
Kapal Rusia tenggelam di laut Mediterinia diduga bawa reaktor nuklir Korut.(Ilustrasi/AI)PRIORITAS, 14/5/26 (Jakarta): Kapal kargo Rusia bernama Ursa Major menjadi sorotan dunia internasional setelah tenggelam secara misterius di Laut Mediterania dekat pantai Spanyol pada 2024 lalu. Kapal tersebut diduga membawa komponen reaktor nuklir yang disebut-sebut akan dikirim ke Korea Utara.

Kasus tenggelamnya kapal itu kembali ramai dibahas setelah investigasi sejumlah media internasional, termasuk CNN, mengungkap berbagai fakta mencurigakan di balik insiden tersebut. Mulai dari ledakan misterius, dugaan penggunaan torpedo canggih, hingga aktivitas pesawat pengintai nuklir Amerika Serikat di lokasi karamnya kapal.
Ursa Major dilaporkan tenggelam pada 23 Desember 2024 sekitar 60 mil dari pantai tenggara Spanyol, kawasan yang berada dekat jalur strategis negara-negara anggota NATO.
Kapal berbendera Rusia itu berlayar dari St. Petersburg menuju Vladivostok. Namun, investigasi belakangan mengungkap adanya dugaan misi rahasia di balik pelayaran tersebut.

Menurut sejumlah laporan, kapal itu mengalami beberapa ledakan sebelum akhirnya karam di dasar Laut Mediterania dengan kedalaman lebih dari 2.500 meter. Dua awak kapal dilaporkan tewas dalam insiden tersebut.
Kecurigaan terbesar muncul setelah kapten kapal Rusia disebut mengakui kepada penyelidik Spanyol bahwa Ursa Major membawa “komponen untuk dua reaktor nuklir yang mirip dengan yang digunakan di kapal selam.”
Pernyataan itu kemudian dikonfirmasi dalam laporan pemerintah Spanyol yang dirilis setelah mendapat tekanan dari anggota parlemen oposisi. Namun, belum dipastikan apakah komponen tersebut mengandung bahan bakar nuklir aktif atau tidak.
Laporan investigasi CNN bahkan menyebut pengiriman itu kemungkinan terkait upaya Rusia membantu peningkatan teknologi militer dan nuklir Korea Utara, di tengah hubungan Moskow–Pyongyang yang semakin erat sejak perang Ukraina berlangsung.
Kapal tersebut diketahui berlayar hanya beberapa bulan setelah pemimpin Kim Jong-un mengirim pasukan untuk membantu Rusia dalam konflik melawan Ukraina.
Dokumen manifes kapal disebut hanya mencantumkan muatan berupa dua derek besar, ratusan kontainer kosong, dan penutup lubang got atau manhole cover.
Namun, penyelidik menilai terdapat kejanggalan besar karena beberapa kontainer berukuran tidak biasa dan pengamanan kapal dilakukan sangat ketat, termasuk pengawalan unsur militer Rusia.
Hal itu memunculkan dugaan bahwa muatan sebenarnya disembunyikan untuk menghindari pantauan internasional.
Salah satu teori paling mengejutkan dalam kasus ini adalah dugaan bahwa kapal tersebut dihantam torpedo canggih.
Menurut sumber yang mengetahui penyelidikan Spanyol, kerusakan lambung kapal menunjukkan indikasi serangan menggunakan torpedo superkavitasi jenis Barracuda, senjata bawah laut berkecepatan tinggi yang dimiliki beberapa negara besar, termasuk Amerika Serikat dan Rusia.
Media-media internasional berspekulasi bahwa operasi itu kemungkinan merupakan intervensi rahasia Barat untuk mencegah transfer teknologi nuklir Rusia ke Korea Utara.
Meski demikian, hingga kini belum ada bukti resmi yang mengonfirmasi keterlibatan NATO maupun militer Barat dalam tenggelamnya kapal tersebut.
Pemerintah Rusia sendiri menyebut insiden itu sebagai “aksi terorisme,” namun tidak menjelaskan pihak yang dituduh bertanggung jawab.
Misteri semakin dalam setelah muncul laporan mengenai aktivitas militer intensif di sekitar lokasi bangkai kapal.
Data penerbangan publik menunjukkan pesawat pengintai nuklir milik Amerika Serikat sempat terbang di atas lokasi karamnya Ursa Major sebanyak dua kali dalam setahun terakhir.
Selain itu, kapal riset dan kapal mata-mata Rusia juga disebut mendatangi lokasi bangkai kapal beberapa hari setelah insiden. Bahkan, sumber penyelidikan Spanyol mengklaim terjadi beberapa ledakan tambahan di dasar laut setelah kunjungan kapal Rusia tersebut.
Aktivitas itu memunculkan spekulasi bahwa ada pihak yang berusaha menghilangkan jejak atau mengamankan material sensitif dari bangkai kapal.
Hingga kini, pemerintah Rusia maupun pemerintah Spanyol belum memberikan penjelasan rinci mengenai hasil investigasi resmi.
Spanyol hanya mengakui adanya penyelidikan terhadap kemungkinan keberadaan komponen reaktor nuklir di kapal tersebut. Sementara Rusia cenderung menutup rapat detail muatan dan penyebab tenggelamnya Ursa Major.
Minimnya informasi resmi membuat teori konspirasi dan spekulasi geopolitik terus berkembang, terutama karena insiden itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan global akibat perang Ukraina dan isu proliferasi nuklir Korea Utara.
Kasus Ursa Major memicu kekhawatiran internasional karena menyangkut kemungkinan transfer teknologi nuklir strategis ke Korea Utara, negara yang selama ini mendapat sanksi internasional terkait program nuklir dan rudalnya.
Apabila dugaan tersebut benar, maka insiden itu dapat menjadi salah satu operasi pencegahan proliferasi nuklir paling sensitif dalam beberapa tahun terakhir.
Namun hingga saat ini, belum ada bukti publik yang benar-benar memastikan isi muatan kapal maupun siapa pihak yang bertanggung jawab atas tenggelamnya Ursa Major.
Misteri kapal Rusia di Laut Mediterania pun masih menyisakan banyak pertanyaan besar yang belum terjawab.(P-sm)

