Evan Kwee dan Claudia Sondakh. (IG @csondak)PRIORITAS, 6/1/2026 (Jakarta): Nama Evan Kwee kian dikenal di lingkaran elite bisnis Asia. Bukan hanya karena ia merupakan putra dari Kwee Liong Tek, konglomerat Singapura dan pendiri Pontiac Land Group, tetapi juga karena kiprahnya sendiri dalam membangun reputasi global di industri luxury hospitality. Di Indonesia, namanya semakin disorot setelah menikahi Claudia Sondakh, putri pengusaha nasional Peter Sondakh, pendiri Rajawali Group.
Lahir di Singapura pada 1977, Evan tumbuh dalam keluarga dengan tradisi bisnis yang kuat. Pontiac Land Group sendiri merupakan perusahaan properti swasta yang didirikan pada 1961 oleh kakeknya, Henry Kwee, seorang pengusaha tekstil asal Indonesia. Meski demikian, Evan tidak dibesarkan dengan tekanan untuk langsung terjun ke bisnis keluarga.
Pendidikan bisnis ia tempuh di Babson College, Amerika Serikat, dengan gelar Business Administration and Management. Setelah lulus pada 2002, Evan resmi bergabung dengan Pontiac Land Group. Sejak saat itu, perjalanan profesionalnya berlangsung konsisten selama lebih dari dua dekade.
Tonggak penting karier Evan Kwee dimulai ketika ia dipercaya menangani proyek Capella Singapore di Sentosa Island. Meski tidak berlatar belakang desain atau arsitektur, Evan memilih terlibat langsung dalam setiap detail pengembangan proyek. Dari sinilah pendekatan khasnya terbentuk—memadukan kemewahan, konteks budaya, dan pelestarian bangunan bersejarah.
Kolaborasinya dengan arsitek dunia Norman Foster memperkaya perspektifnya dalam merancang hotel mewah yang sensitif terhadap heritage. Filosofi ini kemudian diterapkan dalam berbagai proyek internasional, termasuk Capella Sydney, yang menempati bangunan konservasi batu pasir berusia ratusan tahun.
Kini, Evan Kwee menjabat sebagai Vice Chairman Capella Hotel Group sekaligus Head of Design and Hospitality Pontiac Land Group. Di bawah kepemimpinannya, Capella dan Patina berkembang menjadi merek hospitality mewah berbasis desain yang diperhitungkan secara global. Pada 2025, portofolio Capella bertambah dari delapan menjadi 12 properti, mencakup Capella Taipei, Capella Kyoto, Patina Osaka, hingga Capella at Galaxy Macau.
Salah satu proyek paling ambisius yang ia kawal adalah Fari Islands di Maladewa, kawasan terpadu seluas 88 hektare yang dibangun di atas pulau buatan. Di dalamnya berdiri Patina Maldives, The Ritz-Carlton Maldives, serta satu pulau khusus bagi karyawan. Proyek ini disebut memiliki nilai investasi sekitar dua kali lipat Capella Singapore, yang sebelumnya diperkirakan menelan dana sekitar US$250 juta.
Dalam kehidupan pribadi, Evan menjalani peran sebagai suami dan ayah dari dua anak, Lucas dan Naomi. Pernikahannya dengan Claudia Sondakh mempertemukan dua dinasti bisnis besar Asia Tenggara—Pontiac Land Group dan Rajawali Group—meski Evan dikenal menjaga jarak dari sorotan publik.
Tidak ada data resmi mengenai kekayaan pribadi Evan Kwee. Namun, ia tidak terlepas dari pengaruh keluarga besarnya. Berdasarkan Forbes Real-Time Net Worth per 1 Januari 2026, sang ayah, Kwee Liong Tek, tercatat memiliki kekayaan sekitar US$1,8 miliar dan menempati peringkat ke-34 orang terkaya di Singapura.
Pengaruh Evan Kwee di industri hospitality juga mendapat pengakuan luas. Ia tercatat dalam daftar Tatler Most Influential Singapore 2025, Asia’s Most Influential (Singapore) 2024, serta Asia’s Most Influential (Singapore) 2021.
Di balik nama besar keluarga dan koneksi lintas konglomerasi, Evan Kwee tampil sebagai figur yang bekerja senyap namun berdampak besar—seorang perancang arah baru hospitality mewah Asia yang bertumpu pada desain, keberlanjutan, dan warisan budaya.
