruan untuk mendukung aksi protes tersebut.

“Kaum yang kurang beruntung berhak turun ke jalan untuk menentang kebijakan yang menindas, serangan pemerintah terhadap mata pencaharian masyarakat, korupsi struktural, dan kesenjangan kelas”, demikian penyataan serikat pekerja Perusahaan Bus Teheran.

Bagian lain dari seruan tersebut menyatakan serikat pekerja Perusahaan Bus Teheran menyampaikan protesnya,  sambil tetap mempertahankan kemerdekaannya dari gerakan-gerakan monopoli dan anti-pekerja.

 

Nasib lebih pahit

Salahsatu tokoh oposisi yang kini masih ditahan rezim Iran, Arsham Rezaei, menulis seruan dari penjara Qezel Hesar dengan menyebut ”Nasib yang lebih pahit daripada Gaddafi menanti Khamenei”.

Ia merujuk pada pemimpin Libya, Muamaar Gaddafi yang akhirnya tewas dibunuh milisi Dewan Transisi Nasioanal yang kecewa terhadap pemerintahnya pada 20 Oktober 2011 lalu.

Dalam suratnya yang ditujukan kepada pemimpin Iran Khamenei,  Arsham Rezaei, memperingatkan masyarakat yang merasa tertindas akan mengadilinya.

Ia juga menulis surat kepada pasukan IRGC yang represi untuk meletakkan senjata dan bergabung dengan rakyat. ia memperingatkan para agen Iran itu, untuk belajar dari “pengalaman pahit para penindas,” merujuk pada nasib Presiden suriah, Bashar al-Assad.

“Orang-orang ini (masyarakat pendemo) sudah muak dengan Anda dan penindasan Anda yang tak terhitung jumlahnya dan tidak ada lagi yang perlu mereka khawatirkan. Dengan setiap peluru yang Anda arahkan kepada mereka, Anda akan melihat banyak sekali Pejman, Hadits, dan Pouya di hadapan Anda”, katanya. (P-Jeffry W)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025