Hal itu disampaikan Wakil Menteri Kesehatan RI Prof. Dante Saksono Harbuwono saat menghadiri kunjungan lapangan tematik dan media briefing “Mengejar Anak Zero Dose di Kota Bandung Tahun 2026” di UPTD Pelatihan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Selasa (12/5/2026).
Menurut Dante, jumlah anak zero dose di Jawa Barat sebelumnya mencapai sekitar 120 ribu kasus pada 2024. Namun angka tersebut berhasil ditekan menjadi sekitar 67 ribu pada 2025.
“Dalam satu tahun sudah bisa teratasi sekitar 40 ribu anak zero dose. Ini luar biasa dan bisa menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia,” ujar Dante.
Ia mengatakan penguatan Posyandu dan Puskesmas menjadi strategi utama dalam menjangkau anak-anak yang belum memperoleh imunisasi dasar. Saat ini Indonesia memiliki sekitar 300 ribu Posyandu yang tersebar hingga tingkat wilayah terkecil.
Menurutnya, Posyandu memiliki peran penting dalam mendata bayi, melakukan edukasi kepada orang tua, serta memastikan imunisasi dasar lengkap diterima anak sejak dini.
“Kalau hanya mengandalkan Puskesmas yang jumlahnya sekitar 10 ribu, tentu tidak akan cukup menjangkau seluruh masyarakat. Posyandu menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan,” katanya.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan Pemerintah Kota Bandung terus melakukan pendekatan langsung ke masyarakat sejak September 2025 melalui program kewilayahan dan penguatan kader Posyandu.
Ia menyebut fenomena zero dose bukan sekadar persoalan angka statistik, melainkan berkaitan langsung dengan masa depan anak-anak.
“Di balik istilah zero dose ada masa depan anak-anak yang harus dijamin kesehatannya,” ujar Farhan.
Farhan juga menyoroti tantangan kepadatan penduduk dan persoalan kesehatan lingkungan di Kota Bandung. Dengan jumlah penduduk mencapai 2,6 juta jiwa di wilayah sekitar 170 kilometer persegi, pelayanan kesehatan harus dilakukan secara intensif dan terintegrasi.
Selain imunisasi, kegiatan media briefing turut membahas sejumlah isu kesehatan lain seperti penanganan tuberkulosis, HIV, kesehatan jiwa, hingga kewaspadaan terhadap hantavirus.
Prof. Dante menjelaskan hantavirus berbeda dengan Covid-19 karena penularannya berkaitan dengan paparan tikus dan lingkungan yang terkontaminasi, terutama setelah banjir.
“Hantavirus tidak mudah menjadi pandemi seperti Covid-19 karena ada reservoir atau perantaranya, yaitu tikus,” jelasnya.
Pemerintah berharap penguatan imunisasi dan pelayanan kesehatan primer di Kota Bandung dapat menjadi model nasional dalam membangun sistem kesehatan masyarakat yang lebih kuat, inklusif, dan responsif terhadap berbagai ancaman penyakit. (P-Gio R)