Dialog interaktif budaya, masyarakat adat, dan tradisi budaya Gorontalo di Huntu Art Distrik, Gorontalo, Sabtu (15/8/26). (‘Courtesy’ Antara/Faradila Alim)PRIORITAS, 19/8/26 (Gorontalo): Kantor Pelestarian Kebudayaan Provinsi Gorontalo melibatkan komunitas dan perguruan tinggi dalam pelestarian budaya. Langkah tersebut bertujuan mendekatkan isu kebudayaan kepada masyarakat melalui dialog interaktif.
Kepala Kantor Pelestarian Kebudayaan Provinsi Gorontalo Mochammad Andri WP mengatakan pendekatan tersebut menjadi langkah awal. Menurut dia, kegiatan kebudayaan perlu melibatkan lebih banyak unsur masyarakat agar perspektifnya semakin beragam.
“Kami coba mengubah kegiatan ini yang mendekati langsung dengan berbagai unsur untuk mendapatkan perspektif yang beragam,” kata Andri. Ia berharap pembahasan kebudayaan tidak berhenti pada kalangan tertentu, tetapi menjangkau masyarakat secara langsung.
Kantor Pelestarian Kebudayaan mengawali langkah itu melalui diskusi bersama komunitas dan perguruan tinggi. Kegiatan tersebut melibatkan Huntu Art Distrik (Hartdisk) dan Universitas Negeri Gorontalo.
Melansir ANTARA News Gorontalo, dialog tersebut mengangkat tema budaya, masyarakat adat, dan tradisi budaya Gorontalo. Kegiatan berlangsung di Kabupaten Bone Bolango pada Sabtu (15/8/2026).
Andri mengatakan pihaknya akan menggelar kegiatan serupa secara rutin dan berkala. Selain komunitas dan akademisi, kegiatan berikutnya akan melibatkan organisasi, seniman, dan masyarakat.
Menurut dia, pelestarian budaya merupakan pekerjaan panjang yang membutuhkan partisipasi banyak pihak. Karena itu, keterlibatan tidak harus datang dari pihak yang bergerak langsung dalam bidang kebudayaan.
“Kami minta partisipasi setiap stakeholder, setiap entitas yang tidak harus berhubungan langsung dengan kebudayaan,” ujarnya.
Pelibatan berbagai unsur masyarakat juga dapat membuka ruang pembahasan budaya secara lebih dekat. Dengan cara tersebut, masyarakat dapat memahami bahwa kebudayaan berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari.
Andri menjelaskan cakupan kebudayaan sangat luas dan menyentuh berbagai aktivitas masyarakat. Karena itu, upaya pelestarian tidak cukup hanya melalui kegiatan seni atau agenda budaya tertentu.
“Namanya kebudayaan luas, sebab aktivitas partisipasi selalu berhubungan dengan kebudayaan,” katanya.
Ia menilai komunitas memiliki peran penting dalam memperkenalkan isu budaya kepada masyarakat. Sementara itu, perguruan tinggi dapat memberikan perspektif akademis untuk memperkaya pembahasan.
Kolaborasi tersebut juga membuka ruang bagi masyarakat adat untuk menyampaikan pengalaman dan pengetahuan lokal. Dengan demikian, pelestarian budaya dapat berjalan melalui pendekatan yang lebih partisipatif.
Selain itu, keterlibatan seniman dapat memperkuat penyampaian pesan budaya kepada generasi muda. Mereka dapat menjadi penghubung antara tradisi, kreativitas, dan perkembangan masyarakat saat ini.
Andri berharap keterlibatan komunitas, akademisi, masyarakat adat, dan pemangku kepentingan semakin kuat. Ia menilai kolaborasi tersebut dapat memperkokoh upaya pelestarian budaya Gorontalo.
Menurutnya, keberlanjutan tradisi membutuhkan keterlibatan generasi penerus. Karena itu, masyarakat perlu mengenalkan nilai, tradisi, dan pengetahuan budaya kepada anak muda.
Pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat juga diharapkan membuat isu kebudayaan semakin relevan. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut menentukan arah pelestarian budaya.
Kantor Pelestarian Kebudayaan Provinsi Gorontalo pun terus mendorong ruang dialog bersama berbagai unsur. Langkah itu diharapkan memastikan tradisi budaya Gorontalo tetap dikenal dan diteruskan kepada generasi berikutnya. (P-*Ant/sm)