PRIORITAS, 9/11/25 (Jakarta): Banyak perempuan percaya terlalu sering makan daging merah atau olahan seperti sosis bisa memicu kanker payudara. Padahal, hubungan antara konsumsi daging dan kanker payudara tidak sesederhana itu.
Menurut General Practitioner Breast Cancer Care Alliance MRCCC Siloam, dr. Rosary, konsumsi daging bukan penyebab langsung kanker payudara, melainkan berhubungan dengan risiko lain seperti obesitas dan gangguan hormon.
“Mungkin kalau daging itu kaitannya dengan obesitas. Jadi apakah itu akan langsung berpengaruh ke terjadinya suatu kanker, itu tidak berhubungan langsung,” ujar dr. Rosary dalam Health Talk Langkah Nyata Lawan Kanker Payudara: Dari Edukasi ke Aksi yang digelar Siloam Hospitals secara daring, Kamis (6/11/25).
Kaitan antara daging dan kanker lebih pada efek terhadap berat badan. Daging berlemak tinggi yang dikonsumsi berlebihan bisa memicu obesitas, yang menjadi salah satu pemicu utama kanker payudara pada perempuan.
“Namun, bukan cuma konsumsi daging, tapi obesitas. Balik lagi ke obesitas, karena enam puluh persen kanker payudara pada perempuan itu berhubungan erat dengan hormonal estrogen dan progesteron,” kata dr. Rosary.
Kelebihan berat badan menyebabkan lemak tubuh meningkat. Lemak ini memicu produksi hormon estrogen berlebih, yang berperan penting dalam pertumbuhan sel payudara.
dr. Rosary menjelaskan, hormon estrogen tidak hanya diproduksi oleh indung telur, tapi juga oleh sel-sel lemak. Artinya, semakin banyak lemak tubuh, semakin tinggi pula kadar estrogen dalam tubuh seseorang.
“Sedangkan obesitas itu sel lemak. Sel lemak kita selain dari indung telur yang menghasilkan estrogen, sel lemak tubuh itu juga menghasilkan estrogen,” jelasnya.
Peningkatan kadar estrogen ini bisa mempercepat pertumbuhan sel di jaringan payudara dan berpotensi memicu kanker dalam jangka panjang.
Selain kadar lemak, ia menyoroti bahaya lain dari daging olahan dan makanan berpengawet. Bahan kimia dan pengawet dalam makanan tersebut bisa menimbulkan oksidasi di dalam tubuh, yang perlahan dapat merusak sel.
“Sehingga mungkin kaitannya adalah pemakan daging kemudian pengawet, karena pengawet oksidannya tinggi, artinya dia bisa menyebabkan mutasi sel secara tidak langsung,” tambahnya.
Proses oksidasi yang terus-menerus dapat menyebabkan mutasi genetik dan meningkatkan risiko kanker. Karena itu, konsumsi makanan berpengawet sebaiknya dikurangi.
dr. Rosary menekankan bahwa risiko kanker payudara tidak ditentukan dari satu jenis makanan. Pola makan seimbang, berat badan ideal, dan aktivitas fisik rutin justru menjadi kunci pencegahan yang efektif.
“Kalau daging, makan makanan tidak bergizi, pola hidup tidak sehat itu akan memengaruhi obesitas. Kaitannya dari obesitas,” ujarnya.
Konsumsi daging dalam porsi wajar tidak berbahaya, asalkan disertai gaya hidup sehat, olahraga rutin, dan pemeriksaan payudara berkala. Hingga kini, belum ada bukti ilmiah yang membuktikan daging merah secara langsung menyebabkan kanker payudara.
Namun, pola makan tinggi lemak dan pengawet dapat meningkatkan kadar estrogen yang memicu kanker. Karena itu, bijak mengatur konsumsi daging penting untuk menjaga keseimbangan tubuh dan mencegah risiko kanker payudara. (P-Khalied M)








