Jejak harmoni di Buru: Vihara Cetiya Tri Dharma, saksi sejarah dan toleransi Karimun

Johanes Christiaan
Minggu, 21 Desember 2025
DAERAH 0 368
3 menit membaca

PRIORITAS, 21/12/2025 (Karimun): Di bibir pantai Kecamatan Buru, Kabupaten Karimun, berdiri tenang sebuah bangunan tua berwarna merah terang. Ombak Selat Malaka berkejaran tak jauh dari halamannya, sementara perahu-perahu nelayan lalu lalang menuju Pelabuhan Masjid Pulau Buru. Di tempat inilah Vihara Cetiya Tri Dharma berdiri, menjadi saksi bisu perjalanan sejarah dan harmoni antarumat beragama di Kepulauan Riau.


Kabupaten Karimun sendiri memiliki posisi strategis. Wilayahnya berada di jalur perdagangan dunia Selat Malaka dan Singapura, berbatasan langsung dengan Singapura dan Semenanjung Malaysia di utara, serta Batam di timur. Statusnya sebagai Free Trade Zone (FTZ) ikut mendorong pesatnya perkembangan ekonomi dan arus manusia lintas negara.

Karimun adalah kabupaten kepulauan dengan 250 pulau, namun hanya 57 yang berpenghuni. Dua pulau terbesar, Pulau Karimun dan Pulau Kundur, menjadi pusat kehidupan masyarakat. Ibu kotanya berada di Tanjung Balai Karimun.

Di tengah lanskap geografis dan sejarah yang panjang itulah Vihara Cetiya Tri Dharma tumbuh. Menurut catatan sejarah, vihara ini dibangun sekitar tahun 1832, menjadikannya berusia lebih dari satu abad. Hingga kini, bangunan utamanya masih dipertahankan dalam bentuk asli. Perawatan hanya sebatas pengecatan ulang, terutama di bagian depan pintu utama. Daun pintu dan kusen tetap dibiarkan seperti sediakala, seolah menolak lupa pada masa lalu.


Keberadaan vihara ini tak bisa dilepaskan dari jejak panjang pengaruh Buddha di Karimun. Hingga abad ke-13, wilayah ini berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya. Prasasti di Desa Pasir Panjang menjadi bukti bahwa Karimun telah lama dilalui kapal-kapal dagang. Pengaruh Islam kemudian masuk melalui Kerajaan Malaka pada awal abad ke-15, sebelum Karimun berada di bawah Kesultanan Riau-Lingga pada abad ke-18.

Menariknya, hanya berjarak tak jauh dari vihara ini berdiri Masjid Raja Haji Abdul Ghani, masjid tertua di Karimun yang dibangun pada 1823. Arsitekturnya dirancang oleh perajin Tionghoa yang juga membangun kelenteng di sekitarnya. Menara masjid berbentuk silinder dengan puncak menyerupai tempat pembakaran hio, menjadi simbol akulturasi budaya yang unik.

Selain vihara dan masjid, Kecamatan Buru juga menyimpan kisah legenda melalui Makam Si Badang, tokoh hulubalang sakti Kesultanan Riau-Lingga. Makamnya yang berukuran sangat panjang kerap diziarahi, tak hanya oleh warga lokal, tetapi juga wisatawan dari Singapura dan Malaysia.

Karimun juga dianugerahi alam yang memesona, seperti Air Terjun Pongkar di kaki Gunung Jantan, serta kekayaan budaya melalui Tari Dangkong, tarian rakyat yang berakar dari pengaruh Portugis abad ke-15 dan hingga kini masih hidup dalam acara adat dan pernikahan.

Di antara semua itu, Vihara Cetiya Tri Dharma tetap berdiri sederhana, menghadap laut, memeluk sejarah, dan menyimpan pesan kuat tentang toleransi. Ia bukan sekadar tempat ibadah, tetapi penanda bahwa Karimun sejak lama adalah ruang perjumpaan budaya, agama, dan peradaban. (P-Jeff K)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan