Garuda Indonesia. (dok. Garuda Indonesia)PRIORITAS, 27/2/2026 (Jakarta): Industri penerbangan Indonesia kembali menjadi pusat perhatian setelah pemerintah memastikan kewajiban pembelian 50 pesawat dari pabrikan Boeing seluruhnya akan dilakukan oleh Garuda Indonesia. Nilai transaksi yang fantastis—yakni US$13,5 miliar—menjadikan komitmen ini sebagai salah satu agenda paling strategis dalam kesepakatan dagang terbaru antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Konfirmasi tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Perhubungan RI, Dudy Purwagandhi, ketika ditemui di Stasiun Gambir. Ia memastikan bahwa tidak ada maskapai selain Garuda Indonesia yang menjadi pihak pembeli dalam skema tersebut.
“Iya Garuda Indonesia semua, bukan maskapai lain,” ujarnya singkat, menegaskan arah komitmen pembelian dalam kerangka Agreement on Reciprocal Tariff yang telah disepakati kedua negara.
Kesepakatan dagang yang ditandatangani pekan lalu bertajuk Toward a New Golden Age for the U.S.–Indonesia Alliance, membuka babak baru hubungan ekonomi kedua negara. Salah satu poin utamanya mewajibkan Indonesia melakukan pengadaan pesawat komersial serta barang dan jasa penerbangan senilai US$13,5 miliar, atau sekitar Rp227,9 triliun.
Meski bukan hal baru -karena kewajiban serupa sudah ada dalam pembahasan tahun sebelumnya— konfirmasi pemerintah semakin menguatkan posisi Garuda Indonesia sebagai pemain utama dalam modernisasi armada nasional. Maskapai pelat merah itu memang tengah menyiapkan rencana jangka panjang untuk menambah 100 pesawat baru hingga 2029.
Sejauh ini, satu unit pesawat Boeing sudah dikirimkan, sementara 49 lainnya dijadwalkan mulai berdatangan paling cepat pada 2031. Kedatangan bertahap tersebut terlihat sebagai bagian dari strategi restrukturisasi yang hati-hati setelah masa turbulensi keuangan yang panjang.
Bukan hal baru
Dilansir Bisnis.com, pekan lalu, pembelian pesawat dari Boeing bukan hal baru. Komitmen pembelian pesawat ini sebelumnya juga telah muncul dalam agenda perdagangan timbal balik antara Indonesia dan Amerika Serikat pada tahun 2025 lalu. Di sisi lain, Garuda Indonesia memang tengah menyiapkan rencana penambahan hingga 100 armada baru hingga 2029 sebagai bagian dari strategi jangka panjang perusahaan.
Seperti diberitakan sebelumnya, kesepakatan pembelian 50 pesawat Boeing oleh Garuda Indonesia telah diteken, dengan satu unit sudah diterima, sementara 49 unit lainnya dijadwalkan mulai dikirim paling cepat pada 2031. Direktur Utama Garuda Indonesia, Wamildan Tsani Panjaitan, menegaskan komitmen perusahaan untuk menjalankan seluruh proses pengadaan sesuai aturan. Dalam audiensi bersama Komisi Pemberantasan Korupsi, ia menekankan pentingnya integritas dalam setiap tahap transaksi.
“Kami pastikan setiap rupiah dalam pengadaan ini dikelola secara bertanggung jawab. Kehadiran KPK memperkuat komitmen kami terhadap integritas,” ujarnya dalam keterangan resmi pada Kamis (2/10/2025).
Untuk itu, Garuda Indonesia menilai perlunya payung hukum yang jelas serta rekomendasi mitigasi risiko agar proses pengadaan pesawat tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari. (P-*/bwl)