

Di sisi lain, Seskab Letkol Teddy Indra Wijaya menyatakan kerusakan lingkungan turut memperparah kondisi bencana.

“Penyebab bencana ini jadi perhatian juga dan selain cuaca ekstrem. Tentunya ada faktor kerusakan lingkungan yang memperparah bencana,” kata Teddy.
Menko PMK Pratikno menambahkan pemerintah menelusuri dugaan gelondongan kayu yang terseret arus banjir.
“Saat ini satgas penertiban kawasan hutan sudah turun tangan, menelusuri dugaan gelondongan kayu yang banyak terbawa arus banjir,” ujar Pratikno.

Data terbaru BNPB juga mencatat kerusakan fasilitas dan permukiman warga. Sekitar 3.600 rumah rusak berat, 2.100 rusak sedang, dan 3.700 rusak ringan.
Sebanyak 42,5 persen fasilitas pendidikan terdampak, 1,18 persen fasilitas kesehatan rusak, 16,97 persen tempat peribadatan rusak, dan 39,34 persen jembatan mengalami kerusakan.
Hingga kini, pemerintah terus memprioritaskan evakuasi, distribusi bantuan, dan pemulihan infrastruktur agar korban banjir dan longsor di Sumatera mendapatkan pelayanan yang cepat dan memadai. (P-Khalied M)

