Menaker dorong pramuka kuasai tiga kesiapan kerja hadapi era AI

Giovanni Riung
Selasa, 10 Maret 2026
EKBIS 0 331
3 menit membaca

Menaker Yassierli Bekali Pramuka agar Siap Kerja di Era AI (Humas Kemnaker).

PRIORITAS, 10/3/2026 (Jakarta): Yassierli mengajak generasi muda, khususnya Generasi Z dan Milenial, untuk memperkuat daya saing melalui konsep triple readiness atau tiga kesiapan kerja, yakni penguatan technical skills, soft skills, dan market entry readiness. Pesan tersebut disampaikan saat menutup kegiatan Pesantren Kilat (Sanlat) Ramadan bagi anggota Pramuka Penegak dan Pandega se-Jabodetabek di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Bekasi, Jawa Barat, Minggu (8/3/2026).

Menurut Yassierli, tiga kesiapan tersebut penting dimiliki generasi muda karena dunia kerja tengah menghadapi ketidakpastian global, meningkatnya persaingan internasional, serta disrupsi teknologi yang berkembang pesat, termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

“Menghadapi tiga tantangan tersebut, tidak cukup hanya dengan technical skills dan soft skills. Anak muda harus memiliki market entry readiness atau kesiapan memahami dinamika pasar kerja global,” ujar Yassierli.

Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah cara industri beroperasi. Otomatisasi dan AI kini tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu, tetapi juga membentuk pola kerja baru yang menuntut keterampilan lebih tinggi dari tenaga kerja.

Menurutnya, perubahan tersebut memicu meningkatnya kebutuhan tenaga kerja dengan keterampilan tinggi (high-skilled labor). Perusahaan saat ini membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya mampu mengoperasikan teknologi, tetapi juga mampu merancang, mengelola, serta berkolaborasi dengan sistem berbasis AI.

Dalam kesempatan itu, Yassierli juga menyoroti bahwa delapan dari 11 keterampilan inti yang diperkirakan akan sangat dibutuhkan pada tahun 2030 merupakan human skills, yaitu kemampuan yang menekankan aspek kognitif, sosial, dan pengelolaan diri.

Delapan keterampilan tersebut meliputi kepemimpinan dan pengaruh sosial, berpikir analitis, berpikir kreatif, ketahanan dan fleksibilitas, rasa ingin tahu serta pembelajaran sepanjang hayat, motivasi dan kesadaran diri, empati dan kemampuan mendengarkan aktif, serta manajemen talenta.

Kegiatan Sanlat yang berlangsung pada 7–8 Maret 2026 tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, dan Majelis Ulama Indonesia. Sebanyak 300 peserta dari kalangan Pramuka Penegak dan Pandega mengikuti kegiatan yang tidak hanya berfokus pada pembinaan karakter selama Ramadan, tetapi juga pengenalan berbagai program pelatihan vokasi.

Para peserta diperkenalkan dengan sejumlah bidang pelatihan yang tersedia di BBPVP Bekasi, antara lain refrigerasi, pengelasan, elektronika, pariwisata, hingga teknologi informasi.

“Saya yakin konten Sanlat ini berbeda dengan Sanlat yang lain. Ini adalah Sanlat spesial karena adik-adik diarahkan untuk siap menghadapi triple readiness,” kata Yassierli.

Ia berharap model kolaborasi lintas lembaga seperti ini dapat menjadi contoh bagi institusi pendidikan lainnya dalam menyiapkan generasi muda menghadapi perubahan dunia kerja.

“Kita ingin anggota Pramuka dan pemuda Indonesia siap bersaing di pasar kerja masa depan, baik di tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya. (P-*r/gr)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025