Konglomerasi Keluarga Kwee
Nama keluarga Kwee dikenal luas sebagai salah satu dinasti bisnis paling berpengaruh di Singapura, khususnya di sektor properti dan perhotelan mewah. Sorotan terhadap keluarga ini semakin menguat setelah Evan Kwee, generasi ketiga keluarga Kwee, menikah dengan Claudia Sondakh, putri pengusaha Indonesia Peter Sondakh, pendiri Rajawali Group. Lantas, seperti apa kiprah dan bisnis keluarga Kwee?
Kwee bersaudara terdiri dari Kwee Liong Keng, Kwee Liong Tek, Kwee Liong Seen, dan Kwee Liong Phing. Keempatnya dikenal sebagai miliarder Singapura yang berhasil mengukir ceruk kuat di segmen real estate kelas atas. Dari keempat bersaudara tersebut, Kwee Liong Tek tercatat sebagai figur sentral dengan menjabat Chairman Pontiac Land Group, perusahaan properti yang menjadi kontributor terbesar kekayaan keluarga.
Total kekayaan keluarga Kwee diperkirakan mencapai US$6 miliar atau setara sekitar Rp92,3 triliun. Fondasi kekayaan ini dibangun dari Pontiac Land Group, perusahaan yang didirikan oleh sang ayah, Henry Kwee, seorang pedagang tekstil Tionghoa-Indonesia yang sukses mengembangkan bisnis properti sejak 1958.
Kwee Liong Tek sendiri merupakan ayah dari Evan Kwee, yang pada 2013 menikah dengan Claudia Sondakh. Pernikahan ini menyatukan dua keluarga konglomerat lintas negara—Singapura dan Indonesia—dan mempertemukan dua kelompok bisnis besar di Asia Tenggara.
Sebagai generasi ketiga penerus Pontiac Land Group, Evan Kwee memegang peran strategis dalam membawa bisnis keluarga ke panggung global. Ia dikenal sebagai sosok yang memelopori ekspansi internasional perusahaan, khususnya di segmen perhotelan ultra-mewah.
Saat ini, Pontiac Land Group memiliki berbagai hotel mewah dan menara perkantoran ikonik di sejumlah negara. Salah satu investasi terbesar keluarga Kwee adalah proyek resor terpadu di Maladewa, dengan nilai investasi yang disebut mencapai US$400 juta atau sekitar Rp64,1 triliun. Selain itu, keluarga ini juga memiliki aset prestisius seperti menara mewah rancangan arsitek Prancis Jean Nouvel yang berlokasi di dekat Museum of Modern Art (MoMA), New York.
Dalam struktur bisnis keluarga, Evan Kwee menjabat sebagai Vice Chairman Capella Hotel Group sekaligus Head of Design and Hospitality di Pontiac Land Group. Ia bertanggung jawab mengawasi arah desain, konsep, dan pengembangan produk perhotelan grup tersebut.
Salah satu properti unggulan yang berada di bawah pengawasannya adalah Capella Singapore di Pulau Sentosa, hotel berbintang enam yang dikenal luas di kancah internasional. Properti ini juga mencatat sejarah penting sebagai lokasi KTT 2018 antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un.
Di luar Singapura, Capella Hotels and Resorts mengoperasikan properti di berbagai negara, termasuk Vietnam, Thailand, Indonesia, Tiongkok, dan Jerman. Sejumlah proyek baru juga tengah disiapkan, di antaranya di Chiang Mai, Thailand, dan Sydney, Australia.
Evan Kwee juga berada di balik pengembangan ambisius Kepulauan Fari di Maladewa, proyek terpadu yang mencakup tiga properti yang dikelola oleh Capella Hotels and Resorts, The Ritz-Carlton Hotel Company, serta Patina Hotels & Resorts. Patina sendiri merupakan merek perhotelan baru di bawah Capella yang mengusung konsep keberlanjutan dan kesadaran lingkungan, dengan portofolio yang juga mencakup properti di Bali, Indonesia.
Dengan kombinasi warisan bisnis keluarga, ekspansi global, dan koneksi lintas konglomerasi, keluarga Kwee menegaskan posisinya sebagai salah satu kekuatan utama di industri properti dan hospitality mewah Asia, sekaligus menjembatani jejaring bisnis Singapura dan Indonesia. (P-bwl)