Ayatollah Ali Khamenei pada perayaan ulang tahun Eid Al-Mab’ath, di Teheran, hari Sabtu 17 Januari 2026, mengakui ribuan pendemo tewas dalam aksi protes di Iran.(irnanewsagency)PRIORITAS, 17/1/26 (Teheran): Pemimpin tertinggi rezim Iran, Ayatollah Ali Khamenei, untuk pertama kalinya secara terbuka mengakui ribuan orang tewas selama protes baru-baru ini di negaranya.
Seperti dikutip Beritaprioritas.com dari BBC, hari Sabtu (17/1/2026), Khamenei membuat pernyataan tersebut dalam pertemuan dengan warga Iran pada perayaan Idul Mab’ath di Teheran, ibu kota Iran.
Dalam pidatonya, Ayatollah Ali Khamenei mengatakan ribuan orang telah tewas selama kerusuhan tersebut. Namun ia menyalahkan kematian itu pada “para penghasut”.
“Ribuan orang tewas, beberapa di antaranya dengan cara yang tidak manusiawi dan biadab”, katanya.
Menurut Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia Iran (HRANA) yang berbasis di AS, kekerasan aparat keamanan terhadap pengunjukrasa di Iran telah menelan 3.090 korban jiwa.
Aksi protes besar-besaran di Iran dimulai ketika massa melakukan unjukrasa terhadap pemerintah, terkait kesulitan perekonomian pada 28 Desember 2025.
Sejak itu pecah kerusuhan antara pendemo dan petugas keamanan Iran. Ribuan pendemo sengaja ditembak mati aparat keamanan Iran.
Pemerintah Iran melakukan pemutusan terhadap jaringan internet, sehingga membuat dunia internasional sangat sulit untuk mendapatkan informasi yang jelas terhadap pembantaian tersebut.
Ancaman Presiden AS
Presiden AS Donald Trump baru-baru ini mendesak para demonstran anti-pemerintah Iran untuk terus berdemonstrasi.
Ia juga mengancam akan melakukan intervensi militer, jika pasukan keamanan iran membunuh para pendemo.
Sejak saat itu, protes tersebut berubah menjadi seruan untuk mengakhiri kekuasaan pemimpin tertinggi rezim Iran, Ali Khamenei.
Pemerintah Iran menyebut demonstrasi tersebut sebagai kerusuhan yang didukung musuh-musuh Iran.
Aparat keamanan Iran menghadang para pengunjuk rasa dengan kekerasan dan tembakan mematikan.
Video-video beredar di berbagai media sosial menunjukkan pasukan keamanan Iran menembak demonstran. BBC Persian dan BBC Verify telah memverifikasi keasliannya.
Internet dan layanan komunikasi di Iran juga hampir sepenuhnya terputus lebih dari sepekan.
Pada hari Sabtu siang, konektivitas secara keseluruhan tetap sekitar 2% dari tingkat normal, menurut lembaga pemantau keamanan siber NetBlocks.
Laporan mengenai kerusuhan menurun dalam beberapa hari terakhir, tetapi dengan akses internet yang masih dibatasi, perkembangan di lapangan masih belum jelas.
Dalam pidatonya pada hari Sabtu, Khamenei juga mengatakan Iran menganggap Presiden AS Donald Trump sebagai seorang kriminal.
Ia mengatakan AS harus dimintai pertanggungjawaban atas kerusuhan baru-baru ini. (P-Jeffry W)