(Courtesy Kompas.com/The Telegraph)PRIORITAS, 4/7/26 (London): Sikap tegas dari pasukan elite Inggris, Special Boat Service (SBS) dengan melarang mobil listrik buatan China memasuki markas mereka di Poole, Dorset, karena khawatir kendaraan tersebut dapat dimanfaatkan untuk kegiatan spionase.
Dalam laporan terbaru yang diterima Beritaprioritas.com, SBS menduga sensor pada mobil listrik modern dapat diakses pemerintah China untuk mengumpulkan informasi mengenai instalasi militer Inggris itu.
Sebagdimana laporan The Telegraph, Jumat (3/7/26) waktu setempat, seorang prajurit yang mengendarai mobil listrik Volvo buatan China sempat ditolak memasuki kompleks SBS pada tahun lalu sebagai langkah pencegahan keamanan mereka.
Sensor kendaraan jadi sumber kekhawatiran
Adapun jekhawatiran itu berpusat pada teknologi yang tertanam di mobil listrik modern, seperti kamera beresolusi tinggi, radar, sensor ultrasonik, hingga sistem Light Detection and Ranging (LiDAR) yang digunakan untuk memetakan lingkungan sekitar, membaca rambu lalu lintas, mengenali marka jalan, dan mendeteksi pejalan kaki di sekitarnya.
Karena itu, para ahli memperingatkan data yang dikumpulkan sensor tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk memetakan pangkalan militer, melacak rutinitas personel, hingga mengetahui jadwal pengerahan pasukan apabila jatuh ke tangan pihak yang tidak berwenang.
Selanjutnya, mereka juga menyoroti Undang-Undang Keamanan Data China yang memungkinkan pemerintah meminta perusahaan menyerahkan data demi kepentingan keamanan nasional mereka.
Karena itu, aturan ini memunculkan kekhawatiran, produsen kendaraan dapat diwajibkan menyerahkan data yang dikumpulkan kendaraannya.
Tidak memiliki perlindungan privasi dan keamanan
Sementara itu, Joe Jarnecki, peneliti bidang siber dan teknologi di Royal United Services Institute, mengatakan, sebagian besar mobil saat ini kemungkinan tidak memiliki perlindungan privasi dan keamanan yang cukup kuat untuk menghadapi upaya negara yang memiliki kewenangan hukum seperti China.
Intelijen Inggris sudah lama peringatkan ancaman
Adapun kekhawatiran tersebut muncul di tengah peringatan berulang dari Badan Intelijen Inggris mengenai aktivitas China tersebut.
Pada Oktober lalu, Kepala Intelijen Inggris untuk Keamanan Domestik MI5, Sir Ken McCallum, menyatakan, aktor negara China merupakan ancaman terhadap keamanan nasional Inggris setiap hari.
Lalu, pada Juni, MI5 juga memperingatkan, mata-mata China berupaya mendekati pegawai pemerintah dan personel militer Inggris melalui situs pencari kerja seperti LinkedIn untuk memperoleh informasi rahasia maupun sensitif negaranya.
Di samping itu, investigasi di Norwegia dan Denmark menemukan bus listrik produksi Yutong dapat dikendalikan dari jarak jauh oleh produsennya.
Atas temuan tersebut mendorong otoritas Inggris melakukan penyelidikan tersendiri pada tahun lalu.
Tidak ada larangan nasional
Pihak Kementerian Pertahanan Inggris (MoD) menegaskan, tidak memiliki kebijakan nasional yang melarang kendaraan listrik memasuki fasilitas militer.
Tetapi , setiap komandan pangkalan memiliki kewenangan menetapkan pembatasan sesuai pertimbangan keamanan.
Lalu, seorang sumber pertahanan mengatakan, sejumlah pangkalan memang telah membatasi kendaraan buatan China, sehingga kendaraan tersebut harus diparkir di luar area fasilitas militernya.
Selain itu, Pemerintah Inggris juga mengakui risiko keamanan tidak hanya berasal dari kendaraan buatan China semata. Seluruh kendaraan modern yang memiliki fitur konektivitas dinilai berpotensi dieksploitasi oleh negara asing maupun pelaku kejahatan siber.
Sebab itu, MoD bersama sejumlah kementerian dan lembaga keamanan tengah menyusun langkah mitigasi terhadap risiko tersebut. Panduan terbaru bagi personel militer bahkan mengimbau mereka untuk tidak membicarakan informasi sensitif saat berada di dalam kendaraan apa pun karena percakapan dikhawatirkan dapat direkam secara diam-diam.
Di pihak lain, Volvo yang dimiliki Zhejiang Geely Holding Group menegaskan, perusahaan memproses data pribadi sesuai hukum yang berlaku dan tidak akan menyerahkan informasi kepada negara asing mana pun.
Juga, Kedutaan Besar China di London juga membantah seluruh tuduhan tersebut.
Juru bicaranya menyatakan, sebagaimana Kompas.com melansir, klaim dimana mobil listrik China digunakan untuk spionase sama sekali tidak berdasar dan Inggris diminta memberikan lingkungan bisnis yang adil serta tidak diskriminatif bagi perusahaan-perusahaan China di sana. (P-*/se)