Kibarkan bendera merah putih 14 Februari di Sulut, Mayjen TNI Rano Tilaar mengapresiasi Gubernur Yulius Selvanus

Herling Tumbel
Sabtu, 28 Februari 2026
4 menit membaca

PRIORITAS, 28/2/26 (Magelang, Jateng): Gubernur Akademi Militer (Akmil) Mayjen TNI Rano Tilaar dalam kapasitas sebagai generasi muda Sulawesi Utara, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Mayjen TNI (Purn.) Yulius Selvanus. Apresiasi tersebut terkait langkah terobosan strategis Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) itu dalam menghidupkan kembali momentum bersejarah Peristiwa Heroik Merah Putih 14 Februari 1946 di Manado.

Seperti diberitakan sebelumnya, pertama kali dalam sejarah di Sulut, peristiwa heriok Merah Putih 14 Februari 1946 diperingati secara istimewa melalui upacara yang dipimpin langsung Gubernur. Upacara dilakukan di Lapangan KONI Sario, Manado, tepat pada 14 Februari 2026, bertepatan dengan peringatan 80 tahun peringatan peristiwa bersejarah tersebut dengan tema “Bhakti Kami Demi Pertiwi, dari Sulawesi Utara untuk Nusantara”.

Upacara tersebut turut dihadiri Ketua TP PKK Sulut Anik Yulius Selvanus, para bupati dan wali kota se-Sulut, unsur Forkopimda Sulut, TNI-Polri, ASN, atlet, pelajar, mahasiswa, tokoh masyarakat, serta keluarga pejuang Merah Putih.

Usai upacara, kegiatan dilanjutkan dengan berbagai pertunjukan olahraga dan seni budaya, seperti beladiri wushu, muaythai, karate, taekwondo, pencak silat Militer, kabasaran massal, maengket massal, masamper massal, kolintang, musik bambu, hingga drama kolosal yang menggambarkan heroisme para pejuang Merah Putih.

Tak hanya upacara, Gubernur Yulius Selvanus juga mewajibkan masyarakat Sulut mengibarkam bendera merah putih pada tanggal 14 Februari 2026, melalui Surat Edaran (SE) Nomor 100.3.4/26.687 tentang Pengibaran Bendera Merah Putih dalam rangka Peringatan Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946. SE tersebut ditujukan kepada para Bupati/Wakikota se-Sulut untuk diteruskan kepada seluruh masyarakat Sulut.

Selain itu, , berbagai kegiatan turut memeriahkan peringatan tersebut, mulai dari event “Merah Putih Panahan Sulawesi Utara Open” hingga pembagian bunga dan cokelat kepada masyarakat sebagai simbol cinta tanah air yang berlandaskan nilai kemanusiaan.

Gubernur Sulut Yulius Selvanus diarak para “pejuang” drama kolosal dalam peringatan “80 Tahun Peristiwa Heroik Merah Putih 14 Februari 1946” di Manado, Sabtu (14/2/26). (Ist.)

Momentum refleksi sejarah

Rano Tilaar mengatakan, langkah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut menggelar peringatan secara besar-besaran bukan sekadar kinerja administratif sebagai kepala daerah, melainkan upaya visioner dalam memperkuat identitas sejarah dan nasionalisme masyarakat Sulawesi Utara.

“Puji Tuhan, sejak kepemimpinan Gubernur Sulut Yulius Selvanus, peringatan Peristiwa Heroik Merah Putih 14 Februari 1946 dilaksanakan secara besar-besaran di Sulawesi Utara. Ini bukan sekadar seremoni, melainkan momentum refleksi sejarah yang sangat penting, khususnya bagi generasi muda,” ujar Rano Tilaar di Akmil Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (28/2/26), sebagaimana dilansir dari gatranews.id.

Rano menilai, penyelenggaraan peringatan pada 14 Februari 2026 menjadi lompatan maju dalam menegaskan kembali posisi historis Sulawesi Utara dalam perjuangan kemerdekaan bangsa.

Peristiwa heroik yang terjadi di Manado itu, kata dia, merupakan respons nyata masyarakat Sulawesi Utara terhadap Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.

“Peristiwa heroik di Manado menjadi bukti autentik bahwa semangat kemerdekaan bergelora kuat di tanah Minahasa,” tambahnya.

Rano menegaskan, penguatan kembali narasi sejarah melalui peringatan tersebut sekaligus menepis stigma lama yang kerap menyudutkan masyarakat Minahasa sebagai pihak yang seolah-olah pro terhadap kolonialisme Belanda.

“Momentum ini menepis stigma lama yang menyudutkan orang Minahasa. Peristiwa heroik yang telah diperingati selama 80 tahun ini adalah bukti nyata bahwa Minahasa bukan antek Belanda, melainkan bagian penting dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia,” tegasnya.

Rano berharap, ke depan peringatan Peristiwa Heroik Merah Putih 14 Februari 1946 tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan. Ia mendorong agar momentum tersebut dikemas sebagai ruang edukasi sejarah yang berkelanjutan dan bermakna, khususnya bagi generasi muda.

Menurut Jenderal Rano Tilaar, nilai perjuangan dan patriotisme harus lebih ditonjolkan agar peringatan tersebut tidak kalah gaung oleh perayaan lain, seperti Hari Valentine, yang jatuh pada tanggal yang sama.

“Peringatan ini harus menjadi pengingat perjuangan bangsa dan sarana menanamkan nasionalisme, sehingga semangat kebangsaan tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat,” kata Rano.

Ia berharap, dengan semangat kebangsaan yang terus digelorakan, peringatan Peristiwa Heroik Merah Putih 14 Februari 1946 menjadi simbol kebangkitan memori sejarah sekaligus peneguhan jati diri Sulawesi Utara dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. (P-*/ht)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025